Share this picture
HTML
Forum
IM
Recommend this picture to your friends:
ImageFap usernames, separated by a comma:



Your name or username:
Your e-mail:
  • Enter Code:
  • Sending your request...

    T'nAflix network :
    ImageFap.com
    I Love DATA
    You are not signed in
    Home| Categories| Galleries| Videos| Random | Blogs| Members| Clubs| Forum| Upload | Live Sex




    Gita Teman Minum part. II

    Sudah beberapa hari sejak pertemuan dan perkenalan hangat tak terdugaku dengan gita berlalu, hingga saat ini aku masih bisa mengingat dengan jelas tentang suara manjanya, candanya, wajah cantiknya, indah tubuhnya serta aroma khas tubuhnya yang benar-benar memberikan impresi nyaman yang menyenangkan. Namun aku belum sempat kembali mengunjunginya karena disibukkan dengan kewajiban menyelesaikan beberapa tugas terstruktur dari mata kuliah yang kuambil, serta kewajibanku untuk membuat laporan progress kemajuan kerja serta list kebutuhan material di site konstruksi tempat aku bekerja. Sejak semester 4 aku sudah mulai diajak oleh beberapa senior dan alumni kampusku untuk ikut belajar kerja di perusahaan konstruksi mereka. Mereka merekrut aku bukan karena alasan nilai atau prestasiku melainkan karena kemampuanku yang dapat dengan mudah berbaur dengan seseorang atau suatu kelompok yang mereka anggap bisa berperan penting untuk kelancaran team work dalam pekerjaan mereka. Itu mungkin alasan professional merekalah, padahal yang aku tahu mereka mengenal dan mengingatku lantaran aku selalu ready dan available meladeni dan menemani mereka setiap mereka pengen happy minum-minum ketika sesekali mereka berkunjung ke kampus.

    Siang itu selepas mengantar kedua orangtuaku ke bandara yang hendak berangkat kembali ke kota tempat papaku bertugas, aku menyempatkan diri untuk singgah ke toko minuman sembunyi-sembunyi langgananku. Aku berencana untuk sedikit menikmati me time dengan minuman buat melepas penat setelah banyak menghabiskan waktu berkutat di depan laptop serta bolak balik mendata dan memeriksa kondisi real kemajuan pekerjaan serta persediaan material di site pekerjaanku. Setibanya di toko ternyata aku bertemu dengan Gina yang sedang memiih minuman, Gina ini dulu adalah teman sekelas waktu aku SMA, dia merupakan idola di sekolahku dan sempat menjadi duta provinsiku di event kontes putri-putri kecantikan apalah gitu aku udah lupa. Dengan postur tubuh dan kecantikannya maka tak heran bila dia selalu menjadi target tatapan mata para siswa laki-laki di setiap keberadaannya di sekolah. Banyak teman sekolahku mencoba meraih hatinya dan di masa itu akhirnya dia dekat dengan temanku Leo, anak pengusaha yang tampil menjadi cowok idola di sekolahku berkat support modal dari orang tuanya.

    Aku :”Seingatku Leo suka minuman ini Na”

    Ucapku sambil mengacungkan botol Vodka ke arahnya membuyarkan momen ngeblank saling bertatapan mata setelah kami bertegur sapa, Gina lalu memalingkan pandangannya kembali ke susunan botol minuman di depannya sambil tertawa, lalu kembali menyibukkan diri memilih minuman. Begitulah Gina, semenjak dia terpilih menjadi duta putri kecantikan perilakunya berubah menjadi tidak sehumble dan secatchy dulu ketika kami masih sekelas, tapi setidaknya dia masih mengingat dan mau menyapaku meski sekarang penampilanku sudah berambut gondrong dan kulitku juga lebih taning karena kerap terpapar terik matahari karena pekerjaanku. Setelah aku beranjak dari kasir dan hendak meninggalkan toko Gina kembail memanggil namaku dan meminjam HPku yang katanya mau nelfon temannya buat nanya merk minuman yang hendak dibeli dengan alasan HPnya ketinggalan di dalam mobil. Di masa kejadian cerita ini, HP belum menjadi gadget yang tidak bisa terpisahkan dari genggaman tiap orang, karena fasilitas yang bisa dinikmati dari HP ya cuma nelfon sama smsan doang. Setelah urusan Gina selesai akupun bergegas pulang karena sudah tak sabar ingin segera menikmati minuman yang sudah kubeli ini.

    Saat tiba di rumah aku agak kesulitan mengarahkan mobil untuk dapat masuk ke halaman, karena mobil adik perempuanku satu-satunya serta sebuah mobil yang rasanya tidak asing sedang terparkir dengan posisi sembarangan. Setelah masuk ke rumah kudapati adikku sedang ngobrol bersama teman-temannya, dan setelah melihat wajah salah seorang temannya barulah kusadari bahwa mobil yang tidak asing itu adalah milik Anya, perempuan gila best friendnya adikku yang kebetulan orang tua Anya itu juga teman baik papaku sejak mereka remaja. Keakraban Anya dan adikku juga berdampak positif bagiku, karena setiap weekend ketika Anya menginap di rumah aku selalu dimanjakan dengan sajian pemandangan kemolekan tubuh yang dipamerkan Anya, yang seringnya hanya dibalut pakaian tidur berukuran mini. Bukan hanya sekedar memamerkan keindahan tubuhnya saja, lambat laun prestasi Anya semakin meningkat ketika mulai mengikuti kebiasaan adikku yang sering bersandar dan memeluk tubuhku, lalu mulai memanipulasi memanfaatkan adikku untuk kerap nongkrong dan tidur bersama di kamarku sehingga bisa lebih leluasa untuk dekat dengan aku. Hingga akhirnya pada suatu pagi aku tersadar dari tidur mendapati Anya sedang duduk di atas tubuhku sambil menggoyangkan pinggulnya maju mundur menindih menekankan vaginanya yang masih mengenakan CD ke atas penisku, sedangkan di sebelah kulihat adikku masih tertidur lelap dengan posisi miring menghadap ke arahku. Sejak saat itu terjadilah hubungan simbiosis untuk mencari kenyamanan satu sama lain antara aku dan Anya.

