Share this picture
HTML
Forum
IM
Recommend this picture to your friends:
ImageFap usernames, separated by a comma:



Your name or username:
Your e-mail:
  • Enter Code:
  • Sending your request...

    T'nAflix network :
    ImageFap.com
    I Love DATA
    You are not signed in
    Home| Categories| Galleries| Videos| Random | Blogs| Members| Clubs| Forum| Upload | Live Sex




    Bali dengan Dua Bidadari Chap. II

    Part. IV: perang kentang

    Kami bertiga sudah selesai mandi, siap menjelajah bali hari ini. seperti yang dibilang sebelumnya, karena rencana mereka awalnya berempat dengan teman, devina dan oni telah meminjam mobil, karena gabisa refund akhirnya kami pakai mobil tersebut, dan juga ya bertiga ga mungkin naik motor juga kan.

    Sebuah mobil swift merah mendarat di depan bibir hotel kami. Fancy juga nih mobil yang mereka rental, biasanya rentalan kalo ga avansa, xenia, ya ertiga (no offense). devina seperti yang gw bilang, make tanktop abu-abu, dengan pasmina membalit leher dan pundaknya, shortpants bahan kain berwarna kemerahan. Sementara oni, memakai celana panjang (entah nama bahannya apa, seperti bahan kain untuk celana olahraga) berwarna navy, kaos merah gelap (okeh untuk ukuran cewek yang suka padu padan warna, ini berantakan), dan topi andalannya. Gw sendiri hanya memakai celana pantai pendek dan kaos.

    Gw sadar itinerary kami berantakan ketika melihat rencana bedugul lalu tana lot, dan berujung di gwk. Doesn’t make sense, ada yang harus diubah. Kami berangkat menuju bedugul sekitar jam 12 siang. Gw nyetir (sialnya Cuma gw yang bisa nyetir), sebelah kiri gw devina, dan oni di belakang. Perjalanan diisi dengan keceriaan dari tawa mereka, kami saling berbagi cerita mulai dari tentang hobi masing-masing sampai ke area dewasa.

    Perjalanan baru satu jam lewat dan devina sudah merengek, “nii, ngantuk... tukeraan, mau tiduuur”. Yaa akhirnya kami berhenti sebentar dan bertukar posisi. oni sekarang di depan. Sialnya, oni yang megang GPS (gw ga hapal jalan dan susah liat GPS sambil nyetir) tapi oni BUTA ARAH. Damn! Mulai dari salah belok sampe hampir nabrak lah.

    Cuma butuh 10 menit sampai devina terlelap. Kepalanya bersender ke jendela, ditutupi pasminanya. Jalanan memasuki area persawahan, Cuma lurus. oni meletakan hapenya di dashboard, mulai melirik gw. Tangannya tetiba meraba celana gw “hai junioor”. Ya, gw bilang ke oni kalo nama penis gw wapol.jr (biasanya laki namain penis mereka kan?hahaha). gw langsung mengarahkan tangan kiri gw ke selangkangan oni. “sshh nakal yaa” oni melenguh sambil sedikit menggoda. Tetiba ada sedikit kemacetan, truk memutar arah di jalan yang cukup sempit (kayaknya selain sunset road jalanan bali itu sempit). Depan kami mobil box, ga bakal bisa liat ke dalam kabin mobil kami. sampai mobil benar-benar stuck berhenti gw ga berenti memainkan vagina oni dari luar, oni pun sudah memasukan tangannya ke dalam celana gw. Untungnya mobil kami matic, tak perlu kesulitan untuk mindah-mindahin perseneling. Memanfaatkan jeda waktu gw langsung tarik kepala oni dan kami berciuman. Lidah oni langsung liar menari dalam mulut gw. Tangan kanan gw meremas dada oni. “mmhhhh” terdengar oni melenguh di tengah ciuman kami. tangan kiri gw berada di belakang jok oni, dan tangan kanan gw beranjak turun dari dada dan menyusup ke dalam celana oni. Celana oni kebetulan menggunakan karet, bukan resleting. Cdnya telah dibasahi cairan vagina. Jari tengah gw langsung memainkan vaginanya mencari klitoris dan lubang vaginanya.

