|
Sudah beberapa hari sejak pertemuan dan perkenalan hangat tak terdugaku
dengan gita berlalu, hingga saat ini aku masih bisa mengingat dengan
jelas tentang suara manjanya, candanya, wajah cantiknya, indah tubuhnya
serta aroma khas tubuhnya yang benar-benar memberikan impresi nyaman
yang menyenangkan. Namun aku belum sempat kembali mengunjunginya karena
disibukkan dengan kewajiban menyelesaikan beberapa tugas terstruktur
dari mata kuliah yang kuambil, serta kewajibanku untuk membuat laporan
progress kemajuan kerja serta list kebutuhan material di site konstruksi
tempat aku bekerja. Sejak semester 4 aku sudah mulai diajak oleh
beberapa senior dan alumni kampusku untuk ikut belajar kerja di
perusahaan konstruksi mereka. Mereka merekrut aku bukan karena alasan
nilai atau prestasiku melainkan karena kemampuanku yang dapat dengan
mudah berbaur dengan seseorang atau suatu kelompok yang mereka anggap
bisa berperan penting untuk kelancaran team work dalam pekerjaan mereka.
Itu mungkin alasan professional merekalah, padahal yang aku tahu mereka
mengenal dan mengingatku lantaran aku selalu ready dan available
meladeni dan menemani mereka setiap mereka pengen happy minum-minum
ketika sesekali mereka berkunjung ke kampus.
Siang itu selepas mengantar kedua orangtuaku ke bandara yang hendak
berangkat kembali ke kota tempat papaku bertugas, aku menyempatkan diri
untuk singgah ke toko minuman sembunyi-sembunyi langgananku. Aku
berencana untuk sedikit menikmati me time dengan minuman buat melepas
penat setelah banyak menghabiskan waktu berkutat di depan laptop serta
bolak balik mendata dan memeriksa kondisi real kemajuan pekerjaan serta
persediaan material di site pekerjaanku. Setibanya di toko ternyata aku
bertemu dengan Gina yang sedang memiih minuman, Gina ini dulu adalah
teman sekelas waktu aku SMA, dia merupakan idola di sekolahku dan sempat
menjadi duta provinsiku di event kontes putri-putri kecantikan apalah
gitu aku udah lupa. Dengan postur tubuh dan kecantikannya maka tak heran
bila dia selalu menjadi target tatapan mata para siswa laki-laki di
setiap keberadaannya di sekolah. Banyak teman sekolahku mencoba meraih
hatinya dan di masa itu akhirnya dia dekat dengan temanku Leo, anak
pengusaha yang tampil menjadi cowok idola di sekolahku berkat support
modal dari orang tuanya.
Aku :”Seingatku Leo suka minuman ini Na”
Ucapku sambil mengacungkan botol Vodka ke arahnya membuyarkan momen
ngeblank saling bertatapan mata setelah kami bertegur sapa, Gina lalu
memalingkan pandangannya kembali ke susunan botol minuman di depannya
sambil tertawa, lalu kembali menyibukkan diri memilih minuman. Begitulah
Gina, semenjak dia terpilih menjadi duta putri kecantikan perilakunya
berubah menjadi tidak sehumble dan secatchy dulu ketika kami masih
sekelas, tapi setidaknya dia masih mengingat dan mau menyapaku meski
sekarang penampilanku sudah berambut gondrong dan kulitku juga lebih
taning karena kerap terpapar terik matahari karena pekerjaanku. Setelah
aku beranjak dari kasir dan hendak meninggalkan toko Gina kembail
memanggil namaku dan meminjam HPku yang katanya mau nelfon temannya buat
nanya merk minuman yang hendak dibeli dengan alasan HPnya ketinggalan
di dalam mobil. Di masa kejadian cerita ini, HP belum menjadi gadget
yang tidak bisa terpisahkan dari genggaman tiap orang, karena fasilitas
yang bisa dinikmati dari HP ya cuma nelfon sama smsan doang. Setelah
urusan Gina selesai akupun bergegas pulang karena sudah tak sabar ingin
segera menikmati minuman yang sudah kubeli ini.
Saat tiba di rumah aku agak kesulitan mengarahkan mobil untuk dapat
masuk ke halaman, karena mobil adik perempuanku satu-satunya serta
sebuah mobil yang rasanya tidak asing sedang terparkir dengan posisi
sembarangan. Setelah masuk ke rumah kudapati adikku sedang ngobrol
bersama teman-temannya, dan setelah melihat wajah salah seorang temannya
barulah kusadari bahwa mobil yang tidak asing itu adalah milik Anya,
perempuan gila best friendnya adikku yang kebetulan orang tua Anya itu
juga teman baik papaku sejak mereka remaja. Keakraban Anya dan adikku
juga berdampak positif bagiku, karena setiap weekend ketika Anya
menginap di rumah aku selalu dimanjakan dengan sajian pemandangan
kemolekan tubuh yang dipamerkan Anya, yang seringnya hanya dibalut
pakaian tidur berukuran mini. Bukan hanya sekedar memamerkan keindahan
tubuhnya saja, lambat laun prestasi Anya semakin meningkat ketika mulai
mengikuti kebiasaan adikku yang sering bersandar dan memeluk tubuhku,
lalu mulai memanipulasi memanfaatkan adikku untuk kerap nongkrong dan
tidur bersama di kamarku sehingga bisa lebih leluasa untuk dekat dengan
aku. Hingga akhirnya pada suatu pagi aku tersadar dari tidur mendapati
Anya sedang duduk di atas tubuhku sambil menggoyangkan pinggulnya maju
mundur menindih menekankan vaginanya yang masih mengenakan CD ke atas
penisku, sedangkan di sebelah kulihat adikku masih tertidur lelap dengan
posisi miring menghadap ke arahku. Sejak saat itu terjadilah hubungan
simbiosis untuk mencari kenyamanan satu sama lain antara aku dan Anya.
