|
Gita Teman Minum part. III
|
Di teras depan kami kembali ngobrol dan bercanda sambil menikmati mansion house yang masih tersisa, reaksi alkoholnya jadi lebih terasa nyaman berkat udara malam di ruangan terbuka ini serta view yang lebih luas daripada pemandangan di dalam kamar tadi. Dari teras rumah Eric di seberang jalan terdengar gelak tawa mbak-mbak yang ngekost di situ yang sepertinya juga sedang asik menikmati malam. Hingga akhirnya pembicaraan kami kembali terfokus ke pembahasan Gita, yang kurang lebih kayak ginilah dialognya seingat aku
Eric :”Ini gimana statusnya si Gita ini Nam? kamu keep dia jadi pacar kamu atau gimana?
Pertanyaan Eric bukan sekedar pertanyaan biasa, ada beberapa siasat yang telah disiapkannya dibalik pertanyaannya itu dan jawabanku yang akan menjadi penentu siasat mana yang akan dijalankannya. Bila aku menjawab untuk keep Gita jadi pacarku, maka Eric bersama Della akan bersekutu dengan Gita menutup semua akses kenyamanan yang bisa kulakukan dengan banyak cewek. Mereka akan berusaha untuk menjaga supaya aku tetap setia sama Gita, Eric akan menutup aksesku untuk menikmati cewek-cewek yang ngekost di tempatnya, bahkan memanfaatkan cewek-cewek itu untuk jadi informan yang melaporkan kepadanya apabila aku melakukan aktifitas nakal di tempat mereka masing-masing bekerja. Della juga akan menutup diri tidak lagi mau berbagi kenyamanan tubuhnya denganku, serta menutup akses kenyamanan yang bisa kudapatkan dari teman-teman ceweknya. kerugian besar yang akan kutanggung dengan jangka waktu yang tidak dapat aku prediksi, kembali seperti kondisi dulu ketika Grace masih bersamaku.
Dan bila aku menjawab untuk tidak menjadikan Gita pacarku, maka nasib Gita akan sama seperti nasib cewek-cewek yang sering kami ajak party, dia akan menjadi bulan-bulanan yang bebas diakses oleh aku, Eric dan juga Della beserta teman-teman tongkrongan lainnya, bahkan oleh si Abah bila dia kepingin juga. Aku dan Eric sudah sering melakukan negoisasi seperti malam ini, baik itu teman cewek yang aku bawa maupun yang Eric atau Della bawa untuk bergabung memeriahkan party kami. Dan kesepakatannya selalu sama, cewek-cewek tersebut kami sepakati untuk bisa shareable buat kesenangan kami. Namun kali ini aku bimbang untuk menjawab, terbersit rasa enggan dan tidak tega untuk membiarkan teman-temanku ikut menikmati kenyamanan yang bisa diberikan oleh Gita. Bahkan pikiranku merasa ingin sekali untuk memiliki Gita, menjadikan dia pendampingku, menggantikan Grace yang sudah lama tidak lagi bisa mendampingi aku. Namun masih ada keraguan dihatiku, apakah Gita layak?
Aku masih berkutat dengan pikiranku, lalu teralihkan oleh panggilan telfon di HP dari nomor yang tidak dikenal dengan empat digit belakang semuanya angka sembilan, nomor yang sama yang sudah berkali-kali menelfon sejak tadi sore. Sambil menekan tombol volume di HP aku berusaha untuk mematikan suara deringnya, aku kembali menuangkan mansion house ke gelasku dan segera menghabiskannya.
Aku :”Aku belum tahu Ric, masih terlalu awal. Aku nggak mau buru-buru lagi ngeclaim cewek buat jadi pacarku semenjak kejadian Mia kemaren.”
Aku :”Udah bela-belain ngeclaim awal-awal, belakangan baru ketahuan bangsatnya dia?”
Eric :”Yah memang nggak gampang nyari cewek yang bisa setia kayak Grace.”
Aku :”Aku belum bisa kasi jawaban, aku minta waktu buat cari tahu. Biar lebih pasti”
Eric :”Aku tahu kamu suka dengan Gita, terlihat jelas dari tatapan mata dan gerak tubuhmu serta caramu memperlakukan Gita."
Eric :"Gini aja Nam, biar malam ini aku sama Della yang cari tahu. Kita kasi kesempatan buat Gita menentukan tempatnya”
Aku :”Oke, berarti semua terserah Gita, kalau dia ngasi ya kalian lanjut, tapi kalau nggak jangan dipaksa.”
Eric :”Selama ini kita nggak pernah maksa orang lain buat ikut nyaman di party kita kan?”
Aku :”Abah mau ikut party juga?
Timpalku mencoba mencairkan suasana dengan melemparkan pertanyaan ke si Abah, dan dijawab dengan sombong oleh si Abah “She’s not my type!” membuat kami serentak ngakak menertawakan gayanya si Abah. Setelah kami menghabiskan minuman akhirnya Eric kembali menuju ke kamar menyusul Della dan Gita, kubiarkan saja dia berlalu dengan rasa penasaran bakal seperti apa kejadiannya nanti. Setelah memberikan sejumlah uang ke si Abah untuk belanja keperluan beberapa hari ke depan, aku pamit pulang karena senin pagi nanti ada banyak agenda yang harus kukerjakan.
Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan Gita, sambil membayangkan apa yang sedang mereka bertiga kerjakan setelah aku tinggalkan. Yang jelas semua tergantung keputusan Gita, dan aku percaya Eric sahabat baikku itu tetap menjaga janjinya. Eric dan aku sudah lama melewati kejadian dan pengalaman yang aneh-aneh, namun di luar kebiasaan buruk kami yang sudah jauh meninggalkan jalan yang benar ini, belum pernah sekalipun kami menjadi orang yang ingkar janji. Karena bagi kami menjaga janji itu sama seperti menjaga harga diri kami. Namun sejujurnya kami tidak suka berjanji, bagi kami menjaga janji itu tidak mudah, bakal banyak menghabiskan waktu, tenaga, biaya, yang pasti akan sangat merepotkan hidup kami yang sudah cukup bahagia kami nikmati dengan kondisi seperti sekarang ini. Makanya kami jarang sekali mau berjanji, dan selalu mencari kelemahan dari janji yang sewaktu-waktu harus terpaksa kami buat.
Hingga Akhirnya aku sampai di rumah, kulihat mobil Anya sudah mengambil posisi di tempat parkir salah satu mobilku di garasi halaman belakang rumah yang berada tepat di bawah kamarku. Setelah memarkirkan mobil, HPku kembali berdering mendapat panggilan kembali dari nomor yang sama dengan empat digit belakang angka sembilan, kembali kuacuhkan panggilan itu dan bergegas naik ke kamarku. Aku memasuki kamarku mendapati Anya dan adikku sudah tertidur di sofa di depan televisi kamarku dalam keadaan yang masih menyala memutar film yang mungkin tadinya mereka tonton bersama. Kumatikan televisi dan aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu malam lalu aku langsung membuka pakaian dan mencoba untuk mandi, mendinginkan kepalaku yang terlalu banyak memikirkan Gita serta membayangkan kejadian yang sedang mereka kerjakan bertiga di rumah si Abah.