    Tetiba klakson dari mobil belakang berbunyi. Gw melepas ciuman dan ternyata mobil box di depan kami sudah jalan. Kembali gw pacu mobil. “tau kentang?” oni menggerutu. Gw hanya tersenyum kecil, yah mau gimana lagi, traffic ga memungkinkan. Tetiba tangan oni menarik wapol.jr keluar dari celana, ia melepas seatbelt dan mengarahkan kepalanya ke selangkangan gw. Ga berselang lama kulup wapol.jr terasa basah. Lidah oni liar menjilati kulup wapol.jr. perlahan ia melahap wapol.jr. kepala oni memang sedikit menghalangi setir, tapi bisa diakali. Tangan kanan gw berusaha meremas dada oni yang menggelantung di balik bra. “mmpff...mpphhhh” oni melenguh di tengah kulumannya yang semakin cepat. Gw benar-benar ga peduli ketika jalan tetiba padat, atau ada anak-anak di pematang sawah yang melihat aksi kami. beberapa orang yang naik motor berlawanan arah nampak kaget melihat gw mengemudi sambil disepong. “huaaah udah sampe mana niiih?” suara cempreng devina memecah seluruh kegiatan kami. oni langsung melepas kulumannya dan agak salah tingkah seperti takut ketahuan. Wapol.jr dibiarkan tak masuk kembali ke dalam celana. “eh, umm... dikit lagi Joger” jawab gw dengan nada berat (masih sange).

    Akhirnya kami sampai di Bedugul. Sebelumnya gw mau minta maaf umumnya kepada warga bali dan member yang mungkin tak berkenan karena mungkin gw melanggar kode etik dan budaya karena “mesum” di tempat yang gak seharusnya (arena kuil)

    Cukup mudah mencari parkiran, karena memang bukan musim liburan, jadi parkiran agak sepi. devina keluar pertama, gw mencari dompet dan hape yang entah kemana, sementara oni, seperti membetulkan sesuatu. Sesaat sebelum keluar mobil, gw cubit dada oni sambil menggoda, “kentang ya”. “sshhh aaahhh, sialan” oni melenguh ketika dadanya dicubit, dan langsung menarik kepala gw, oni mencium gw dengan nafas yang memburu, lidah kami langsung saling melumat. sebentar memang, malah jadi makin kentang.

    Kami berfoto di banyak area Bedugul, dan memutuskan untuk naik perahu mengitari danau. oni bersikeras tidak ikut, ia takut jika naik kapal katanya. Aneh karena untuk sampai ke bali aja kemarin ia naik kapal. Namun yasudalah. Akhirnya oni meminjam kamera gw untuk memfoto sekeliling. Gw menunggu kapal dengan devina. Perahu kecil merapat, gw dan devina beranjak naik. Perlahan perahu membawa kami ke tengah. devina nampak kegirangan dengan teriakan-teriakan cemprengnya. Gw merangkul devina perlahan, tak ada penolakan. Tangan gw merambat ke perutnya. devina agak terdiam, melihat gw sebentar dan kembali berteriak-teriak. Gw memastikan bli yang membawa kapal tidak melihat kami, ya memang tak ada spion. Kemudian tangan gw beranjak naik dan langsung meremas dada devina. devina menuruti permintaan gw, ia tak mengenakan bra. Dadanya yang besar langsung terasa kenyal. Serius ternyata ckup besar ampe satu telapak tangan gw ga cukup untuk meremas seluruh dadanya. “yeaaa,aaaachhh” devina tetiba melenguh di tengah teriakannya. “kenapa dek?” bli tersebut seperti sadar lenguhan devina. “aaaaahh pasminanya basaah bli, kena air” jawab devina salah tingkah. Tangan gw masih meremas dada devina, seperti lompatan jauh dari dada oni yang terbilang kecil ke dada devina yang bahkan satu tangan tak cukup. Gw mencubit putingnya yang menonjol di balik tanktop. Mata devina terpejam, mulutnya seperti berusaha menutup menahan lenguhan. Napasnya mulai berat. Tangan gw berhenti meremas dada devina dan perlahan turun ke selangkangan. Tepat ketika berada di antara paha, devina langsung menepis tangan gw, dan di situ gw ga berani lagi memegang devina. Sial, dia marah?