Baru saja aku masuk ke kamarku setelah menyempatkan diri bercanda dengan
adikku dan teman-temannya, tak lama kemudian HPku mulai berdering,
mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya aku enggan
menerima panggilan itu, biasanya kalau nomor tak dikenal itu seringnya
panggilan dari urusan kerjaan atau apalah yang memusingkan kepala
endingnya nanti. Kubiarkan saja panggilan itu dan aku lebih memilih
untuk menikmati absolut vodka yang baru saja kubeli. Setelah beberapa
kali panggilan yang tak kuhiraukan, akhirnya ada pesan masuk dari nomor
yang sama mengabarkan bahwa nomor itu adalah nomor gita serta memintaku
menelfonnya kembali. Entah kenapa mendadak aku merasa senang sekali dan
dengan bersemangat langsung saja kutelfon dia sembari aku menuangkan
Vodka ke dalam gelas
Gita :”Kakak kenapa sih susah sekali ditelfon? Ndak usah sok artislah ya! Kemana sih udah 2 hari ndak nongol-nongol?”
Gita :“Aku kan bimbang mikirkan kakak, emang kakak ndak mikirkan aku?”
Gita :“Mikirkan mungkin sekarang aku lagi ngidam gara-gara kakak jackpot di dalam”
Gita :“Mikirkan untuk mengulang sukses ML lagi sama aku? Emang ndak kepikiran apa?”
Aku hanya bisa tertawa membalas rentetan pertanyaan gencar yang
dikatakan gita, bukan tertawa karena merasa lucu atas pertanyaan
tersebut, tapi jujur ini tertawa gembira yang spontan keluar begitu
saja.
G :”kak aku sekarang lagi ndak pakai baju nih, lagi dipijitin sama mbak Tika”
G :”Dari kemarin badanku pegal semua, mungkin karena kelamaan duduk dalam bus, ditambah semalaman kena ML sama kamu”
A :”Iya yang aku dengar infonya mbak Tika itu memang kerjaannya Therapist pijat gitu”
A :”Cuma belum ada reviewnya, belum ketahuan bagus apa ndak pijatannya”
Dan percakapan kamipun terus mengalir desilingi candaan sembari aku
sesekali menenggak Vodka yang baru saja kubeli tadi. gita juga
menceritakan sensasi dari pijatan dan sentuhan tangan mbak Tika di
tubuhnya secara mendetail, serta sesekali dia mendesah dan mengatakan
merasa geli ketika tubuhnya disentuh pada bagian tertentu hingga akupun
jadi ikut menghayalkan dan membayangkan tubuh indah gita. Karena mulai
terbawa suasana penuturan gita di telfon aku mulai merasakan rasa sesak
pada penisku yang sedang berada dalam posisi yang tidak benar dibalik
celanaku, lalu aku berdiri dan berusaha membuka pakaian.
Namun baru saja aku melepas ikat pinggangku tiba-tiba Anya memeluk aku
dari belakang, berusaha menguping percakapan di telfon sambil tangannya
mulai melepas kancing dan resliting celanaku lalu tangannya mulai
merayap ke balik CD menggerayangi penisku. Aku merasa enggan setelah
sudah hampir 6 bulan lamanya kami tidak pernah berhubungan, lalu aku
berusaha melepaskan pelukannya, mencoba memutar tubuhku supaya bisa
mendorong Anya menjauh dari aku dengan sebelah tangan, sementara
tanganku yang satu lagi masih tetap memegang HP meladeni pembicaraan
gita. Tapi Anya perempuan gila ini tidak mudah menyerah, dia yang masih
menggenggam penisku lantas berlutut dan langsung melumat penisku,
sementara di telfon gita memberitahukan bahwa saat ini mbak Tika sedang
fokus melakukan massage pada payudara serta putingnya, dengan diselingi
suara suara mendesah menceritakan dengan rinci perlakuan mbak Tika serta
sensasi rasa yang diterima oleh payudaranya. Jantungku berdegup kencang
menyimak dan mendengarkan penuturan gita tersebut, kurasakan kenyamanan
aliran darah ke penisku yang berangsur mulai ereksi karena terpancing
oleh penuturan gita, dan kenyamanan itu terasa semakin menjadi-jadi
akibat lumatan dan hisapan nyaman oleh mulut Anya yang sudah sangat
akrab dengan penisku.
Menyadari penisku yang semakin kencang mengalami ereksi, Anya semakin
menggila mengulum serta mengocok penisku bahkan sesekali kurasakan
sensasi sesak yang nyaman pada kepala penisku karena sedotan yang
dilakukan oleh mulutnya. Aku berusaha tetap tenang menerima cobaan ini,
berusaha menjaga nada suaraku tetap datar ketika berbicara dengan gita
yang mulai intens mendesah dan mengerang sembari menceritakan prosesi
massage pada payudaranya itu. Merasakan kenyamanan yang mendera di
penisku kucoba mengalihkan pandangan kearah Anya yang sedang melumat
penisku lalu mataku terpesona oleh payudaranya yang mengkal ketika dia
baru saja selesai melepaskan kemeja dan bra yang dipakainya, payudara
Anya semakin menambah sensasi perasaan yang memaksa aliran darahku
bertambah deras mengalir memadati ereksi pada penisku.