    Baru saja aku masuk ke kamarku setelah menyempatkan diri bercanda dengan adikku dan teman-temannya, tak lama kemudian HPku mulai berdering, mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya aku enggan menerima panggilan itu, biasanya kalau nomor tak dikenal itu seringnya panggilan dari urusan kerjaan atau apalah yang memusingkan kepala endingnya nanti. Kubiarkan saja panggilan itu dan aku lebih memilih untuk menikmati absolut vodka yang baru saja kubeli. Setelah beberapa kali panggilan yang tak kuhiraukan, akhirnya ada pesan masuk dari nomor yang sama mengabarkan bahwa nomor itu adalah nomor gita serta memintaku menelfonnya kembali. Entah kenapa mendadak aku merasa senang sekali dan dengan bersemangat langsung saja kutelfon dia sembari aku menuangkan Vodka ke dalam gelas

    Gita :”Kakak kenapa sih susah sekali ditelfon? Ndak usah sok artislah ya! Kemana sih udah 2 hari ndak nongol-nongol?”

    Gita :“Aku kan bimbang mikirkan kakak, emang kakak ndak mikirkan aku?”

    Gita :“Mikirkan mungkin sekarang aku lagi ngidam gara-gara kakak jackpot di dalam”

    Gita :“Mikirkan untuk mengulang sukses ML lagi sama aku? Emang ndak kepikiran apa?”

    Aku hanya bisa tertawa membalas rentetan pertanyaan gencar yang dikatakan gita, bukan tertawa karena merasa lucu atas pertanyaan tersebut, tapi jujur ini tertawa gembira yang spontan keluar begitu saja.

    G :”kak aku sekarang lagi ndak pakai baju nih, lagi dipijitin sama mbak Tika”

    G :”Dari kemarin badanku pegal semua, mungkin karena kelamaan duduk dalam bus, ditambah semalaman kena ML sama kamu”

    A :”Iya yang aku dengar infonya mbak Tika itu memang kerjaannya Therapist pijat gitu”

    A :”Cuma belum ada reviewnya, belum ketahuan bagus apa ndak pijatannya”

    Dan percakapan kamipun terus mengalir desilingi candaan sembari aku sesekali menenggak Vodka yang baru saja kubeli tadi. gita juga menceritakan sensasi dari pijatan dan sentuhan tangan mbak Tika di tubuhnya secara mendetail, serta sesekali dia mendesah dan mengatakan merasa geli ketika tubuhnya disentuh pada bagian tertentu hingga akupun jadi ikut menghayalkan dan membayangkan tubuh indah gita. Karena mulai terbawa suasana penuturan gita di telfon aku mulai merasakan rasa sesak pada penisku yang sedang berada dalam posisi yang tidak benar dibalik celanaku, lalu aku berdiri dan berusaha membuka pakaian.

    Namun baru saja aku melepas ikat pinggangku tiba-tiba Anya memeluk aku dari belakang, berusaha menguping percakapan di telfon sambil tangannya mulai melepas kancing dan resliting celanaku lalu tangannya mulai merayap ke balik CD menggerayangi penisku. Aku merasa enggan setelah sudah hampir 6 bulan lamanya kami tidak pernah berhubungan, lalu aku berusaha melepaskan pelukannya, mencoba memutar tubuhku supaya bisa mendorong Anya menjauh dari aku dengan sebelah tangan, sementara tanganku yang satu lagi masih tetap memegang HP meladeni pembicaraan gita. Tapi Anya perempuan gila ini tidak mudah menyerah, dia yang masih menggenggam penisku lantas berlutut dan langsung melumat penisku, sementara di telfon gita memberitahukan bahwa saat ini mbak Tika sedang fokus melakukan massage pada payudara serta putingnya, dengan diselingi suara suara mendesah menceritakan dengan rinci perlakuan mbak Tika serta sensasi rasa yang diterima oleh payudaranya. Jantungku berdegup kencang menyimak dan mendengarkan penuturan gita tersebut, kurasakan kenyamanan aliran darah ke penisku yang berangsur mulai ereksi karena terpancing oleh penuturan gita, dan kenyamanan itu terasa semakin menjadi-jadi akibat lumatan dan hisapan nyaman oleh mulut Anya yang sudah sangat akrab dengan penisku.