Kulihat kelebat bayangan di balik pintu kaca toilet, lalu kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu itu. Sambil mengenakan handuk aku membuka pintu dan mendapati Anya sedang berdiri dengan tubuh indahnya yang hanya terbalut pakaian tidur berbahan tipis, sehingga terlihat tonjolan puting payudaranya dari balik pakaian itu dan hanya mengenakan celana dalam tipis berwarna putih senada dengan pakaiannya.
Anya :”Kamu kenapa lama bener di dalam? coli ya?
Buru-buru dia memasuki toilet kamarku, sambil dengan sengaja membenturkan badan kami saat berpapasan di pintu, menekankan payudaranya ke bagian perut dan lenganku membiarkan tubuhku merasakan rasa empuk dan kenyal payudaranya. Sambil duduk di kloset dia lalu kembali memanggil namaku hingga membuat aku kembali berpaling memandang ke arahnya
Anya :”Tadi ada yang nelfon kamu, suara cewek nanyain kamu. Aku bilang aja kamu udah tidur, kecapean habis nemanin aku. Nggak sopan juga nelfon jam segini!”
Kutinggalkan saja Anya yang masih berbicara, beralih menuju sofa di depan TV untuk memasangkan selimut serta memperbaiki posisi tidur adikku. Lalu aku berbaring di di ranjang empukku dengan hanya mengenakan celana boxer yang kutemukan tergeletak di atas ranjangku. Kulihat Anya berjalan keluar dari toilet sambil masih sibuk memperbaiki posisi celana dalamnya lalu berjalan ke arah sekitar sofa tempat adikku tertidur, seperti sedang kasak kusuk mencari sesuatu. Lalu Anya mendatangi aku sambil kali ini menenteng whiskey botol gepeng dan menyodorkannya ke aku
Anya :”Mohon diterima pemberian yang seadanya ini sebagai niat tulus permintaan maafku”
Perempuan gila ini selalu tahu cara untuk mengambil hatiku, aku langsung menyambut whiskey itu dan segera menenggaknya, sambil kulihat dia mulai merangkak naik ke ranjangku dan duduk menempatkan tubuh indahnya di sisiku
Anya :”Itu tadi siapa cewek yang nelfon kamu? Korban pelampiasan kamu ya?”
Aku :"Kamu kan tahu aku tidak pernah mau membicarakan perihal orang lain. kalau sedang bersama kamu, ya aku fokus meladeni kamu."
Sambil tersenyum dia mengambil botol di tanganku, ikut menenggak menikmati whiskey sambil mengerang menahan rasa membara minuman itu merayap turun di tenggorokannya. Anya lalu berbaring di sampingku sambil kembali membujukku, memaksa aku untuk memaafkan kelakuannya siang tadi. Aku tidak menjawab, aku hanya menarik tubuhnya untuk berbaring menyandarkan kepalanya di dadaku dan merangkul tubuhnya dengan tangan kiriku. Lalu dia bercerita beberapa bulan belakangan dia sibuk merawat dan menjaga papanya yang dirawat di rumah sakit, dia kewalahan memanage waktu untuk bolak balik rumah sakit dan mengurus perkuliahannya. Dia menggambarkan perasaan rindu dan keinginannya untuk bermesraan denganku, namun terkendala dengan tanggung jawab mengurus papanya. Untungnya beberapa hari ini kakaknya yang bekerja di negara tetangga bisa cuti pulang ke sini dan barulah dia bisa sedikit relax bergantian merawat papanya dan bisa menyempatkan waktu untuk memanjakan dirinya. Malam itu kudengarkan dia bercerita sambil kami saling berbagi menikmati whiskey pemberiannya, hingga akhirnya kami tertidur saling berpelukan.
Paginya aku terbangun mendengar suara bising yang bergema di kamarku, Anya masih tertidur lelap dengan wajah ayunya direbahkan di sampingku. Lalu aku berpaling ke sofa di depan tempat tidurku, di situ kulihat adikku sedang berbincang dengan Sari ART di rumah kami yang sedang membersihkan karpet dengan vacuum cleaner yang mengeluarkan suara bising itu. Aku beranjak dari ranjang lalu mendatangi mereka, dan langsung pura-pura memarahi Sari sambil beberapa kali menepuk pantat empuknya
Aku :”Kamu ini resek banget bikin rusuh bangunin aku pagi-pagi gini!”
Sari :”Pagi apa mas, ini udah jam tujuh lewat! Kalau di kampung orang-orang udah pada keringatan bekerja jam segini.”
Akupun segera mandi untuk bergegas berangkat ke kampus mengumpulkan tugas terstruktur yang telah kukerjakan beberapa hari belakangan ini. Setibanya di kampus, ketika aku sedang antri menunggu asisten dosenku menanda tangani blangko lembar asistensi tugas, aku mendapat telfon dari kak Andre yang menjadi kepala manajerial di perusahaan tempat aku bekerja, dia meminta aku untuk menggantikannya menghadiri undangan pertemuan asosiasi pengusaha konstruksi di salah satu hotel di kotaku, serta memintaku mengirimkan email progress kemajuan dan rekap kebutuhan material yang menjadi tugasku kepadanya. Bang Andre adalah orang lapangan sejati, dia jarang mau menghadiri pertemuan atau rapat yang banyak omong bertele-tele. Dia lebih memilih berpanas-panasan di lokasi proyek atau menghabiskan waktu bekerja di direksi keet. Seperti saat ini dia lebih memilih untuk menugaskan aku menggantikannya menghadiri undangan pertemuan, dan menggantikan aku mengurusi pekerjaan di site konstruksi.
Setibanya di hotel tempat pertemuan tersebut diadakan, aku bergegas naik ke lantai ballroom tempat pertemuan itu dan mengisi buku kehadiran peserta sambil sedikit mencandai si mbak yang bertugas menjadi receptionist penjaga buku itu. Dari informasinya si mbak tadi mengatakan sekarang sedang sesi coffee break jadi aku nggak bakal ketahuan kalau datang terlambat. Lalu aku beranjak ke coffee shop sambil celingukan mencari teman buat kuajak ngobrol, akhirnya mataku tertuju pada satu table dengan pemandangan indah, kulihat Gina sedang duduk sendirian di table itu memandang ke arahku dengan sebelah tangannya sedang menempelkan HP ke telinganya. Tak lama kemudian HPku berdering mendapat panggilan dari nomor dengan empat digit belakang angka sembilan yang kerap selalu menelfonku. Lalu kulihat Gina melambai ke arahku, lalu tangannya beberapa kali menunjuk ke arah HP yang sedang dipegangnya memberi isyarat agar aku menerima panggilan telefon itu.