Di HP gita menceritakan bila saat ini mbak Tika sedang memassage di
bagian kedua belah pahanya. Kembali gita menceritakan dengan rinci
perlahan tangan mbak Tika mulai memijat naik kearah pangkal pahanya dan
sesekali tangan itu mulai menyerempet memijat vaginanya dan bahkan
sekarang mulai menyentuh dan meraba bagian bibir vagina dan klitoris
gita serta menggambarkan sensasi yang dirasakannya sembari semakin
intens mendesah dan mengerang merespon pijatan tersebut. Mendadak Anya
menyudahi aksinya melumat penisku, lalu berdiri sambil melepas celana
pendeknya lalu menarik penisku hingga aku mengikuti langkahnya yang maju
mengatur posisi tubuhnya menungging bertumpu dengan lututnya
membelakangi aku di atas sofa yang ada di depan TV kamarku. Tanpa sempat
melepas dan hanya menyibak bagian tengah CDnya ke samping, tangan kanan
Anya sekarang mengarahkan penisku ke sela pada belahan pantatnya. Anya
kemudian mendorong mundur pantatnya sehingga penisku terhimpit diantara
perutku dan belahan pantatnya, perlahan dia menggerakkan pinggulnya
membuat penisku bergesekan dengan belahan pantatnya yang merayap naik
turun merasakan setiap permukaan lembut belahan pantatnya itu. Dia
kembali meraih penisku menggosokkan kepala penisku ke bibir vaginanya
yang telah basah lalu kepala penisku diarahkannya untuk bergerak dari
bibir vaginanya bergesekan merasakan kerutan relief labianya hingga
merayap menyentuh klitorisnya. Sensasi rasa nyaman di kepala penisku
semakin meningkat ketika berangsur-angsur gesekan penisku itu mulai
membuat sekujur permukaan vagina dan klitorisnya semakin basah terlumasi
oleh cairan vaginanya, lalu tangan Anya memainkan kepala penisku dan
menekan ke klitoris yang terasa sudah mengeras menambah sensasi rasa
nyaman yang kurasakan pada kepala penisku.
Suara desahan serta erangan gita di HP semakin menambah kencang aliran
darah yang terpompa menuju penisku yang saat ini sedang merasakan rasa
nyaman bergesekan dengan vagina dan klitoris Anya. Sejenak Anya
menghentikan kegiatannya lalu berusaha mengarahkan tangannya ke meja
kecil di sebelah sofa untuk menggapai botol vodka lalu menenggaknya
sebanyak dua atau tiga kali lalu membagi botol itu ke aku. Sambil
menenggak vodka kini aku memandang Anya yang kembali memegang penisku
berusaha memasukkan penisku ke dalam rongga vaginanya. Setelah
meletakkan botol aku mulai membelai permukaan kulit pantat Anya yang
lembut dengan tangan kiriku, mencoba meremas pantat besarnya yang terasa
kenyal itu sambil memposisikan pinggangku membantu upaya Anya
memasukkan penisku. Lalu aku dikejutkan dengan erangan lantang gita di
HP, dan tak lama sambil terengah-engah dan sesekali mendesah dia
mengabarkan bahwa mbak Tika bisa membuat dia orgasme dengan hanya
memassage klitoris dan bibir vaginanya saja. Di depanku Anya juga sedang
berteriak ketika sudah berhasil mendorong masuk penisku ke dalam
vaginanya yang terasa berkedutan merespon proses penetrasi yang terjadi,
bahunya yang hanya ditumpu ke sandaran sofa oleh tangan kirinya tampak
sedikit bergetar. Sesaat kemudian Anya mulai menggerakkan tubuhnya,
mengayunkan pantatnya maju mundur sambil sesekali dia meliukkan
pinggulnya. Tubuh Anya begitu indah kulihat dari posisiku ini,
kupandangi kulitnya yang bersih mulai dari bahunya, punggungnya yang
sedikit dibasahi oleh keringat, pinggangnya yang tampak ramping dan
pinggulnya yang lebar menopang pantatnya yang padat menonjol. Tubuhku
terasa menggelenyar merespon begitu banyak sensasi rasa nyaman dari
kombinasi pemandangan ini ditambah dengan suara desahan dan erangan gita
di HP serta liukan gerakan pinggul Anya yang menimbulkan berbagai macam
rasa nyaman di penisku, rasa nyaman berada di dalam vagina Anya setelah
cukup lama aku tak menjamahnya.