    Menyadari penisku yang semakin kencang mengalami ereksi, Anya semakin menggila mengulum serta mengocok penisku bahkan sesekali kurasakan sensasi sesak yang nyaman pada kepala penisku karena sedotan yang dilakukan oleh mulutnya. Aku berusaha tetap tenang menerima cobaan ini, berusaha menjaga nada suaraku tetap datar ketika berbicara dengan gita yang mulai intens mendesah dan mengerang sembari menceritakan prosesi massage pada payudaranya itu. Merasakan kenyamanan yang mendera di penisku kucoba mengalihkan pandangan kearah Anya yang sedang melumat penisku lalu mataku terpesona oleh payudaranya yang mengkal ketika dia baru saja selesai melepaskan kemeja dan bra yang dipakainya, payudara Anya semakin menambah sensasi perasaan yang memaksa aliran darahku bertambah deras mengalir memadati ereksi pada penisku.

    Di HP gita menceritakan bila saat ini mbak Tika sedang memassage di bagian kedua belah pahanya. Kembali gita menceritakan dengan rinci perlahan tangan mbak Tika mulai memijat naik kearah pangkal pahanya dan sesekali tangan itu mulai menyerempet memijat vaginanya dan bahkan sekarang mulai menyentuh dan meraba bagian bibir vagina dan klitoris gita serta menggambarkan sensasi yang dirasakannya sembari semakin intens mendesah dan mengerang merespon pijatan tersebut. Mendadak Anya menyudahi aksinya melumat penisku, lalu berdiri sambil melepas celana pendeknya lalu menarik penisku hingga aku mengikuti langkahnya yang maju mengatur posisi tubuhnya menungging bertumpu dengan lututnya membelakangi aku di atas sofa yang ada di depan TV kamarku. Tanpa sempat melepas dan hanya menyibak bagian tengah CDnya ke samping, tangan kanan Anya sekarang mengarahkan penisku ke sela pada belahan pantatnya. Anya kemudian mendorong mundur pantatnya sehingga penisku terhimpit diantara perutku dan belahan pantatnya, perlahan dia menggerakkan pinggulnya membuat penisku bergesekan dengan belahan pantatnya yang merayap naik turun merasakan setiap permukaan lembut belahan pantatnya itu. Dia kembali meraih penisku menggosokkan kepala penisku ke bibir vaginanya yang telah basah lalu kepala penisku diarahkannya untuk bergerak dari bibir vaginanya bergesekan merasakan kerutan relief labianya hingga merayap menyentuh klitorisnya. Sensasi rasa nyaman di kepala penisku semakin meningkat ketika berangsur-angsur gesekan penisku itu mulai membuat sekujur permukaan vagina dan klitorisnya semakin basah terlumasi oleh cairan vaginanya, lalu tangan Anya memainkan kepala penisku dan menekan ke klitoris yang terasa sudah mengeras menambah sensasi rasa nyaman yang kurasakan pada kepala penisku.

    Suara desahan serta erangan gita di HP semakin menambah kencang aliran darah yang terpompa menuju penisku yang saat ini sedang merasakan rasa nyaman bergesekan dengan vagina dan klitoris Anya. Sejenak Anya menghentikan kegiatannya lalu berusaha mengarahkan tangannya ke meja kecil di sebelah sofa untuk menggapai botol vodka lalu menenggaknya sebanyak dua atau tiga kali lalu membagi botol itu ke aku. Sambil menenggak vodka kini aku memandang Anya yang kembali memegang penisku berusaha memasukkan penisku ke dalam rongga vaginanya. Setelah meletakkan botol aku mulai membelai permukaan kulit pantat Anya yang lembut dengan tangan kiriku, mencoba meremas pantat besarnya yang terasa kenyal itu sambil memposisikan pinggangku membantu upaya Anya memasukkan penisku. Lalu aku dikejutkan dengan erangan lantang gita di HP, dan tak lama sambil terengah-engah dan sesekali mendesah dia mengabarkan bahwa mbak Tika bisa membuat dia orgasme dengan hanya memassage klitoris dan bibir vaginanya saja. Di depanku Anya juga sedang berteriak ketika sudah berhasil mendorong masuk penisku ke dalam vaginanya yang terasa berkedutan merespon proses penetrasi yang terjadi, bahunya yang hanya ditumpu ke sandaran sofa oleh tangan kirinya tampak sedikit bergetar. Sesaat kemudian Anya mulai menggerakkan tubuhnya, mengayunkan pantatnya maju mundur sambil sesekali dia meliukkan pinggulnya. Tubuh Anya begitu indah kulihat dari posisiku ini, kupandangi kulitnya yang bersih mulai dari bahunya, punggungnya yang sedikit dibasahi oleh keringat, pinggangnya yang tampak ramping dan pinggulnya yang lebar menopang pantatnya yang padat menonjol. Tubuhku terasa menggelenyar merespon begitu banyak sensasi rasa nyaman dari kombinasi pemandangan ini ditambah dengan suara desahan dan erangan gita di HP serta liukan gerakan pinggul Anya yang menimbulkan berbagai macam rasa nyaman di penisku, rasa nyaman berada di dalam vagina Anya setelah cukup lama aku tak menjamahnya.