Gina :”Sini gabung ngopi sama aku!”
Terdengar suara Gina memintaku untuk bergabung ke tablenya di HPku, ternyata nomor HP dengan empat digit angka sembilan yang belakangan sering menelfonku adalah nomornya. Lalu kututup panggilan telfon itu dan berpaling menuangkan kopi yang telah disediakan di meja bundar bersama dengan susunan kue cemilan. Lalu aku menyusul untuk duduk bersama Gina, dan serentak semua mata para undangan pertemuan di ruangan itu langsung memandang ke arah kami. Aku mengenal hampir sebagian besar undangan yang hadir pagi itu, kebanyakan dari mereka merupakan kakak seniorku, ada juga beberapa alumni dari universitas lain serta beberapa pelaksana konstruksi dari kalangan pengusaha. Dan kulihat di meja pojok ada sekelompok kakak seniorku sedang tersenyum bangga sambil bertepuk tangan tanpa mengeluarkan suara ke arahku, lalu kubalas dengan melambaikan tangan kearah mereka. Gina menyambutku dengan akrab, dia mengabarkan bahwa hari ini dia diminta untuk menjadi host di pertemuan itu dan mengatakan agar aku bersyukur bakal seharian bisa memandang kecantikannya. Gina juga menceritakan dia sengaja meminjam HPku ketika bertemu di toko minuman kemarin, supaya dia bisa mendapatkan nomorku dengan melakukan panggilan ke HPnya karena dia pengen sekali ngobrol denganku. Belum puas rasanya aku memandang kecantikan serta mendengar tutur kata dengan suara lembutnya namun sesi coffee break ini sudah berakhir dan kami harus beralih kembali ke ballroom tempat pertemuan diselenggarakan.
Hingga berakhirnya seluruh materi dipaparkan pandangan mataku selalu menikmati kecantikan Gina yang berada di meja depan, hingga tak ada satupun materi yang kuperdulikan dan kuingat siang itu, tatapanku selalu tertuju ke arah Gina namun pikiranku masih bimbang memikirkan nasib Gita yang tadi malam kutinggalkan bersama Eric dan Della. Setelah sesi foto bersama, aku buru-buru bersalaman dengan para pemateri dan para undangan lainnya, berniat untuk segera pulang. Sepanjang pertemuan tadi aku selalu penasaran membayangkan apa yang terjadi dengan Gita, Eric dan Della malam tadi, dan berusaha untuk segera mendatangi dan mendapatkan informasi langsung dari mereka. Baru saja aku keluar dari lift kulihat Gina sedang berbicara dengan receptionist di lobby hotel, kubiarkan saja dia dengan kesibukannya dan aku tidak menyapanya karena memang dia juga tidak memandang kehadiranku dan aku langsung keluar menuju ke halaman parkir mencari mobilku. Di parkiran ternyata mobilku terparkir dengan posisi lantang terpapar panas matahari, lalu kunyalakan AC untuk mendinginkan udara di dalam mobilku sambil aku berteduh di bawah canopy di pinggir bangunan hotel dan menikmati sebatang rokok. Hingga kemudian HPku kembali berdering mendapat panggilan kembali dari Gina
Gina :”Hai kamu kemana? Aku masih pengen ngobrol banyak sama kamu, Nam!”
Aku :”Iya sorry Na aku nggak sempat pamitan sama kamu tadi, ini aku udah di parkiran mau berangkat masih ada urusan lain.”
Gina :”Sayang sekali kita nggak bisa ngobrol lagi ya, padahal masih ada banyak yang mau aku ceritakan sama kamu."
Gina :"Besok pagi aku mesti berangkat ke kota lain memenuhi agendaku, nggak tau juga kapan sempatnya bisa pulang lagi ke sini”
Gina terus saja membujuk aku untuk kembali menemuinya, dan akhirnya akupun mulai luluh, kumatikan kembali mesin mobilku dan menyusulnya kembali ke dalam. Di coffee shop tempat kami pertama bertemu tadi, aku kembali menemui Gina yang sudah menungguku sambil dia sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya. Aku berpapasan dengan kak Dony senior 6 tahun di atasku yang langsung mengajakku berjabat tangan dan berbisik
Kak Dony :”Dasar setan, main pepet aja tiap ada barang bagus!”
Aku hanya bisa tersenyum saat membalas jabat tangannya, dia lalu mendorong aku ke arah table tempat Gina yang sedang duduk dan menunggu aku. Kulihat di table sekitar masih ada beberapa seniorku yang juga bersantai di situ, lalu aku melambaikan tangan menyapa mereka dan langsung duduk disambut dengan perbincangan hangat oleh Gina. Tanpa disengaja sesekali Gina menepuk pundak dan bahuku ketika dia tertawa saat bercanda mengenang kelakuan kami semasa sekolah dulu, suasana menjadi sangat akrab, Gina yang belakangan kabarnya berubah menjadi kaku dan selalu menjaga sikap sekarang telah kembali menjadi seperti Gina yang akrab sebagai teman sekelasku dulu. Hingga akhirnya canda tawa kami disela dengan kehadiran Rudi adik tingkatku di kampus yang kebetulan juga hadir memenuhi undangan di pertemuan tadi. Rudi menyapa kami dan meminta untuk dikenalkan dengan Gina, setelah kuperkenalkan ternyata Rudi belum juga beranjak pergi, dia malah ikut duduk bersama kami dan memulai percakapan dengan Gina.