Sembari mendesah gita mengabarkan saat itu mbak Tika sedang memasukkan
jarinya fingering ke dalam vagina gita yang semakin lama semakin
terdengar terbata-bata menelfonku. Didepanku kulihat Anya mulai menambah
kecepatan memaju mundurkan pantatnya, pantat Anya yang sekal dan padat
terasa begitu nyaman ketika beradu dengan tubuhku dan pada setiap
beradunya tubuh kami terasa otot-otot yang ada di dalam vagina Anya
terutama pada bibir vaginanya merespon dengan memberi gerakan seperti
meremas penisku. Suara tepukan ketika tubuh kami saling bertemu ditambah
dengan suara erangan dan teriakan Anya terdengar semakin lantang di
kamarku. Lalu kudengar di HPku gita sedang mengarahkan mbak Tika untuk
tetap memainkan jarinya di posisi tertentu sambil tetap berusaha
menceritakan pengalaman yang sedang dialaminya kepadaku. gita
mengabarkan bahwa saat ini mbak Tika sedang memasukkan jari manis dan
telunjuknya ke dalam vagina gita dengan posisi ditempelkan dan dimainkan
di dinding dalam bagian atas bibir vagina gita serta jari jempol mbak
Tika yang ada di luar sedang dimainkan di klitoris gita. Lalu setelah
itu aku hanya mendengar desahan dan suara nafas gita yang semakin
meningkat temponya hingga tak lama kemudian kudengar suara mengerang dan
melenguh mirip seperti ketika gita mendapat orgasme saat dia ML
denganku beberapa malam lalu. Semua sensasi itu bercampur aduk memenuhi
kepalaku ditambah suara Anya yang semakin nyaring terdengar setiap dia
menekankan pantatnya hingga penisku masuk sepenuhnya ke dalam. Aku yang
semakin terbawa suasana mulai ikut menggerakkan pinggangku menyesuaikan
dengan gerakan pinggul Anya untuk semakin meningkatkan rasa nyaman pada
penisku yang maju mundur di dalam vagina Anya.
Di HP kudengar kembali suara gita mengabarkan untuk menyudahi percakapan
karena dia sudah selesai di massage dan mau mandi. Di depanku Anya
semakin cepat menggerakkan pinggulnya maju mundur menyesuaikan dengan
gerakan maju mundur yang kulakukan, hingga sekujur bagian tubuhku yang
berbenturan dengan pantat Anya merasakan sensasi yang sangat kunikmati
setiap kali bagian tubuhku beradu dengan pantatnya yang terasa kenyal
dan nyaman itu. Aku meletakkan HPku, kini kedua tanganku sudah bebas
menggerayangi tubuh Anya, meremas payudaranya yang mengkal dan kenyal,
memainkan putingnya yang sudah tegang mengeras, lalu kuturunkan kedua
tanganku meremas pinggulnya, membantu menarik tubuhnya untuk semakin
menambah tekanan ketika aku menekankan penisku. Kini sekujur dinding
vagina Anya semakin intens berkontraksi, menimbulkan sensasi seperti
meremas-remas batang penisku yang semakin kencang kugerakkan maju
mundur. Seiring kutambah kecepatan gerak pinggangku menjejalkan penisku
ke vaginanya tak lama kemudian kulihat tangan Anya mulai meraba
memainkan klitorisnya. Tubuh Anya mulai bergetar dan kemudian Anya
mengerang, tubuhnya mengejang hingga penisku juga ikut merasakan rasa
nyaman dari kontraksi berkedut keras dinding vaginanya, serta kedua
kakinya gemetaran menikmati orgasmenya sambil berkali-kali berteriak
panjang hingga akhirnya kurasakan kaki Anya yang terus bergetar itu tak
lagi mampu menopang dengan benar, pinggulnya mulai merendah membuat
penetrasi penisku terlepas dari dekapan vaginanya lalu dia mulai
berbaring di sofa dengan nafas yang masih terengah dan sesekali masih
berteriak mengiringi sensasi sisa orgasme yang dirasakannya.
Aku memandangi ekspresi wajahnya serta indah tubuhnya yang masih
mengejang dan menggeliat menikmati sisa orgasmenya lalu aku merendahkan
tubuhku meletakkan lutut kiriku ke atas sofa dan kembali mengarahkan
penisku untuk masuk ke dalam vaginanya. Kali ini penisku dapat dengan
mudah masuk ke dalam vagina Anya yang telah basah oleh banyak cairan
dari dalam vaginanya, perlahan kugerakkan pinggangku maju mundur kembali
memompa penisku hingga terdengar suara berdecakan dari dalam rongga
vaginanya. Posisi Anya yang terbaring di sofa dengan kedua kakinya yang
terbuka lebar membuat mataku fokus tertuju pada klitorisnya yang telah
mengeras, menimbulkan keinginan untuk memegang dan memainkannya.
Langsung saja kuhentikan gerakan pinggangku lalu memposisikan penisku
hanya masuk sebagian saja ke dalam vaginanya, lalu kurendahkan
pinggangku sehingga kepala penisku menekan ke atas rongga vaginanya,
seolah seperti menadah permukaan dinding vagina yang ada di belakang
klitorisnya sementara kumainkan dan kupijat klitorisnya dengan jariku.
Anya mulai mengerang dan berteriak ketika semakin kutingkatkan kecepatan
jariku memainkan klitorisnya, nafasnya semakin kencang, tubuhnya
menggeliat terutama pada bagian pinggulnya yang bergerak naik turun
beriringan dengan kontraksi pada rongga vaginanya yang terasa nyaman
meremas penisku, hingga akhirnya Anya berteriak sembari mengejang dan
mengangkat pinggulnya kembali merasakan orgasme sehingga membuat penisku
merasa nyaman menerima remasan berkedutan dari dalam rongga vaginanya.
Suara teriakan Anya menikmati orgasme perlahan semakin dipelankannya,
namun kulihat kedua kakinya yang menggantung mengangkang di kedua sisi
tubuhku masih tetap bergetar, kutatap wajah ayunya yang tersenyum
menatapku dengan ekspresi yang masih meresapi rasa nyaman orgasmenya.