    Sembari mendesah gita mengabarkan saat itu mbak Tika sedang memasukkan jarinya fingering ke dalam vagina gita yang semakin lama semakin terdengar terbata-bata menelfonku. Didepanku kulihat Anya mulai menambah kecepatan memaju mundurkan pantatnya, pantat Anya yang sekal dan padat terasa begitu nyaman ketika beradu dengan tubuhku dan pada setiap beradunya tubuh kami terasa otot-otot yang ada di dalam vagina Anya terutama pada bibir vaginanya merespon dengan memberi gerakan seperti meremas penisku. Suara tepukan ketika tubuh kami saling bertemu ditambah dengan suara erangan dan teriakan Anya terdengar semakin lantang di kamarku. Lalu kudengar di HPku gita sedang mengarahkan mbak Tika untuk tetap memainkan jarinya di posisi tertentu sambil tetap berusaha menceritakan pengalaman yang sedang dialaminya kepadaku. gita mengabarkan bahwa saat ini mbak Tika sedang memasukkan jari manis dan telunjuknya ke dalam vagina gita dengan posisi ditempelkan dan dimainkan di dinding dalam bagian atas bibir vagina gita serta jari jempol mbak Tika yang ada di luar sedang dimainkan di klitoris gita. Lalu setelah itu aku hanya mendengar desahan dan suara nafas gita yang semakin meningkat temponya hingga tak lama kemudian kudengar suara mengerang dan melenguh mirip seperti ketika gita mendapat orgasme saat dia ML denganku beberapa malam lalu. Semua sensasi itu bercampur aduk memenuhi kepalaku ditambah suara Anya yang semakin nyaring terdengar setiap dia menekankan pantatnya hingga penisku masuk sepenuhnya ke dalam. Aku yang semakin terbawa suasana mulai ikut menggerakkan pinggangku menyesuaikan dengan gerakan pinggul Anya untuk semakin meningkatkan rasa nyaman pada penisku yang maju mundur di dalam vagina Anya.

    Di HP kudengar kembali suara gita mengabarkan untuk menyudahi percakapan karena dia sudah selesai di massage dan mau mandi. Di depanku Anya semakin cepat menggerakkan pinggulnya maju mundur menyesuaikan dengan gerakan maju mundur yang kulakukan, hingga sekujur bagian tubuhku yang berbenturan dengan pantat Anya merasakan sensasi yang sangat kunikmati setiap kali bagian tubuhku beradu dengan pantatnya yang terasa kenyal dan nyaman itu. Aku meletakkan HPku, kini kedua tanganku sudah bebas menggerayangi tubuh Anya, meremas payudaranya yang mengkal dan kenyal, memainkan putingnya yang sudah tegang mengeras, lalu kuturunkan kedua tanganku meremas pinggulnya, membantu menarik tubuhnya untuk semakin menambah tekanan ketika aku menekankan penisku. Kini sekujur dinding vagina Anya semakin intens berkontraksi, menimbulkan sensasi seperti meremas-remas batang penisku yang semakin kencang kugerakkan maju mundur. Seiring kutambah kecepatan gerak pinggangku menjejalkan penisku ke vaginanya tak lama kemudian kulihat tangan Anya mulai meraba memainkan klitorisnya. Tubuh Anya mulai bergetar dan kemudian Anya mengerang, tubuhnya mengejang hingga penisku juga ikut merasakan rasa nyaman dari kontraksi berkedut keras dinding vaginanya, serta kedua kakinya gemetaran menikmati orgasmenya sambil berkali-kali berteriak panjang hingga akhirnya kurasakan kaki Anya yang terus bergetar itu tak lagi mampu menopang dengan benar, pinggulnya mulai merendah membuat penetrasi penisku terlepas dari dekapan vaginanya lalu dia mulai berbaring di sofa dengan nafas yang masih terengah dan sesekali masih berteriak mengiringi sensasi sisa orgasme yang dirasakannya.

    Aku memandangi ekspresi wajahnya serta indah tubuhnya yang masih mengejang dan menggeliat menikmati sisa orgasmenya lalu aku merendahkan tubuhku meletakkan lutut kiriku ke atas sofa dan kembali mengarahkan penisku untuk masuk ke dalam vaginanya. Kali ini penisku dapat dengan mudah masuk ke dalam vagina Anya yang telah basah oleh banyak cairan dari dalam vaginanya, perlahan kugerakkan pinggangku maju mundur kembali memompa penisku hingga terdengar suara berdecakan dari dalam rongga vaginanya. Posisi Anya yang terbaring di sofa dengan kedua kakinya yang terbuka lebar membuat mataku fokus tertuju pada klitorisnya yang telah mengeras, menimbulkan keinginan untuk memegang dan memainkannya. Langsung saja kuhentikan gerakan pinggangku lalu memposisikan penisku hanya masuk sebagian saja ke dalam vaginanya, lalu kurendahkan pinggangku sehingga kepala penisku menekan ke atas rongga vaginanya, seolah seperti menadah permukaan dinding vagina yang ada di belakang klitorisnya sementara kumainkan dan kupijat klitorisnya dengan jariku. Anya mulai mengerang dan berteriak ketika semakin kutingkatkan kecepatan jariku memainkan klitorisnya, nafasnya semakin kencang, tubuhnya menggeliat terutama pada bagian pinggulnya yang bergerak naik turun beriringan dengan kontraksi pada rongga vaginanya yang terasa nyaman meremas penisku, hingga akhirnya Anya berteriak sembari mengejang dan mengangkat pinggulnya kembali merasakan orgasme sehingga membuat penisku merasa nyaman menerima remasan berkedutan dari dalam rongga vaginanya. Suara teriakan Anya menikmati orgasme perlahan semakin dipelankannya, namun kulihat kedua kakinya yang menggantung mengangkang di kedua sisi tubuhku masih tetap bergetar, kutatap wajah ayunya yang tersenyum menatapku dengan ekspresi yang masih meresapi rasa nyaman orgasmenya. Aku mulai kembali berlutut mengambil posisi untuk kembali memompa penisku ke dalam vaginanya. Suara berdecakan mulai terdengar dari vagina Anya yang terasa semakin basah itu, beriringan dengan suara tepukan ketika kedua tubuh kami saling beradu dan semakin lantang terdengar ketika aku makin menambah kecepatan dan tekanan pada penetrasi itu. Hingga pada saat aku merasakan sensasi nyaman menjelang ejakulasi baru mulai terkumpul di sekujur penisku, tiba-tiba Anya bergegas membangunkan badannya seraya mendorong aku sehingga membuat lepas penetrasi penisku. Sambil menatap wajahku Anya mengucapkan terima kasih, lalu beranjak memunguti pakaiannya di lantai. Anya memancing supaya aku memohon kepada dia agar bisa menuntaskan prosesi ML ini hingga aku bisa ejakulasi. Aku sudah cukup mengenal Anya, selalu punya banyak ide untuk mempermainkan orang lain, kucoba meredam hasratku dengan cara berpaling darinya untuk meraih kembali botol vodka di meja.