Rudi ini teman sekumpulanku juga, tapi sempat ada masalah sama aku waktu kejadian satu bulan sebelumnya saat kami party bersama di room karaoke di salah satu hotel ternama di kotaku, masalah yang terjadi karena aku tidak sengaja membawa pulang cewek bawaan Rudi yang malam itu datang ke room karaoke bersama dia. Masalahnya berawal di basement waktu aku baru menyalakan mobilku pas mau pulang, lalu tiba-tiba ada cewek yang nyelonong masuk dan langsung berbaring di kursi belakang mobil Galant yang kukendarai malam itu. Awalnya aku pikir cewek yang ada di kursi belakangku itu si Della, yang memang tertib ketika mabuk dia tidak pernah mau mengendarai mobil dan selalu memilih untuk ikut di mobilku. Aku yang malam itu udah mabuk berat memilih untuk langsung mengantarkan cewek yang kukira si Della itu ke rumahnya, setibanya di rumah Della aku yang sudah sempoyongan ini akhinya meminta bantuan ART di rumah Della untuk membantuku mengangkatnya masuk ke kamar. Memang saat itu si ART sempat kebingungan, namun dia tetap menuruti setelah kupaksa dan kuberikan sejumlah uang yang kurogoh dari kantong celanaku
Pas udah di dalam kamar, karena udah mabuk aku yang memang sudah terbiasa berbagi kenyamanan dengan Della mulai ngerasa kepengen ML waktu itu sama dia, ditambah dengan posisi tubuhnya waktu itu yang sedang tertelungkup mengenakan terusan ketat pendek hanya sebatas sebagian pahanya saja, yang saat ini sudah terangkat dan tersingkap hingga celana dalam dan bentuk pantatnya bisa terlihat dari posisi aku berdiri, membuat penisku bereaksi untuk ikut berdiri ereksi merespon pemandangan itu. Langsung saja kubuka celana dalamnya, lalu kuposisikan tubuhnya yang masih tertelungkup dengan melipat kedua kakinya agar berlutut dan menempatkan tubuhnya ke pinggir ranjang memposisikan pantatnya untuk menungging ke arahku dan langsung saja kupenetrasi penisku ke dalam vaginanya. Belum lama rasanya proses penetrasi itu kunikmati lalu tiba-tiba Eric dan Della masuk ke kamar mengagetkan dan membuat bingung aku yang sedari tadi merasa sedang melakukan penetrasi ke vagina Della. Mereka juga kaget melihat aku dan akhirnya menertawakan aku setelah kujelaskan semuanya. Si cewek yang awalnya kukira Della ini ternyata bernama Siska, cewek bawaannya si Rudi ketika datang ke room karaoke. Pas udah bangun karena kami paksa untuk sadar dari tidurnya, dia ngaku sengaja nyeruduk masuk ke mobilku sewaktu pulang tadi, karena sejak awal memang udah merasa illfeel sama si Rudi dan sudah eneg mendengar omongan Rudi yang selalu membanggakan diri dan menceritakan kehebatannya saja. Tanpa perlu membujuk akhirnya malah si Siskanya yang meminta aku untuk kembali ML dengan dia dan akhirnya kita berempat lanjut party lagi di kamar Della semacam swinger-swingeran gitulah.
Di table coffe shop ini Rudi kembali mulai menyombongkan dirinya di depan aku dan Gina, aku berusaha meladeni pembicaraannya, namun kulihat Gina mulai jengah dan mengemasi perlengkapannya lantas langsung menyela pembicaraan Rudi dengan berpamitan menggandeng tanganku untuk pergi ke arah lift. Kujabat tangan Rudi dan berpamitan seadanya sembari aku mengikuti Gina yang masih tetap menggandeng tangan kiriku. Di dalam lift kulihat Gina malah menekan tombol lantai enam bukannya ke lantai bawah, membuat aku bingung dan memandang ke arahnya
Gina :”Aku udah tau bakalan ada yang annoying, makanya tadi aku turun ke bawah buat pesan kamar supaya bisa lebih private kita ngobrol berdua."
Gina :"Kamu bukannya nungguin malah nyelonong pergi pas ketemu di lobby tadi.”
Aku hanya bisa tersenyum menyadari rencana yang telah dibuat Gina, namun pikiranku masih saja teringat sama Gita dan berkecamuknya perasaanku memikirkan kejadian mereka bertiga di rumah si Abah. Setibanya di kamar, Gina mulai melucuti pakaian formilnya, menyisakan tank top dan shortpant ketat yang sekarang menutupi tubuh indahnya. Lalu menelfon ke receptionist untuk mengantarkan bir ke kamar ini, sambil menanyakan berapa jumlah botol yang mau dipesan kepadaku. Aku merasa sungkan, kulambaikan tanganku membuat kode untuk mencegah dia memesannya, namun Gina malah menganggap kelima jariku yang kulambaikan itu sebagai jawabanku dan segera mengatakan ke receptionist di telfon untuk mengantarkan lima botol bir ke kamar dan menutup telfon lalu kembali berbincang denganku.
Gina :”Nam, tadi makasih banyak ya udah bantu melancarkan skenario spontan yang kubuat untuk menghindari gangguan om-om genit yang ngebet sama aku."
Aku :”hah?”
Gina lalu bercerita bahwa sejak mereka sedang gladi menyiapkan acara pertemuan di malam sebelumnya ada salah seorang om pengurus asosiasi yang selalu menggodanya, dia merasa risih dan berusaha menghindari si om itu. Kemudian saat pertama dia melihat aku hadir di coffe shop lantas tercetus idenya buat menanfaatkan situasi untuk berdekatan dengan aku supaya si om itu urung mendekatinya. Makanya dia buru-buru memanggil aku untuk menemaninya, supaya si om genit itu tidak bisa mendatangi dan menggoda dia di sesi coffee break tadi.
Aku :”Ah bangsat lu Na! kupikir kamu beneran mesra-mesra keganjenan gitu sama aku. Ternyata cuma akal-akalan kamu!"
Aku :"Padahal tadi aku udah merasa keren banget diliatin banyak orang waktu kamu mesra-mesra sama aku!”
Gina :”wkakaka, sorry Nam, aku memanfaatkan kamu…..."
Gina :"Tapi damage kamu memang masih bisa diandalkan, terbukti si om genit itu langsung melipir mundur, kalah muka, kalah body, kalah keren sama kamu.”
Aku :”Mulai dah muji-muji, nggak mempan Na! Kesel aku sama kamu!”
Gina :”wkakaka, Tapi serius aku cerita soal damage kamu."
Gina :"Buktinya kulihat beberapa kelompok mbak-mbak di acara tadi juga sering menatap ke arah kamu sepanjang acara."
Gina :"Kamunya aja yang nggak nyadar, seharian fokus amat memandang ke depan."
Aku :”hehehe damage kamu tuh yang lebih parah, seharian tadi aku fokus ngeliatin kamu sama ngebayangin berbuat yang tidak-tidak dengan kamu.”
Setelah itu kamipun mulai bercerita panjang lebar tentang apa yang telah masing-masing kami lalui setelah kami berpisah sejak tamat SMA. Setelah beberapa gelas bir yang ditenggaknya, Gina semakin banyak menceritakan masalah pribadinya, perihal kesuciannya yang direnggut Leo dengan cara yang dianggapnya kurang berkenan dan tidak berkelas, hingga berpisahnya dia dengan Leo pacarnya semasa SMA dulu yang disebabkan karena si Leo kerap selingkuh, dan Gina sudah tidak tahan lambat laun perlakuan Leo semakin kasar kepadanya. Lalu bercerita tentang pahit manisnya proses dia merintis karir modelling dan beberapa kali terjebak dengan agency yang pura-pura cari bakat padahal ujung-ujungnya ngajak ML hingga akhirnya kini dia terikat kontrak dengan agency dan sekaligus menjadi sugar daddynya.