Aku mulai kembali berlutut mengambil posisi untuk kembali memompa
penisku ke dalam vaginanya. Suara berdecakan mulai terdengar dari vagina
Anya yang terasa semakin basah itu, beriringan dengan suara tepukan
ketika kedua tubuh kami saling beradu dan semakin lantang terdengar
ketika aku makin menambah kecepatan dan tekanan pada penetrasi itu.
Hingga pada saat aku merasakan sensasi nyaman menjelang ejakulasi baru
mulai terkumpul di sekujur penisku, tiba-tiba Anya bergegas membangunkan
badannya seraya mendorong aku sehingga membuat lepas penetrasi penisku.
Sambil menatap wajahku Anya mengucapkan terima kasih, lalu beranjak
memunguti pakaiannya di lantai. Anya memancing supaya aku memohon kepada
dia agar bisa menuntaskan prosesi ML ini hingga aku bisa ejakulasi. Aku
sudah cukup mengenal Anya, selalu punya banyak ide untuk mempermainkan
orang lain, kucoba meredam hasratku dengan cara berpaling darinya untuk
meraih kembali botol vodka di meja.
Anya masih berpakaian di depan cermin, perlahan-lahan dia mengenakan
kemejanya namun masih belum memakai celana dan cdnya, masih berusaha
menggoda aku dengan memamerkan bagian lower bodynya sambil dia
memperbaiki make upnya, memamerkan kemolekan dari pinggul dan kakinya
yang memang selalu memancing ereksiku ketika memandangnya. Dia masih
mengulur waktu, menunggu aku memohon untuk menikmati kembali tubuhnya
demi menuntaskan ejakulasiku, tapi aku tak mau mengikuti permainannya.
Kubaringkan tubuhku di ranjang sambil menyalakan televisi, mencoba
mengalihkan pandanganku dari godaan pinggul dan pantat indahnya untuk
meredam hasratku, hingga tak lama kemudian kudengar Anya membanting
pintu kamar dan berlalu pergi.
Aku yang belum sempat berpakaian kini mulai terlelap menikmati lantunan
lagu yang diputar dari channel musik di televisi, kemudian aku tersadar
ketika adik perempuanku masuk ke kamar memarahiku sambil memukulkan
bantal ke penisku, dia menyatakan keberatan dan menyalahkan aku yang
melanggar janji karena mau ML kembali dengan Anya teman baiknya. Aku
hanya bisa menceritakan kebenaran kejadian tadi, kejadian spontan yang
tidak kurencanakan. Dengan masih tetap mengomeliku adikku pergi kembali
ke kamarnya untuk menyusul Anya. Sebenarnya aku dan adikku sudah tahu
dan mengenal Anya, perempuan gila yang suka mempermainkan dan
mengecewakan orang lain, yang sedang mencoba mempermainkan hasratku.
Tapi selain sifat dan kebiasaannya kami juga mengenal persis hasrat dan
kebutuhan Anya, hasrat untuk selalu mengisi dan membuat sesak rongga
vaginanya dengan penisku, dan juga kebutuhannya yang haus untuk
menikmati orgasme, dengan bermacam cara supaya dapat berkali-kali
orgasme setiap ML denganku.
Anyway tentang janji yang dikatakan adikku tadi, adalah janji yang
kubuat 6 bulan sebelumnya, setelah kejadian mamaku memergoki aku dan
Anya di garasi belakang rumahku, waktu itu mamaku dan dua orang temannya
sedang menuju ke gazebo halaman belakang, rencananya mau bergibah
santai dengan suasana outdoor sambil ngegrill gitu, dan apesnya mereka
lebih memilih lewat jalan garasi belakang ketimbang selasar samping yang
berdampingan dengan jalan akses buat mobil kami biar bisa sampai ke
garasi belakang sehingga secara tak sengaja mereka memergoki kami. Aku
masih mengingat ekspresi wajah mamaku dan kedua orang temannya, terutama
ekspresi wajah tante Kiki yang sejak aku kecil menjadi idolaku karena
fashionnya yang keren dan postur tubuhnya yang indah. Masih tergambar
jelas ekspresi wajah mereka yang memergoki kami yang pada saat itu Anya
sedang duduk bersimpuh memblowjob penisku dengan aku sedang duduk di
sofa yang letaknya berhadapan dengan sofa panjang yang sedang
dipergunakan adikku untuk berbaring sambil membaca majalah. Setelah itu
kami bertiga disidang papa dan mamaku, diceramahi panjang lebar sampai
akhirnya mereka memaksaku berjanji untuk tidak membujuk, mempengaruhi
dan meminta Anya melakukan perbuatan yang menjurus kearah ML dan
semacamnya. At least aku masih menjaga janji itu, karena kejadian tadi
mutlak disebabkan oleh ajakan dan provokasi sepihak yang dilakukan Anya
untuk mendapat kepuasan. Lagipula dalam statement perjanjian lisan itu
papaku tidak ada meminta aku untuk menolak atau melarang apabila Anya
memaksa untuk ML denganku.
Kerennya papa dan mamaku di setiap kejadian yang mengharuskan mereka
menyidang dan memberikan sanksi kepada kami anak-anaknya setelah itu
bakal ada sesi mereka masing-masing mendatangi kami yang bermasalah ini
untuk kembali berbicara dan memberi masukan dengan peran yang tidak
seformil ketika mereka menyidang kami, mereka datang dengan bahasa dan
pembicaraan yang lebih akrab seolah-olah berperan seperti teman kami,
lalu memberikan pandangan dan pertimbangan bijaksana yang mudah kami
terima. Di kasus Anya kemaren papaku kembali mendatangi aku mengatakan
kalau wawasanku belum luas, di luar sana masih ada banyak bunga yang
bisa aku jumpai, berpesan kepadaku harus hati-hati dalam bertindak, dan
mengambil keputusan harus dengan kepala dingin, tidak gegabah dan selalu
bijaksana. Dia juga berpesan agar aku tetap selalu menjaga komitmen
dari keputusan yang aku ambil, tidak boleh sekalipun ingkar atau lari.