    Anya masih berpakaian di depan cermin, perlahan-lahan dia mengenakan kemejanya namun masih belum memakai celana dan cdnya, masih berusaha menggoda aku dengan memamerkan bagian lower bodynya sambil dia memperbaiki make upnya, memamerkan kemolekan dari pinggul dan kakinya yang memang selalu memancing ereksiku ketika memandangnya. Dia masih mengulur waktu, menunggu aku memohon untuk menikmati kembali tubuhnya demi menuntaskan ejakulasiku, tapi aku tak mau mengikuti permainannya. Kubaringkan tubuhku di ranjang sambil menyalakan televisi, mencoba mengalihkan pandanganku dari godaan pinggul dan pantat indahnya untuk meredam hasratku, hingga tak lama kemudian kudengar Anya membanting pintu kamar dan berlalu pergi.

    Aku yang belum sempat berpakaian kini mulai terlelap menikmati lantunan lagu yang diputar dari channel musik di televisi, kemudian aku tersadar ketika adik perempuanku masuk ke kamar memarahiku sambil memukulkan bantal ke penisku, dia menyatakan keberatan dan menyalahkan aku yang melanggar janji karena mau ML kembali dengan Anya teman baiknya. Aku hanya bisa menceritakan kebenaran kejadian tadi, kejadian spontan yang tidak kurencanakan. Dengan masih tetap mengomeliku adikku pergi kembali ke kamarnya untuk menyusul Anya. Sebenarnya aku dan adikku sudah tahu dan mengenal Anya, perempuan gila yang suka mempermainkan dan mengecewakan orang lain, yang sedang mencoba mempermainkan hasratku. Tapi selain sifat dan kebiasaannya kami juga mengenal persis hasrat dan kebutuhan Anya, hasrat untuk selalu mengisi dan membuat sesak rongga vaginanya dengan penisku, dan juga kebutuhannya yang haus untuk menikmati orgasme, dengan bermacam cara supaya dapat berkali-kali orgasme setiap ML denganku.

    Anyway tentang janji yang dikatakan adikku tadi, adalah janji yang kubuat 6 bulan sebelumnya, setelah kejadian mamaku memergoki aku dan Anya di garasi belakang rumahku, waktu itu mamaku dan dua orang temannya sedang menuju ke gazebo halaman belakang, rencananya mau bergibah santai dengan suasana outdoor sambil ngegrill gitu, dan apesnya mereka lebih memilih lewat jalan garasi belakang ketimbang selasar samping yang berdampingan dengan jalan akses buat mobil kami biar bisa sampai ke garasi belakang sehingga secara tak sengaja mereka memergoki kami. Aku masih mengingat ekspresi wajah mamaku dan kedua orang temannya, terutama ekspresi wajah tante Kiki yang sejak aku kecil menjadi idolaku karena fashionnya yang keren dan postur tubuhnya yang indah. Masih tergambar jelas ekspresi wajah mereka yang memergoki kami yang pada saat itu Anya sedang duduk bersimpuh memblowjob penisku dengan aku sedang duduk di sofa yang letaknya berhadapan dengan sofa panjang yang sedang dipergunakan adikku untuk berbaring sambil membaca majalah. Setelah itu kami bertiga disidang papa dan mamaku, diceramahi panjang lebar sampai akhirnya mereka memaksaku berjanji untuk tidak membujuk, mempengaruhi dan meminta Anya melakukan perbuatan yang menjurus kearah ML dan semacamnya. At least aku masih menjaga janji itu, karena kejadian tadi mutlak disebabkan oleh ajakan dan provokasi sepihak yang dilakukan Anya untuk mendapat kepuasan. Lagipula dalam statement perjanjian lisan itu papaku tidak ada meminta aku untuk menolak atau melarang apabila Anya memaksa untuk ML denganku.