Aku :”Iya dulu aku mikirnya perlu modal besar buat bisa dekat sama kamu Na, ditambah lagi setelah kamu dekat dengan Leo yang udah tajir dari lahir.”
Aku :”Kita-kita yang rakyat jelata ini mana berani mau dekat dan coba-coba pacaran sama kamu Na."
Aku :"Aku cuma berani membayangkan kamu jalan bareng aku, pelukan sama aku, ciuman sama aku..."
Aku :"Kadang adalah juga sempat membayangkan yang enak-enak sama kamu, hehehe…”
Gina :”wkakak brengksek kamu. Eh tau nggak kamu, sejak pertama masuk sekolah aku tuh udah suka banget lihat kamu...."
Gina :"Rasanya senang banget tiap ngobrol sama kamu, meskipun kamu ngomongnya selalu ceplas ceplos nggak pakai otak...."
Gina :"Kamu nggak tau kan bencinya aku menjalani hari di sekolah kalau kamu bolos dan boringnya aku bila kamu tidak ada di belakang bangku aku.”
Gina :”Dulu aku sering marah karena pakaian seragammu berantakan, namun itu cuma alasan agar aku selalu bisa menikmati memegangi tubuhmu...."
Gina :"Setiap aku berusaha membantu merapikan pakaianmu, merasakan menyentuh tubuhmu...."
Gina :"Serta menikmati wangi parfum di tubuhmu yang sampai sekarang masih terngiang di ingatanku."
Gina :”Aku selalu merinding dan berdebar tiap melihat ke arah sekitar resliting celanamu...."
Gina :" Yang tampak menonjol tertekan oleh sesuatu yang membuat penasaran dari balik celanamu...."
Gina :"Ingin sekali aku merabakan tanganku untuk merasakannya, tapi selalu kuurungkan karena malu.”
Aku :”Ribet amat kamu Na, coba dari dulu kamu pegang, mungkin kamu nggak bakal bisa lulus SMA...."
Aku :"Udah keburu beranak karena tiap hari pasti ku ML dengan semangat pantang menyerah.”
Kemudian kami kembali tertawa bercanda menghayalkan kelakuan yang bakal kami kerjakan bila dulu kami berpacaran semasa masih satu kelas di SMA. Aku kemudian mencoba berdiri dari kursi tempat dudukku untuk membuka botol terakhir yang ada di buffet, lalu Gina yang sedari tadi berbaring di ranjang beranjak masuk ke toilet. Iya kalau ngebir pasti gini deritanya, mabuknya nggak dapat-dapat, dapatnya cuma bolak balik pipis ke toilet. Lalu Gina kembali keluar dengan mengenakan handuk bentuk kimono dan kembali ngobrol denganku menanyakan kabar Resti adik kelas kami yang dulu kurekrut jadi vokalis di bandku semasa SMA. Menanyakan tentang hubunganku sama Resti dan memaksa aku menjawab pertanyaan bodoh lainnya
Gina :”Si Resti itu udah pernah kamu apa-apain belum?”
Gina :"Secara kulihat dulu kalian kan gayanya anak band banget, terus si Resti itu kan nyebelin suka kegatelan ngelendot dempetan sama kamu terus.”
Aku :”Nggak pernah aku apa-apain dia Na, nggak bisa!"
Aku :"Soalnya bapaknya sama kakak-kakaknya juga kenal dan akrab sama aku, ya makanya udah kayak adek aku sendiri bawaannya."
Aku menenggak habis bir dari botol terakhir yang tersisa, lalu aku beranjak ke toilet meninggalkan Gina yang masih terbaring di ranjang. Di dalam toilet aku melihat tank top, shortpant serta dalaman Gina sudah tergantung di hanger yang menempel di pintu toilet. Sambil pipis aku jadi kembali membayangkan keindahan tubuh Gina yang sudah tidak mengenakan apa-apa lagi di balik handuk kimono yang dipakainya, yang sejak dulu kerap menjadi bahan imajinasiku dan tak sadar imajinasi itu mulai membuat penisku berangsur mengalami ereksi.
Setelah selesai mencuci penis kesayanganku aku kembali keluar untuk berbincang dengan Gina, namun aku terperangah karena saat kupandang ke arah ranjang aku melihat Gina sedang tertelungkup sudah dalam kedaan telanjang, dan handuk kimono yang dikenakannya tadi nya sudah terletak di kursi. Akhirnya hari itu aku bisa menyaksikan secara langsung keindahan tubuh Gina, tubuh cewek cantik kandidat putri kecantikan yang selalu menjadi bahan imajinasiku semasa SMA dulu. Aku tak sempat bergerak dan berkata-kata, mataku terus menggerayangi sekujur tubuh indah itu, setiap jengkal kulit putih mulusnya, setiap lekukan tubuhnya, keindahan dua kakinya, serta gundukan indah bibir vagina yang mulus dan bersih di pangkal kedua kaki indahnya itu.
Gina :”Kalau sekarang kamu mau ngapa-ngapain aku nggak?"
Gina :"Ke sini deh, aku pingin merasakan kembali debar jantungku seperti waktu aku memegangi tubuhmu saat merapikan pakaian seragammu dulu.”
Kalimat Gina membuyarkan kenyamananku menikmati pemandangan indah tubuhnya, aku segera menuruti permintaannya lalu mulai melangkah mendekati sisi ranjang sambil berusaha melepas kancing kemeja yang kukenakan. Gina merubah posisinya menjadi duduk bersimpuh di ranjang menyambut aku dan langsung melepaskan celanaku. Dengan cekatan lentik jarinya berhasil melepas ikat pinggang, kancing serta resliting celanaku lalu dengan cepat memaksa celanaku untuk segera melorot turun mendahului aku yang belum selesai melepas kemejaku. Gina membelaikan tangannya merasakan setiap jengkal permukaan tubuhku, hingga kemudian belaian itu beralih menyentuh mengikuti lekukan penisku yang berangsur mulai mengeras mengalami ereksi dari balik CDku. Digerakkannya jemari yang dihiasi dengan kuku yang terawat rapi itu merasakan bentuk penisku dari ujung hingga ke pangkal dan meraba testisku. Rasa nyaman dan sensasi perasaan menyenangkan bercampur aduk membuat degup jantungku berdetak kencang memompa aliran darah mendesak penisku untuk semakin keras mengalami ereksi.