Lalu seperti biasa setelah itu mamaku juga mendatangiku berusaha
mengatakan kalau dia tidak marah dan membenciku, hanya menyesalkan
pilihan yang aku buat, terus mengatakan kalau mau cari pacar setidaknya
secantik dia, dan selebihnya kurang lebih seperti pesan papaku.
Karena rasa kantukku telah buyar setelah dilabrak adikku tadi, akhirnya
aku memutuskan untuk mandi lalu pergi menjemput gita buat kuajak jalan
atau pergi makan atau apalah, yang jelas beberapa hari belakangan aku
selalu kepikiran tentang dia. Setibanya di sana kujumpai si Abah sedang
nyantai selonjoran kaki di teras, sambil memberikan sebungkus rokok
Marlboro merah kesukaannya akupun berlalu menuju kamar mencari gita yang
ternyata lagi asik main PS sendirian.
A :”Hey mandi gih, ikut pergi makan yuk!”
gita mendadak bersorak sambil mulai berdiri lalu melompat memeluk
tubuhku, gerak refleksku langsung memegang kedua pantatnya menahan berat
tubuhnya yang sedang bergantung merangkulkan kedua tangannya di
belakang leherku. Kurasakan permukaan kulit lembut di pantatnya yang
kemudian beberapa kali kuremas sambil mencandai dia
A :’Ini kenapa makin kendor ya? Padahal baru beberapa hari ditinggal”
Gita :”sembarangan iiihh, coba cek lagi yang benar!”
Dia melepaskan pelukannya dan langsung menurunkan celana pendek yang
dikenakannya sambil berputar memamerkan pantatnya yang putih mulus itu
ke arahku
Gita :”Duduk sini lihat dari dekat!”
Dengan nada yang sedikit tinggi dia memerintahkan aku untuk duduk. Lalu
dia menarik tanganku untuk mendekat duduk berlutut memperhatikan
pantatnya, dan ketika dari dekat tampak jelas terlihat lekukan gundukan
kecil vaginanya yang menonjol meski masih ditutupi oleh CDnya serta
kulit putih bersih di sekujur paha yang mengapitnya. Pantat indah itu
kemudian semakin didorongnya kebelakang disodorkan menempel ke wajahku
sambil tangan kanannya memegang dan menahan kepalaku. Terasa permukaan
lembut gundukan vaginanya menekan di tulang hidungku yang kemudian
digerakkannya naik turun mengikuti alur hidungku sambil dia bercanda
dengan mengeluarkan suara oh yes oh my god menirukan dialog yang sering
ditemui pada adegan di film bokep. Aku membalas dengan mulai meraba lalu
meremas serta menepuk-nepuk kedua belah pantatnya, dengan maksud untuk
menyuruhnya menyudahi aksinya, tapi sepertinya malah semakin menambah
semangat gita menggoyangkan pinggulnya.
A :”Udah ah, cepetan mandi sana!”
Kucoba menghentikan kegiatan gita dengan menyuruhnya mandi sekaligus
mencoba meredam keinginan kuatku untuk menarik turun CDnya supaya bisa
melihat dengan jelas gundukan itu dan menjilati vaginanya, ditambah lagi
sekarang penisku mulai meronta-ronta bereaksi dengan perasaan nyaman
dari sensasi yang dilakukan gita.
Gita :”Nanti saja mandinya, abis selesai inilah baru aku mandi”
Sambil dia melepaskan pegangan tangannya di kepalaku dan mulai
menurunkan CD ketatnya kebawah, membuat aku tertegun menikmati
pemandangan vagina yang terpampang di antara pantat dengan lekukan indah
dikedua sisinya yang ditopang dengan kaki jenjang putih mulusnya.
Gita :”Enak ini kena hidung kamu kak”
Ujar gita sambil kembali dia menyodorkan pantatnya ke arah wajahku,
mengulang kembali memasturbasi vaginanya dengan menggunakan hidung dan
wajahku yang kali ini terasa nyata dan semakin hangat karena tidak lagi
terhalangi oleh CDnya, serta sekarang hidungku bisa merasakan dengan
jelas scent khas dari vaginanya yang menimbulkan kesan relax dan nyaman,
scent yang jarang aku dapati dari sekian banyak vagina cewek yang
pernah aku temui. Tangannya kembali memegangi kepalaku berusaha membantu
menekan wajahku ke vaginanya yang kembali bergerak naik turun merayapi
sepanjang ruas batang hidungku. gita mulai mendesah seiring dengan
vaginanya yang bersentuhan dengan hidungku ini berangsur-angsur mulai
terasa basah oleh cairan vaginanya. Pinggulnya semakin lincah bergerak,
tangannya semakin keras menekan kepalaku mendorong hidung dan bibirku
untuk semakin maju menjejali bibir vaginanya. Desahannya semakin keras
terdengar ketika aku mulai memainkan lidahku, mencoba mengikuti rasa
penasaranku untuk menyentuh dan mencicipi permukaan vaginanya, yang
ternyata terasa sticky dan sedikit salty di lidahku, namun aku tidak
bisa dapat gambaran untuk mengcompare flavor itu ke bahan yang lebih
spesifik. Tangan gita mulai meremas dan menjambak rambutku seiring dia
menikmati sensasi yang dirasakannya, kakinya mulai bergetar seakan sudah
tak mampu menopang berat tubuhnya ketika lidahku semakin gencar
kulumatkan ke permukaan bibir vaginanya.