    Sekitar 10 menit dari devina menepis tangan gw dan perahu kembali merapat. devina hanya memperhatikan sekeliling. perasaan gw bercampur aduk. Mungkinkah dia marah setelah tadi keenakan? Banyak tanda tanya bermunculan di kepala gw.

    Setelah merapat, kami berjalan menuju parkiran. Suasana kikuk masih menyelimuti. devina mengambil hapenya, memberitahu oni bahwa kami siap kembali berangkat. Sampai di mobil, devina duduk di kursi depan, gw ikut masuk dan menyalakan mobil sambil menunggu oni. “pol, maaf” kata devina tetiba memecah kesunyian. “gw kali yg minta maaf, kelebihan ya tadi?” jawab gw berusaha meluruskan. “enggak...umm....” devina seperti kesulitan merangkai kata-kata. “kenapa? Ngomong aja kali, gausah bingung”. “gw...gw takut kalo bawah gw gabisa ngontrol lenguhan...” ooh itu alesannya, bukan karena ga boleh toh, pikir gw lega. Kemudian gw menyalakan mp3 (dicolok langsung dari hape), dengan volume agak keras. devina nampak kebingungan.

    Persiapan selesai, gw menutup pintu mobil, tangan kiri gw langsung menyambar selangkangan devina. “hhhiiiaaaaahhh...aahhhh....” devina kaget bercampur melenguh, tangannya langsung memegang tangan gw, tapi bukan berusaha melepaskan, lebih sekadar hanya memegang. Tangan gw menggoyang selangkangannya lebih cepat. devina melepaskan pegangan tangannya dan beranjak memegang sandaran kepala. Badannya merosot dan kakinya melebar memudahkan gw memainkan selangkangannya. “aaahhh....aaahhh....nggghhh...aaahhhh...eenaaaak” lengkingan, ya devina lebih seperti melengking dibanding melenguh karena suaranya memang keras (dan cempreng). Tangan kanan gw kemudian meremas dadanya, jempol dan kelingking gw menekan dua puting devina yang sudah menonjol dari balik tanktop dan meremasnya ke tengah, cara ini berhasil pada oni, tp ternyata dada devina lebih besar dari jangkauan jari gw. “hiyaaahhh...iyaaahh...aahhhh....teruuss” devina terus melengking sambil beberapa kali menggigit bibir bawahnya. Mobil kami memang terparkir menghadap tembok, jadi tak perlu khawatir orang lalu lalang di depan, dan kaca samping cukup gelap, mungkin yang mencurigakan hanya mobil yang sedikit bergoyang.

    Gw berusaha memasukan tangan gw ke balik tanktop devina. Baru masuk hingga perut, gw lihat spion tengah, oni sudah berjalan sangat dekat ke mobil. Gw langsung menghentikan permainan. “sshh...aaaahh....hah, kok berenti?aaaahhh” Lenguhan devina terpecah. Tak lama oni membuka pintu tengah mobil. “udah lama nunggunya?” tanya oni polos. “enggak kok, baru masuk” jawab gw singkat. Gw lihat kaki devina merapat dan tangannya seperti berada di daerah selangkangannya. Mukanya nampak agak kesal. Ia kemudian mengambil hapenya, dan mengirim pesan ke gw.
    K, E, N, T, A, N, G, !
    ya, 8 pesan yang berbeda, menyusun huruf menjadi vertikal ke bawah dengan semua capslock. Gw hanya tertawa kecil. oni agak kebingungan. “gimana nii? Dapet poto apa aja?” gw berusaha memecah suasana. “ahh ga banyak, ribet ada ibu-ibu arisan gitu dimana-mana”jawab oni sambil mengembalikan kamera gw. Kami kemudian melanjutkan perjalanan.