Lalu kurasakan sensasi rasa geli yang menggelitik hangat pada penisku, ternyata Gina sudah menjilati sebagian batang penisku yang sudah nongol keluar melewati karet CD yang kukenakan. Kenyamanan itu semakin menambah debar jantungku ketika aku menyadari saat ini Gina gadis yang kupuja sebagai model cantik semasa kami SMA sedang menjilati kepala penisku. Gina bergerak menggeser letak tubuhnya sambil dia menurunkan celana dalamku hingga akhirnya penisku yang sudah sesak karena ereksi ini terpampang mengarah tepat ke wajahnya. Sesaat dia terdiam dan hanya memandangi penisku, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan serta mengocok pelan penisku sembari dia mendongak menatap wajahku
Gina :”Kenapa nggak dari dulu kamu liatin ini ke aku setan!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya terdiam menikmati sensasi pemandangan sosok idola berwajah cantik yang kupuja semasa SMA dulu sedang memandangi dan memainkan penisku. Aku hanya mampu membelai rambut serta wajah cantiknya dengan tanganku, hingga Gina kemudian mulai menciumi sekujur penisku, menyentuhkan batang penisku ke wajahnya, dan sebelah tangannya meraba sekujur tubuhku yang keras mengejang menikmati sensasi nyaman yang diberikannya.
Gina :”Akhirnya aku bisa merasakan bagian tubuhmu yang selalu kuhayalkan ini Nam”
Lalu kurasakan sensasi rasa basah dan hangat yang diberikan oleh lidah dan rongga mulut Gina yang sekarang mulai mengulum dan melumat penisku. Tubuhku mendadak merinding dan kurasakan kulit kepala serta akar rambutku menggelenyar merespon kenyamanan ini. Tangan Gina yang menggerayangi tubuhku lalu mulai beralih membelai serta meremas testisku sambil sesekali dia meraba permukaan kedua belah paha yang mengapit penisku. Cukup lama kubiarkan Gina memuaskan dirinya memblowjob penisku, karena pikiranku juga kerap masih memikirkan Gita dan kejadian yang dialaminya bertiga bersama Eric dan Della. Hingga kurasakan penisku terasa semakin sesak dan terlihat urat-urat yang menghiasi batang penisku sudah menonjol merasakan sensasi kenyamanan yang diberikan oleh mulut Gina.
Gina :”Capek ah, udah sekeras ini tapi masih nggak keluar-keluar juga!”
Gina lalu menghentikan blowjobnya pada penisku sambil sesekali masih menggenggam dan mengocok pelan penisku yang telah basah oleh salivanya. Lalu dia berbaring ke ranjang, memposisikan tubuhnya mengangkang lebar dengan sebelah kaki bertekuk membuat aku merasa sangat terpanggil untuk mendekat dan menjejakkan penisku ke vaginanya yang terpampang dengan indah di hadapanku.
Aku merayap turun ke ranjang, mendekatkan wajahku ke arah selangkangannya. Aroma harum dari tubuhnya terasa nyaman terhirup oleh hidungku. Aku mulai menjejakkan lidahku merasakan sekujur permukaan bibir vagina Gina. Tercium scent aroma manis seperti aroma roti ketika lidahku mulai menjilati mulut rongga vaginanya yang terasa basah oleh pelumas yang berangsur keluar di situ. Kedua tangan Gina meraba dan meremas rambutku sambil dia mendesah menikmati sensasi sentuhan lidah yang kulakukan pada vaginanya. Cukup lama aku menjilati dan merasakan kenyamanan bibir vagina indah Gina yang selalu menjadi bahan imajinasiku di masa SMA dulu, tubuh Gina kini kerap bergetar dan meliuk tak tentu arah merespon jilatan lidahku. Gerak tubuh dan suara desahannya membuat aku tak mampu lagi menunda untuk merasakan kenyamanan yang bisa diberikan oleh rongga vaginanya.
Aku segera duduk di depan tubuhnya sambil mengarahkan penisku agar bisa bersentuhan dengan bibir vaginanya yang tampak indah dan mulus tanpa sehelai bulu yang menempel di permukaan kulitnya. Aku mulai meraba permukaan bibir vaginanya dengan kepala penisku dan merasakan setiap kenyamanan dari sentuhan itu. Kuresapi kenyamanan yang dirasakan kepala penisku disetiap sentuhan di sekujur bibir vagina mulus Gina gadis idola bahan imajinasiku. Perlahan kugesekkan kepala penisku sambil menekan di antara kedua bibir labianya yang tampak mulai mengeras dan kurasakan kepala penisku menyentuh permukaan yang licin karena telah basah oleh campuran salivaku serta cairan pelumas dari vaginanya. Kudengar suara desahan lembut dari bibir indah yang menghiasi wajah cantiknya saat kembali kumainkan kepala penisku menjalari sekujur bagian bibir vaginanya hingga lambat laun rasa licin itu semakin terasa nyaman karena telah merata melumasi seluruh permukaan vaginanya.
Gina semakin keras mendesah, tangannya mulai bergerak menggapai lalu ikut memainkan penisku merayapi sekujur permukaan vaginanya. Aku melepaskan genggamanku pada penisku, kubiarkan tangan Gina bebas memainkan penisku untuk bersentuhan dengan bibir vaginanya dan mengalihkan tanganku untuk meraba merasakan permukaan sekujur paha dan betisnya yang halus mulus. Kuangkat sebelah kakinya ke atas, supaya bisa mendekat ke wajahku, lalu kuciumi kulit betis indahnya yang mulus sambil tetap membelai sekujur kakinya yang terasa hangat dan lembut itu. Kurasakan sensasi rasa nyaman memadati kepala penisku ketika aku menyadari Gina sedang menekan kepala penisku untuk sedikit masuk ke mulut rongga vaginanya lalu membuat gerakan seperti mencongkel dengan menggunakan penisku di mulut rongga vaginanya. Gina mulai menarik batang penisku untuk semakin maju menekan kepala penisku mendesak masuk ke dalam vaginanya, aku membantu dengan menggerakkan pinggangku menekan maju penisku. perlahan kugerakkan pinggangku maju mundur hingga akhirnya penisku dapat masuk sempurna ke dalam vagina indah Gina yang menyambut penetrasi itu dengan memberikan sensasi remasan hangat penuh kenyamanan. Gina meraung mengeluarkan suara teriakan yang tertahan sembari mengangkat kepalanya mencoba memandang ke arah vaginanya yang telah terisi penuh oleh penisku, kulihat perut rampingnya mengeras mengejangkan otot perutnya, dan kedua tangannya meremas dan menekankan kukunya ke permukaan pahaku yang berada di kedua sisi pinggulnya.
Lalu perlahan mulai kugerakkan pinggangku agar penisku bisa bergerak maju mundur menikmati setiap sisi permukaan rongga vagina nyaman Gina. Dari posisiku yang sedang duduk menjejakkan lututku ini aku menikmati pemandangan indah wajah cantik Gina, model cantik teman sekelasku semasa SMA dulu yang selalu menjadi bahan imajinasiku. Yang sedang menatap wajahku dengan ekspresi yang sepertinya sangat menikmati kenyamanan penetrasi ini sambil nafasnya terengah-engah dan mengeluarkan suara mengerang yang terasa nyaman terdengar di telingaku. Tak pernah aku membayangkan untuk mendapati kenyataan aku bisa menikmati memandang, menyentuh dan bahkan merasakan kenikmatan tubuh indah ini. Kucoba meraba dan meremas payudaranya yang kenyal dihiasi dengan putting merona mengacung ke atas pada kedua payudara itu, kugenggam dengan sepenuh hati merasakan euphoria karena berhasil meraih sesuatu yang mustahil.