A :’woy kamu kalau mau pipis bilang-bilang ya”
Dengan spontan aku mengatakan itu ketika aku tiba-tiba menyadari
kebiasaan gita yang sewaktu-waktu bisa squirt bila vaginanya terlalu
banyak menerima rasa nyaman.
Gita :”Ndak tiap kali juga aku kayak gitu kak, lagipula kemarin kan aku belum sempat pipis pas di ML sama kamu”
Gita :”Kemarin waktu di rumah makan aku udah minum es jeruk sama air
mineral, terus sampai di sini kita minum tequila sama makan jeruk manis
ya penuhlah bang, makanya bisa nyemprot kayak pemadam kebakaran.”
Gita :”Bawa masuk sini kak punya kamu, dari tadi siang aku udah banyak keluar gara-gara membayangkan di ML sama kamu sayang.”
gita lalu menurunkan tubuhnya dan memposisikan dirinya bersujud,
merebahkan wajah cantiknya ke bantal ukuran jumbo di lantai lalu
mengacungkan pantatnya ke arahku sambil membuka lebar kedua kakinya. Aku
tidak lagi menunda-nunda, langsung saja membuka seluruh pakaianku dan
bergegas mengatur posisi untuk berlutut di belakang pantatnya dan
mengarahkan penisku ke vaginanya. Kuusapkan sebentar saja kepala penisku
ke sekujur permukaan vaginanya yang telah basah itu, sekedar untuk
membasahi permukaan kepala penisku supaya mudah melewati bibir liang
vaginanya karena aku sudah tidak sabar lagi untuk segera memasukkan
penisku kembali merasakan kenyamanan yang bisa dilakukan vaginanya pada
penisku.
Namun bibir rongga vagina itu masih terasa sulit terbuka, kembali aku
mengulangi proses penetrasi secara hati-hati seperti dua malam lalu,
mencoba menggerakkan maju mundur beberapa kali hingga akhirnya sedikit
demi sedikit bibir vagina gita mulai bisa merekah membuka menyesuaikan
diri sehingga kepala penisku dapat masuk ke dalam vaginanya. Aku terus
saja menarik dan menekan-nekan tubuhku ke arahnya, memaksa penisku
sedikit demi sedikit supaya dapat masuk semakin dalam di rongga
vaginanya. Hingga akhirnya penisku dapat sepenuhnya masuk ke dalam
hingga membuat gita melenguh, tangannya meremas ujung bantal sambil
melentikkan punggungnya, mirip seperti kucing adikku yang sering
melentikkan punggung seperti melakukan stretching setiap bangun tidur.
Aku mulai menggerakkan pinggangku mendorong dan menarik penisku keluar
masuk merasakan kenikmatan permukaan beserta relief-relief yang ada di
sekujur rongga vaginanya yang basah dan hangat itu. Sesekali kudorong
kuat pinggangku ke depan untuk memberi tekanan, hingga tubuhku membentur
pantatnya dengan keras dan vagina gita bereaksi atas benturan itu
dengan berkontraksi meremas sekujur batang penisku, lalu ketika remasan
kontraksi itu terasa semakin intens kuarahkan penisku untuk bergerak
maju mundur hanya sebatas bagian mulut rongga vaginanya saja,
memfokuskan kepala penisku sepenuhnya menikmati kontraksi yang
benar-benar terasa sangat meremas di bagian itu. Aku semakin kencang
menggerakkan tubuhku, hingga suara tepukan yang diakibatkan tubuhku yang
berbenturan dengan pantat gita semakin nyaring terdengar, suara desahan
dan erangan gita semakin tak karuan dan kurasakan denyutan kontraksi
rongga vaginanya semakin keras. Tubuh gita tiba-tiba bergetar dan
mengejang berkedutan, gita orgasme dengan berteriak sambil membekapkan
mulutnya ke bantal, bersamaan juga kurasakan remasan erat vaginanya yang
terasa begitu nyaman menjalar di sekujur penisku. Rasa nyaman itu
sekarang sudah memuncak, sekujur tubuhku mulai terasa menggelenyar,
kurasakan sesuatu mulai merambat dari sekitar pangkal penis dan
testisku, bergerak naik ke batang penisku dan akhirnya memuntahkan
spermaku kembali ke dalam vagina hangat gita. Rasa nyaman yang menjalar
dari penisku itu kemudian semakin menyebar ke seluruh tubuhku di setiap
kejutan semburan yang terjadi pada ejakulasiku, membuat tubuhku bergetar
hebat. Ejakulasi yang bisa kunikmati dengan sensasi kenyamanan yang
luar biasa setelah cukup lama tertunda akibat disabotase secara sepihak
oleh Anya siang tadi.
Belum tuntas rasanya aku menikmati ejakulasiku pada posisi ini, gita
lalu merubah posisinya yang sedari tadi bersujud di depanku untuk
bergeser duduk bersimpuh menyamping di lantai. Sambil membetulkan
posisinya yang duduk bertumpu pada pantat dan kaki kirinya gita lalu
meraih kembali penisku, memaksaku untuk mengikuti gerakan tangannya
mengarahkan penisku ke mulutnya. Kembali gita melumat penisku, mengulum
serta menyedotnya sembari tangannya membantu memijat batang penisku dari
pangkal lalu naik ke atas memaksa semua cairan sperma di dalam penisku
untuk tersedot ke dalam mulutnya. Tubuhku terasa menggelenyar seperti
kesemutan pada tulang punggung, tengkuk dan belakang kepalaku.