    Kerennya papa dan mamaku di setiap kejadian yang mengharuskan mereka menyidang dan memberikan sanksi kepada kami anak-anaknya setelah itu bakal ada sesi mereka masing-masing mendatangi kami yang bermasalah ini untuk kembali berbicara dan memberi masukan dengan peran yang tidak seformil ketika mereka menyidang kami, mereka datang dengan bahasa dan pembicaraan yang lebih akrab seolah-olah berperan seperti teman kami, lalu memberikan pandangan dan pertimbangan bijaksana yang mudah kami terima. Di kasus Anya kemaren papaku kembali mendatangi aku mengatakan kalau wawasanku belum luas, di luar sana masih ada banyak bunga yang bisa aku jumpai, berpesan kepadaku harus hati-hati dalam bertindak, dan mengambil keputusan harus dengan kepala dingin, tidak gegabah dan selalu bijaksana. Dia juga berpesan agar aku tetap selalu menjaga komitmen dari keputusan yang aku ambil, tidak boleh sekalipun ingkar atau lari. Lalu seperti biasa setelah itu mamaku juga mendatangiku berusaha mengatakan kalau dia tidak marah dan membenciku, hanya menyesalkan pilihan yang aku buat, terus mengatakan kalau mau cari pacar setidaknya secantik dia, dan selebihnya kurang lebih seperti pesan papaku.

    Karena rasa kantukku telah buyar setelah dilabrak adikku tadi, akhirnya aku memutuskan untuk mandi lalu pergi menjemput gita buat kuajak jalan atau pergi makan atau apalah, yang jelas beberapa hari belakangan aku selalu kepikiran tentang dia. Setibanya di sana kujumpai si Abah sedang nyantai selonjoran kaki di teras, sambil memberikan sebungkus rokok Marlboro merah kesukaannya akupun berlalu menuju kamar mencari gita yang ternyata lagi asik main PS sendirian.

    A :”Hey mandi gih, ikut pergi makan yuk!”

    gita mendadak bersorak sambil mulai berdiri lalu melompat memeluk tubuhku, gerak refleksku langsung memegang kedua pantatnya menahan berat tubuhnya yang sedang bergantung merangkulkan kedua tangannya di belakang leherku. Kurasakan permukaan kulit lembut di pantatnya yang kemudian beberapa kali kuremas sambil mencandai dia

    A :’Ini kenapa makin kendor ya? Padahal baru beberapa hari ditinggal”

    Gita :”sembarangan iiihh, coba cek lagi yang benar!”

    Dia melepaskan pelukannya dan langsung menurunkan celana pendek yang dikenakannya sambil berputar memamerkan pantatnya yang putih mulus itu ke arahku

    Gita :”Duduk sini lihat dari dekat!”

    Dengan nada yang sedikit tinggi dia memerintahkan aku untuk duduk. Lalu dia menarik tanganku untuk mendekat duduk berlutut memperhatikan pantatnya, dan ketika dari dekat tampak jelas terlihat lekukan gundukan kecil vaginanya yang menonjol meski masih ditutupi oleh CDnya serta kulit putih bersih di sekujur paha yang mengapitnya. Pantat indah itu kemudian semakin didorongnya kebelakang disodorkan menempel ke wajahku sambil tangan kanannya memegang dan menahan kepalaku. Terasa permukaan lembut gundukan vaginanya menekan di tulang hidungku yang kemudian digerakkannya naik turun mengikuti alur hidungku sambil dia bercanda dengan mengeluarkan suara oh yes oh my god menirukan dialog yang sering ditemui pada adegan di film bokep. Aku membalas dengan mulai meraba lalu meremas serta menepuk-nepuk kedua belah pantatnya, dengan maksud untuk menyuruhnya menyudahi aksinya, tapi sepertinya malah semakin menambah semangat gita menggoyangkan pinggulnya.

    A :”Udah ah, cepetan mandi sana!”

    Kucoba menghentikan kegiatan gita dengan menyuruhnya mandi sekaligus mencoba meredam keinginan kuatku untuk menarik turun CDnya supaya bisa melihat dengan jelas gundukan itu dan menjilati vaginanya, ditambah lagi sekarang penisku mulai meronta-ronta bereaksi dengan perasaan nyaman dari sensasi yang dilakukan gita.

    Gita :”Nanti saja mandinya, abis selesai inilah baru aku mandi”

    Sambil dia melepaskan pegangan tangannya di kepalaku dan mulai menurunkan CD ketatnya kebawah, membuat aku tertegun menikmati pemandangan vagina yang terpampang di antara pantat dengan lekukan indah dikedua sisinya yang ditopang dengan kaki jenjang putih mulusnya.

    Gita :”Enak ini kena hidung kamu kak”

    Ujar gita sambil kembali dia menyodorkan pantatnya ke arah wajahku, mengulang kembali memasturbasi vaginanya dengan menggunakan hidung dan wajahku yang kali ini terasa nyata dan semakin hangat karena tidak lagi terhalangi oleh CDnya, serta sekarang hidungku bisa merasakan dengan jelas scent khas dari vaginanya yang menimbulkan kesan relax dan nyaman, scent yang jarang aku dapati dari sekian banyak vagina cewek yang pernah aku temui. Tangannya kembali memegangi kepalaku berusaha membantu menekan wajahku ke vaginanya yang kembali bergerak naik turun merayapi sepanjang ruas batang hidungku. gita mulai mendesah seiring dengan vaginanya yang bersentuhan dengan hidungku ini berangsur-angsur mulai terasa basah oleh cairan vaginanya. Pinggulnya semakin lincah bergerak, tangannya semakin keras menekan kepalaku mendorong hidung dan bibirku untuk semakin maju menjejali bibir vaginanya. Desahannya semakin keras terdengar ketika aku mulai memainkan lidahku, mencoba mengikuti rasa penasaranku untuk menyentuh dan mencicipi permukaan vaginanya, yang ternyata terasa sticky dan sedikit salty di lidahku, namun aku tidak bisa dapat gambaran untuk mengcompare flavor itu ke bahan yang lebih spesifik. Tangan gita mulai meremas dan menjambak rambutku seiring dia menikmati sensasi yang dirasakannya, kakinya mulai bergetar seakan sudah tak mampu menopang berat tubuhnya ketika lidahku semakin gencar kulumatkan ke permukaan bibir vaginanya.