Kudengar suara teriakan Gina di setiap pertemuan kedua tubuh kami yang saling beradu, beriringan dengan suara tepukan akibat benturan tubuh kami yang kini sudah kugerakkan pinggangku dengan kecepatan maksimal memompa penetrasi penisku menikmati kenyamanan rongga vaginanya. Tangan Gina meremas kedua belah payudaranya, pinggulnya bergerak-gerak tak tentu arah menikmati kenyamanan penetrasi ini, sekujur rongga vaginanya telah berkedutan berkontraksi meremas penisku. Semakin kurasakan sensasi rasa nyaman menikmati kontraksi vaginanya yang kian bertambah keras meremas merespon tekanan penisku masuk ke dalam vaginanya yang semakin kudorong dengan penuh semangat. Gina lalu berteriak keras mengiringi orgasme yang terjadi pada tubuhnya yang bergetar bergelinjang menikmati sensasi nyaman orgasmenya itu. Kupandangi wajah cantiknya sedang memejamkan mata meresapi kenyamanan itu sembari sesekali teriakannya masih terdengar di sela nafasnya yang ngos-ngosan. Kugerakkan dengan pelan pinggangku memompa penetrasi penisku, mengiringi dia menikmati kenyamanan orgasmenya.
Gina :”ML sama kamu enak banget Nam!”
Sambil terengah dan mendesah Gina mencoba berbicara denganku, mendapat pujian itu aku menjadi bersemangat dan mulai kembali menambah kecepatan gerak pinggangku, suara berdecakan vagina dan suara teriakannya mulai terdengar kembali menghiasi keheningan kamar hotel ini. Sambil kupegangi kedua kaki Gina yang mengangkang kucoba mengarahkan kedua kaki itu untuk saling berdekatan merapatkan kedua belah pahanya hingga kurasakan bagian atas pada rongga vaginanya semakin menebal menekan ke permukaan penisku. lalu kucoba mengarahkan kedua pahanya dengan mendorongnya hingga bertekuk merapat ke payudaranya membuat pinggulnya terangkat dan aku dapat memandang jelas klitoris mengacung ke arah wajahku. Sekujur pangkal penisku sudah dipenuhi dengan cairan berwarna putih dari vaginanya, dan kulihat kain yang menutupi ranjang juga sudah banyak dibasahi oleh cairan yang meleleh dari vaginanya.
Lalu kuarahkan kedua kaki itu kembali ke posisi mengangkang, sambil tetap menggerakkan pinggangku maju mundur lalu tangan kiriku ini mulai jahil menggerayangi dan memainkan klitoris Gina yang terasa kenyal dan nyaman di jariku. Kulihat tangan Gina kembali meremas payudaranya sambil sesekali memainkan putingnya serta ekspresi wajah cantiknya yang tersenyum menikmati sensasi rasa nyaman yang direspon oleh tubuhnya. Tanpa sadar jari kiriku semakin keras kutekankan sambil memainkan klitorisnya membuat pinggulnya mulai berkedutan bergoyang serta rongga vaginanya semakin berkontraksi meremas penisku. Lalu kurasakan sebelah tangan Gina mulai merayap memegangi pangkal penisku sambil membelai kedua belah bibir vaginanya yang telah melar terbuka menyesuaikan lebarnya dengan lingkaran batang penisku. Kedutan kontraksi meremas di dalam vaginanya semakin intens terasa, suara nafas dan erangan Gina semakin keras terdengar. Tangannya yang semula meraba pangkal penisku kini sudah bergeser membantu jariku memainkan klitorisnya serta semakin menambah kecepatan serta tekanan jariku pada klitorisnya. Hingga tak lama kemudian Gina kembali berteriak dengan tubuh bergetar berkedutan sembari menekankan kedua pahanya menjepit pinggangku, orgasme yang kembali dirasakan oleh tubuh Gina dan juga ikut kurasakan kenyamanannya melalui remasan kontraksi rongga vaginanya pada penisku.
Kali ini aku tidak mengurangi kecepatan laju pinggangku memompa penetrasi penisku karena aku terlalu menikmati kenyamanan rongga vaginanya yang mendekap dan meremas sekujur permukaan batang penisku. Nafas Gina terengah-engah tak karuan menikmati orgasme yang terjadi pada tubuhnya ditambah kenyamanan dari gerakan maju mundur penisku yang masih tetap kupompakan ke dalam vaginanya. Setelah beberapa saat aku memompa penisku ke dalam vagina nyaman itu diiringi suara erangan dan teriakan Gina, perlahan rasa nyaman yang menggelitik mulai terasa di sekitar bagian testisku, kecantikan wajah Gina yang sedang terengah-engah serta keindahan tubuhnya yang sedang menggeliat itu semakin menambah rasa nyaman itu untuk mulai merangkak naik merayapi batang penisku. Remasan kontraksi di sekujur rongga vaginanya semakin memaksa rasa nyaman itu untuk semakin naik memadati kepala penisku, hingga akhirnya rasa nyaman itu memuncak dan memuntahkan semua cairan ejakulasi yang terkumpul di penisku ke dalam vagina nyaman Gina dan menambah basah rongga vagina yang sudah banjir oleh banyak cairan dari orgasme Gina itu.
Tubuhku mengeras, mengejang menikmati sensasi nyaman pada ejakulasi di penisku dan rasa nyaman itu kemudian terasa menyebar ke sekujur tubuhku membuat bulu tengkuk dan akar rambut di belakang kepalaku terasa merinding menerima sensasi nyaman itu. Aku kemudian menurunkan badanku untuk berbaring terlentang di samping kiri Gina, gerakanku membuat penetrasi penisku terlepas dari vaginanya, diiringi desahan manjanya ketika kepala penisku baru saja lepas dari mulut rongga vaginanya. Gina lalu bergeser ke dekatku, berbaring miring menghadap ke arahku sambil tangannya memegang pipi kiriku memaksa wajahku untuk menoleh ke kanan menyambut ciuman dari bibir hangatnya. Terasa payudaranya menempel ke otot lengan kananku saat dia semakin merapatkan tubuhnya ke aku, serta kurasakan penisku kembali merasakan sensasi kenyamanan karena ditindih dengan paha kanannya yang diletakkannya di atas tubuhku. Ciuman di bibir Gina terasa nyaman sekali karena bercampur dengan perasaan euphoriaku yang baru saja berhasil menikmati kenyataan dari imajinasi di masa SMAku yang kerap menghayalkan mencumbui gadis cantik sang model yang dulu menjadi teman sekelasku ini.