Aku merebahkan badanku, menjejakkan kepalaku ke pinggiran kasur yang
terletak di lantai tepat di belakang punggungku. Sambil berbaring aku
benar-benar bisa menikmati kecantikan wajah gita yang diterangi pantulan
sinar matahari sore yang masuk dari jendela, wajah cantik yang masih
saja telaten melumat penisku, dengan rambut panjangnya yang dicepol
seadanya menjuntai ke bahunya, bahu yang dibasahi oleh keringat yang
satu per satu mengalir turun ke permukaan dada dan payudara yang
menggantung indah. Lalu pandanganku beralih ke pinggul indahnya yang
tampak menonjol naik dari perut rampingnya dan perlahan elevasinya
kembali menurun mengikuti arah paha kanannya yang jenjang itu.
Gita :”kak ini kenapa jadi bangun lagi?”
Ucapan gita membuyarkan konsentrasiku yang sedang menikmati kecantikan
dan keindahan bentuk tubuhnya, lalu kulihat dia mulai merangkak maju
merayapi tubuhku, menekan payudaranya yang terasa kenyal mendekap
penisku kemudian mulai merangkak lebih maju lagi hingga penisku
merasakan tekanan dan gesekan yang nyaman dengan permukaan perutnya.
Aku :"Itu karena kamu...."
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku kini wajah cantik gita sudah
ada di depan wajahku dan mulai menciumi bibirku, kurasakan payudaranya
yang kenyal menempel di dadaku dan penisku merasakan sensasi yang nyaman
karena sedang bersentuhan dengan bulu pubicnya yang halus beserta bibir
vaginanya sembari gita menggerak-gerakkan pinggulnya. Sudah lama sekali
aku tidak merasakan kenyamanan bercampur dengan feel yang memberi kesan
rasa betah seperti ini.
Lalu tangan kanan gita kembali merayap ke bawah, sambil meninggikan
pinggulnya dia mulai mengarahkan kembali penisku untuk dapat masuk ke
dalam vaginanya, kali ini tidak terlalu ribet, gita hanya perlu tiga
atau empat kali berusaha menekankan pinggulnya untuk dapat membuat
penisku kembali masuk dan dia melenguh menikmati sensasi penetrasi itu,
sambil menghembuskan nafas yang terasa hangat menyapu permukaan kulit
wajahku. Ciumannya terasa semakin gencar di bibirku, aku menikmati
kenyamanan ciuman bibir gita yang berpadu dengan sensasi rongga vagina
gita yang sedang mendekap penisku dengan nyaman sehingga menimbulkan
perasaan comfortable sekali berada bersamanya.
gita mulai menggerakkan pinggulnya naik turun membuat penisku merasakan
kembali kenikmatan permukaan beserta relief-relief yang ada di sekujur
rongga vaginanya, namun dari arah pintu kamar terdengar suara cempreng
Della dan tertawa cekikikan Eric, ternyata mereka berdua sudah berdiri
di depan pintu kamar dan entah sudah berapa lama mereka berada di situ.
Della :”ML teroooos, ntar ledes meki anak orang tu”
Aku ::”Ah bangke kalian berdua, mengganggu saja”
Sambil tertawa gita berdiri dari atas tubuhku, melepaskan penetrasi
penisku di dalam vaginanya lalu berjalan kearah toilet meninggalkan
kami. Eric dan Della lantas lanjut kembali menggodaku, sambil meraih
tisu basah Della lalu duduk dan langsung menggenggam penisku sambil
membersihkan sisa cairan yang menempel di sekujur penisku seraya
sesekali mengocokkannya dan mendekatkan ke mulutnya, sementara Eric
menindih dan memegangi badanku sehingga aku tak bisa menghindar dan
mencegah Della.
Della :”Eh kok bangun lagi ini? Baru selesai jackpot masih juga bisa horny sama aku”
Eric :”gita gimana komentar kamu setelah ML sama temanku ini? Kasi reviewnya please”
Gita yang sudah selesai bersih-bersih kembali masuk ke kamar sambil
menertawai kelakuan kami bertiga, seraya menjawab dengan hanya
memberikan ekspresi wajah memelototkan mata sambil membuat ekspresi
mulut seperti menirukan huruf O besar seolah-olah sedang melahap batang
penisku, membuat kami bertiga tertawa setelah melihat ekspresi wajah
itu.
Della :”Melar ya Gita? Kamu terima saja nasibmu, kalau sayang itu kan harus menerima kondisi pasangan apa adanya, iya kan?
Eric :”Kalau ndak tahan kamu sama abah saja, punya abah masih ukuran standar”
Selanjutnya kami terus saja bercanda sambil menikmati makan malam dan
setelah itu kembali melakukan ritual kebiasaan kami menikmati malam
menghabiskan beberapa botol mansion house dan vodka yang tadi siang
kubeli, sambil membahas rencana dan persiapan untuk ikut di event
adventure offroad minggu depan. Hingga akhirnya gita dan Della tertidur,
lalu aku dan Eric beralih untuk minum di teras buat ganti suasana dan
bergabung ngobrol dengan si Abah yang lagi merokok sendirian......
|