    Sepanjang perjalanan, devina nampak bersungut. Sepertinya efek kentang td masih ada. Sekitar jam 4, kami memutuskan untuk mampir ke Joger. Gw baru tau ada joger di daerah bedugul, kirain Cuma ada di Kuta. Parkirannya cukup luas, ga kayak yang di Kuta. Kebetulan gw parkir di antara mobil gede (hyundai H1 dan bus kecil) dengan menghadap ke tembok. Gw sebenernya malas untuk belanja, ga punya duit dan ga ada yang dikasih oleh-oleh juga. Baru beberapa langkah masuk ke toko, devina tetiba bilang “aaah lupa dompeet!pol pinjem kunci, ambil dompet”. Bukan ga mau ngasih, tapi devina yang emang teledor, gw takut dia lupa ngunci atau apalah, akhirnya gw ikut devina balik ke mobil sementara oni masuk duluan. Gw buka pintu tengah kiri, setengah badan devina masuk ke mobil , “duuh pol, mana yaaak” suara devina dari dalam mobil. Agak risih juga nunggunya akhirnya gw rencana ikut nyari, bukalah pintu kanannya, badan gw lebih condong masuk.

    “kena lo!” ucap devina tetiba sambil memegang kerah baju gw, dan sepersekian detik bibir kami sudah bersentuhan. Lidahnya menari liar. Gw bertumpu ke tangan kiri, dan tangan kanan gw langsung menyusup ke balik tanktop devina. Posisi devina yang membungkuk membuat sela yang cukup besar di tanktopnya, tanpa kesulitan tangan gw menyusup ke balik tanktop devina dan langsung memeras dada kanannya. “mmhhh!” devina seperti memekik di tengah ciuman kami.

    Posisi membungkuk dan tidak memakai bra membuat dada devina bergantung bebas. Dengan sedikit usaha jari gw menemukan putingnya, dan langsung gw cubit kecil. “hhhmmmhh...mhhh” lenguhan devina semakin menjadi-jadi. Gw sadar kalo sampe gw lepas ciumannya, dia bisa melenguh kencang. Masih kentang dengan kuluman oni tadi, gw merangkak masuk sambil tetap berciuman. Gw memposisikan diri gw duduk di jok tengah dan menutup pintu. Gw lepas remasan gw dari dada devina dan mengarahkan tangan devina ke selangkangan gw. Ga ada penolakan, malah begitu tangannya mendarat di selangkangan gw, ia langsung memijatnya perlahan. Tanpa komando, devina memasukan tangannya dan menarik wapol.jr keluar. ia kemudian mengocoknya perlahan. devina melepaskan ciumannya kemudian tersenyum nakal, “gede...”. “muat di mulut?” tanya gw menggoda. “muat...kayaknya” devina menjawab bahkan udah ga liat mata gw, tatapannya tertuju pada wapol.jr “sepongin dong, mau?” udah ga tahan juga akhirnya gw minta. devina ga menjawab, ia merangkak masuk sedikit dan perlahan kepalanya mendekat ke wapol.jr. lidahnya kemudian menjilati kulup wapol.jr sambil tangannya masih mengocok pelan. Gw bener-bener seperti dipermainkan. devina menjilati wapol.jr dengan sangat pelan, jelas ia menggoda gw.tangannya kemudian bergerak sedikit naik, menahan kulup wapol.jr agar menghadap ke atas, kemudian ia menjilati sambil sesekali mengecup batang wapol.jr. kemudian devina membuka lebar mulutnya dan perlahan mengulum wapol.jr, namun ia hanya berhenti sampai kulup, dan di dalam mulutnya ia kembali menjilati kulup wapol.jr