    A :’woy kamu kalau mau pipis bilang-bilang ya”

    Dengan spontan aku mengatakan itu ketika aku tiba-tiba menyadari kebiasaan gita yang sewaktu-waktu bisa squirt bila vaginanya terlalu banyak menerima rasa nyaman.

    Gita :”Ndak tiap kali juga aku kayak gitu kak, lagipula kemarin kan aku belum sempat pipis pas di ML sama kamu”

    Gita :”Kemarin waktu di rumah makan aku udah minum es jeruk sama air mineral, terus sampai di sini kita minum tequila sama makan jeruk manis ya penuhlah bang, makanya bisa nyemprot kayak pemadam kebakaran.”

    Gita :”Bawa masuk sini kak punya kamu, dari tadi siang aku udah banyak keluar gara-gara membayangkan di ML sama kamu sayang.”

    gita lalu menurunkan tubuhnya dan memposisikan dirinya bersujud, merebahkan wajah cantiknya ke bantal ukuran jumbo di lantai lalu mengacungkan pantatnya ke arahku sambil membuka lebar kedua kakinya. Aku tidak lagi menunda-nunda, langsung saja membuka seluruh pakaianku dan bergegas mengatur posisi untuk berlutut di belakang pantatnya dan mengarahkan penisku ke vaginanya. Kuusapkan sebentar saja kepala penisku ke sekujur permukaan vaginanya yang telah basah itu, sekedar untuk membasahi permukaan kepala penisku supaya mudah melewati bibir liang vaginanya karena aku sudah tidak sabar lagi untuk segera memasukkan penisku kembali merasakan kenyamanan yang bisa dilakukan vaginanya pada penisku.

    Namun bibir rongga vagina itu masih terasa sulit terbuka, kembali aku mengulangi proses penetrasi secara hati-hati seperti dua malam lalu, mencoba menggerakkan maju mundur beberapa kali hingga akhirnya sedikit demi sedikit bibir vagina gita mulai bisa merekah membuka menyesuaikan diri sehingga kepala penisku dapat masuk ke dalam vaginanya. Aku terus saja menarik dan menekan-nekan tubuhku ke arahnya, memaksa penisku sedikit demi sedikit supaya dapat masuk semakin dalam di rongga vaginanya. Hingga akhirnya penisku dapat sepenuhnya masuk ke dalam hingga membuat gita melenguh, tangannya meremas ujung bantal sambil melentikkan punggungnya, mirip seperti kucing adikku yang sering melentikkan punggung seperti melakukan stretching setiap bangun tidur.

    Aku mulai menggerakkan pinggangku mendorong dan menarik penisku keluar masuk merasakan kenikmatan permukaan beserta relief-relief yang ada di sekujur rongga vaginanya yang basah dan hangat itu. Sesekali kudorong kuat pinggangku ke depan untuk memberi tekanan, hingga tubuhku membentur pantatnya dengan keras dan vagina gita bereaksi atas benturan itu dengan berkontraksi meremas sekujur batang penisku, lalu ketika remasan kontraksi itu terasa semakin intens kuarahkan penisku untuk bergerak maju mundur hanya sebatas bagian mulut rongga vaginanya saja, memfokuskan kepala penisku sepenuhnya menikmati kontraksi yang benar-benar terasa sangat meremas di bagian itu. Aku semakin kencang menggerakkan tubuhku, hingga suara tepukan yang diakibatkan tubuhku yang berbenturan dengan pantat gita semakin nyaring terdengar, suara desahan dan erangan gita semakin tak karuan dan kurasakan denyutan kontraksi rongga vaginanya semakin keras. Tubuh gita tiba-tiba bergetar dan mengejang berkedutan, gita orgasme dengan berteriak sambil membekapkan mulutnya ke bantal, bersamaan juga kurasakan remasan erat vaginanya yang terasa begitu nyaman menjalar di sekujur penisku. Rasa nyaman itu sekarang sudah memuncak, sekujur tubuhku mulai terasa menggelenyar, kurasakan sesuatu mulai merambat dari sekitar pangkal penis dan testisku, bergerak naik ke batang penisku dan akhirnya memuntahkan spermaku kembali ke dalam vagina hangat gita. Rasa nyaman yang menjalar dari penisku itu kemudian semakin menyebar ke seluruh tubuhku di setiap kejutan semburan yang terjadi pada ejakulasiku, membuat tubuhku bergetar hebat. Ejakulasi yang bisa kunikmati dengan sensasi kenyamanan yang luar biasa setelah cukup lama tertunda akibat disabotase secara sepihak oleh Anya siang tadi.

    Belum tuntas rasanya aku menikmati ejakulasiku pada posisi ini, gita lalu merubah posisinya yang sedari tadi bersujud di depanku untuk bergeser duduk bersimpuh menyamping di lantai. Sambil membetulkan posisinya yang duduk bertumpu pada pantat dan kaki kirinya gita lalu meraih kembali penisku, memaksaku untuk mengikuti gerakan tangannya mengarahkan penisku ke mulutnya. Kembali gita melumat penisku, mengulum serta menyedotnya sembari tangannya membantu memijat batang penisku dari pangkal lalu naik ke atas memaksa semua cairan sperma di dalam penisku untuk tersedot ke dalam mulutnya. Tubuhku terasa menggelenyar seperti kesemutan pada tulang punggung, tengkuk dan belakang kepalaku.