Gina :”Nam aku bersih-bersih dulu ya, kamu mau ikut nggak?”
Saat aku menyusulnya ke toilet, kulihat dia sedang bercermin di kaca wastafel toilet sambil menghisap rokok, kulihat dia buru-buru membersihkan air matanya ketika dia melihat bayangan tubuhku dari balik cermin.
Aku :”Kamu kenapa Na? kayak sedih baru abis ilang perawan aja.”
Gina :”Aku nggak sedih Nam! Aku malah happy banget bisa ngelakuin sesuatu dengan kemauan aku sendiri, makin happy setelah aku sadar akhirnya bisa merasakan kenyamanan dari kamu cowok yang aku suka dari masa sekolah dulu.”
Sambil bersih-bersih Gina menceritakan tentang kebebasannya yang terbatas semenjak dia ikut di agency om sugar daddynya yang membebaninya dengan schedule yang padat, dan masih banyak cerita sedih lainnya yang sepertinya tidak perlu diceritakan di sini. Sorenya kamipun check out dan Gina meminta aku untuk mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya. Di perjalanan dia meminta aku untuk merahasiakan kejadian di kamar hotel tadi, cukup kami berdua saja yang mengetahui apa yang telah kami rasakan dan mengatakan untuk tidak banyak berharap kepadanya. kami singgah dulu buat makan karena aku kelaparan cuma makan sedikit saja saat sesi lunch di event pertemuan tadi.
Di parkiran tempat makan kesukaanku, aku melihat beberapa mobil teman-temanku. Dan setelah kami masuk kulihat teman-temanku sudah rame nongkrong di tempat makan langganan kami itu, termasuk Eric, Della, Rudi dan Gita. Kuajak Gina bergabung bersama mereka, sambil memperkenalkannya. Setelah berkenalan Gina langsung duduk di sebelah Eric, menanyakan kabarnya dan langsung ngobrol akrab dengan Eric yang memang juga teman sekelas kami semasa SMA. Dan aku memilih duduk di kursi kosong, diantara Gita dan Della sambil iseng mencolek-colek dan menggerayangi tubuh mereka sembari menunggu makanan yang kupesan datang. Gina sesekali memandang ke arahku, melihat kelakuan manja Gita yang kerap bersandar dan memeluk tubuhku. Mungkin Gita sedang membuat statement untuk melindungi penemuan barunya, seperti yang pernah dikatakannya beberapa hari yang lalu.
Setelah kenyang dan lelah bercanda sebagian teman-temanku berencana buat nyoba mobil Della yang baru selesai disetting di trek yang biasa dipakai teman-teman buat mencoba kemampuan mobilnya atau ngedrift dan semacamnya. Sedangkan aku melanjutkan rencana mengantarkan Gina pulang dan Gita meminta untuk ikut menemaniku. Di perjalanan mereka yang sengaja kuminta untuk duduk berdua di kursi belakang tampak akrab berbincang, Gita banyak memuji kecantikan Gina dan meminta advice tentang make up, produk perawatan serta tips menjaga dan merawat tubuh. Gita dengan polosnya mengatakan akan banyak berusaha untuk menjaga kecantikan dan penampilannya demi menjaga agar aku tidak melirik dan berpaling ke cewek lain, entah apakah itu karena kepolosannya atau dia memang sengaja untuk terus membuat statement kedekatannya denganku kepada Gina. Hingga akhirnya kami tiba di rumah orang tua Gina, Aku mengantarkan Gina turun dari mobil dan memayungkannya supaya tidak basah oleh guyuran hujan yang turun mengiringi perjalanan kami sedari tadi. Di teras rumahnya Gina mengatakan kalau nomor yang dipergunakannya untuk menelfonku hanya diaktifkannya bila dia sedang berada di kota ini, dia memintaku untuk tidak pernah melakukan panggilan ke nomornya, cukup dia saja nanti yang menghubungi aku bila next time dia kembali ke kota ini.
Dalam perjalanan selepas meninggalkan rumah Gina, kembali aroma nyaman yang terasa seperti sangat akrab sejak lama di ingatanku yang berasal dari tubuh Gita menyebar tertiup oleh hembusan AC di mobilku. Namun kenyamananku menikmati aroma itu terusik ketika tak lama kemudian aku diinterogasi dengan bermacam-macam pertanyaan oleh Gita yang sebagian pertanyaan itu mungkin kira-kira seperti ini seingatku
Gita :”Tadi sore Rudi banyak cerita tentang kakak sama Gina, katanya kakak mesra-mesraan sama Gina. Dia pacar kamu ya kak? Atau mantan pacar kakak?
Gita melancarkan banyak lagi pertanyaan yang membuat aku tak sempat menjawabnya, aku hanya bisa tertawa menanggapi pertanyaan yang beruntun ditanyakannya kepadaku. Namun Gita tetap memaksa, sambil mencubit dan memukul bahkan menggigit tubuhku memaksa aku untuk menjawab pertanyaannya
Aku :”Aku nggak pernah berani ngajak dia pacaran Gita!"
Aku :"Dulu aku sama Eric terkenal sebagai murid bermasalah, sering bolos, suka berantem, suka ganggu orang, sering kena hukum.”
Aku :”Nggak ada cewek yang mau jadi pacar aku di sekolah dulu, apalagi Gina yang ngetop jadi idola semua orang.”
Aku :”Dulu dia lebih memilih pacaran sama anak baik-baik, murid teladan, anak pengusaha.”
Aku :”Aku sama kawan-kawan lainnya cuma bisa berhayal menjadi pacarnya.”
Aku memilih untuk menjawab pertanyaan Gita dengan kenyataan yang sesuai dengan pikiran dan keadaanku dulu, karena memang aku tidak pandai berbohong. Dan kurasa jawabanku bisa meredam rentetan interogasinya kepadaku di dalam mobil ini.
Gita :”kakak pernah ML sama dia nggak?”
Pertanyaan yang kuharap tidak pernah dilontarkannya itu akhirnya ditanyakannya juga. Cukup lama aku berpikir untuk memberi jawaban kepada Gita, karena tidak ingin berbohong kepada Gita namun aku khawatir dengan dampak yang akan terjadi bila aku menjawab dengan jujur. Hingga akhirnya Gita kembali mencubit dan memukuli tubuhku dan akhirnya....
Aku :”Pernah!”
Pasrah aku menjawab dengan jujur pertanyaan sulit yang dilontarkan Gita kepadaku malam itu, lalu kurasakan hawa dari blower AC mobilku ini semakin dingin menusuk ke tubuhku……
|
| |
| |
Posted on : Sep 25, 2025
|
| |
|
|
|
|
|
|
|