    Aku merebahkan badanku, menjejakkan kepalaku ke pinggiran kasur yang terletak di lantai tepat di belakang punggungku. Sambil berbaring aku benar-benar bisa menikmati kecantikan wajah gita yang diterangi pantulan sinar matahari sore yang masuk dari jendela, wajah cantik yang masih saja telaten melumat penisku, dengan rambut panjangnya yang dicepol seadanya menjuntai ke bahunya, bahu yang dibasahi oleh keringat yang satu per satu mengalir turun ke permukaan dada dan payudara yang menggantung indah. Lalu pandanganku beralih ke pinggul indahnya yang tampak menonjol naik dari perut rampingnya dan perlahan elevasinya kembali menurun mengikuti arah paha kanannya yang jenjang itu.

    Gita :”kak ini kenapa jadi bangun lagi?”

    Ucapan gita membuyarkan konsentrasiku yang sedang menikmati kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya, lalu kulihat dia mulai merangkak maju merayapi tubuhku, menekan payudaranya yang terasa kenyal mendekap penisku kemudian mulai merangkak lebih maju lagi hingga penisku merasakan tekanan dan gesekan yang nyaman dengan permukaan perutnya.

    Aku :"Itu karena kamu...."

    Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku kini wajah cantik gita sudah ada di depan wajahku dan mulai menciumi bibirku, kurasakan payudaranya yang kenyal menempel di dadaku dan penisku merasakan sensasi yang nyaman karena sedang bersentuhan dengan bulu pubicnya yang halus beserta bibir vaginanya sembari gita menggerak-gerakkan pinggulnya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kenyamanan bercampur dengan feel yang memberi kesan rasa betah seperti ini.

    Lalu tangan kanan gita kembali merayap ke bawah, sambil meninggikan pinggulnya dia mulai mengarahkan kembali penisku untuk dapat masuk ke dalam vaginanya, kali ini tidak terlalu ribet, gita hanya perlu tiga atau empat kali berusaha menekankan pinggulnya untuk dapat membuat penisku kembali masuk dan dia melenguh menikmati sensasi penetrasi itu, sambil menghembuskan nafas yang terasa hangat menyapu permukaan kulit wajahku. Ciumannya terasa semakin gencar di bibirku, aku menikmati kenyamanan ciuman bibir gita yang berpadu dengan sensasi rongga vagina gita yang sedang mendekap penisku dengan nyaman sehingga menimbulkan perasaan comfortable sekali berada bersamanya.

    gita mulai menggerakkan pinggulnya naik turun membuat penisku merasakan kembali kenikmatan permukaan beserta relief-relief yang ada di sekujur rongga vaginanya, namun dari arah pintu kamar terdengar suara cempreng Della dan tertawa cekikikan Eric, ternyata mereka berdua sudah berdiri di depan pintu kamar dan entah sudah berapa lama mereka berada di situ.

    Della :”ML teroooos, ntar ledes meki anak orang tu”

    Aku ::”Ah bangke kalian berdua, mengganggu saja”

    Sambil tertawa gita berdiri dari atas tubuhku, melepaskan penetrasi penisku di dalam vaginanya lalu berjalan kearah toilet meninggalkan kami. Eric dan Della lantas lanjut kembali menggodaku, sambil meraih tisu basah Della lalu duduk dan langsung menggenggam penisku sambil membersihkan sisa cairan yang menempel di sekujur penisku seraya sesekali mengocokkannya dan mendekatkan ke mulutnya, sementara Eric menindih dan memegangi badanku sehingga aku tak bisa menghindar dan mencegah Della.

    Della :”Eh kok bangun lagi ini? Baru selesai jackpot masih juga bisa horny sama aku”

    Eric :”gita gimana komentar kamu setelah ML sama temanku ini? Kasi reviewnya please”

    Gita yang sudah selesai bersih-bersih kembali masuk ke kamar sambil menertawai kelakuan kami bertiga, seraya menjawab dengan hanya memberikan ekspresi wajah memelototkan mata sambil membuat ekspresi mulut seperti menirukan huruf O besar seolah-olah sedang melahap batang penisku, membuat kami bertiga tertawa setelah melihat ekspresi wajah itu.

    Della :”Melar ya Gita? Kamu terima saja nasibmu, kalau sayang itu kan harus menerima kondisi pasangan apa adanya, iya kan?

    Eric :”Kalau ndak tahan kamu sama abah saja, punya abah masih ukuran standar”

    Selanjutnya kami terus saja bercanda sambil menikmati makan malam dan setelah itu kembali melakukan ritual kebiasaan kami menikmati malam menghabiskan beberapa botol mansion house dan vodka yang tadi siang kubeli, sambil membahas rencana dan persiapan untuk ikut di event adventure offroad minggu depan. Hingga akhirnya gita dan Della tertidur, lalu aku dan Eric beralih untuk minum di teras buat ganti suasana dan bergabung ngobrol dengan si Abah yang lagi merokok sendirian......

     

     
      Posted on : Jul 7, 2025
     

     
    Add Comment




    Contact us - FAQ - ASACP - DMCA - Privacy Policy - Terms of Service - 2257



    Served by site-56b75b7b57-qmshh
    Generated 15:12:43