    Sensasi yang sangat berbeda dengan oni yang liar dan langsung melumat wapol.jr, devina bermain tempo untuk terus menggoda gw. Tangan gw yang menganggur akhirnya kembali mengarah ke balik tanktop devina, gw keluarkan kedua dada devina. Gw ga liat tp gw bisa merasakan dua dada bulat menggantung itu berebut sesak keluar dari Tanktop. Sulit tapi gw berhasil menyentuh kedua putingnya bersamaan dan mulai memijatnya. Setelah mendapat banyak rangsangan, barulah mulut devina turun lebih jauh. Kuluman devina berbeda dengan oni, jika oni mengulum dengan cepat, devina mengulum dengan teempo yang jauh lebih lambat, namun sedotannya sangat kuat. Pada sedotan ke empat, devina mengambil napas dalam dalam dan kembali mengulum, kali ini berbeda, mulutnya sama sekali tak berhenti hingga hampir mencapai pangkal wapol. Jr.gw ga tahan juga diginiin, akhirnya tangan kiri gw meremas dada devina, dan tangan gw menahan sambil mendorong kepaalanya. Perlahan tapi pasti kepala devina terus ke bawah, dan akhirnya mulut devina sampai ke pangkal wapol.jr. Beberapa detik, devina perlahan melepaskan kulumannya, sangat perlahan, hingga terdengar bunyi “flop” ketika wapol.jr benar-benar keluar dari mulutnya. devina kemudian mengocok wapol.jr perlahan sambil seperti bersiap akan mengulumnya lagi, kocokan yang lebih seperti memijat; sangat lambat namun begitu terasa. Seperti sebelumnya, mulut devina kembali bermain di kulup wapol.jr, beberapa detik menjilati hingga gw bener-bener terbang saking enaknya, perlahan mulutnya turun. Sedotannya makin kuat, benar-benar wapol.jr seperti tersedot ke gumpalan lembut hangat nan basah.

    “tiid tiid” mobil H1 sebelah tetiba berbunyi, seperti ada yang membuka kunci pintu dari kejauhan. devina langsung melepas kulumannya . beberapa detik kemudian muncul seorang bapak-bapak paruh baya, membuka pintu tengah H1 yang benar-benar bersebelahan dengan mobil kami. devina seperti berpura-pura mencari sesuatu sementara gw duduk, menutupi wapol.jr di balik kaos sambil berpikir, “sialan”, Cuma itu yang bisa gw pikirkan dan katakan di tengah kekentangan ini. bapak paruh baya itu kemudian disusul beberapa anak muda yang sepertinya penyewa mobil tersebut, membawa banyak kantong belanjaan. “mereka siap-siap jg bakal lama”, pikir gw. Mata devina juga menunjukan hal yang sama, KENTANG!

    Akhirnya kami memutuskan untuk masuk kembali ke dalam toko. Gw masih bersungut, devina menggandeng tangan gw sambil sedikit bersandar manja “kentang yaa... maaf pol, gimana doong” gw Cuma membalas dengan senyum kecut. devina kemudian menarik tangan gw, seperti ingin berbisik, “emang enaak kentaaaang”. Karena jeda waktu yang lumayan lama, ketika masuk, oni sudah membawa beberapa barang di dalam kantong belanjanya. 15 menitan gw udah ga tahan di dalem toko, banyak yang lucu dan bisa dibeli sihh, tapi duit agak mengerikan. Akhirnya gw memutuskan untuk keluar dan merokok. Mobil H1 di samping sudah pergi, berganti dengan fortuner hitam yang aroma mesinnya masih panas, baru dateng nih. Gw menunggu di mobil sambil merokok hingga ketiduran.

    “Pol, pol bangun pol” oni membangunkan gw. Ia datang tanpa belanjaan. “ga jadi belanja?” tanya gw, “noh devina lama bener milihnya, antrian kasir gila juga, yauda gw titip ke dia aja, tanggung jawab. Lagian lama bener lo nyari dompet?” sungut oni. “ye dia tau naro dompet di mana, nyari ampe buka-buka semua pintu ga nemu-nemu” gw berkilah. oni kemudian memutar dan masuk ke pintu depan, sementara gw daritadi duduk di bangku kemudi. oni duduk dan menyibak rambutnya, “udah sore masih panas aja, nyalain ac pol”.

    3 menitan kami ngobrol, tetiba oni nyeletuk “masih kentangnya?” gw ga menjawab, badan gw mengarah ke oni, tangan kiri gw mengait ke joknya, dan langsung mencium oni liar sambil tangan kanan gw meremas dadanya. “shhh mmfff...” oni seperti keenakan tapi ingin bicara sesuatu tapi tertahan. Tangan oni langsung beranjak menuju selangkangan gw dan mulai membelai wapol.jr. beberapa detik kemudian ia sudah berhasil menarik wapol.jr keluar. gw melepas ciuman gw, dan oni seperti paham yang harus dia lakukan. Dengan napas yang masih memburu kepalanya bergerak menuju wapol.jr. dengan sekali hentak, oni mengulum setengah wapol.jr, sambil tangannya mengocok perlahan. Berbeda dengan devina, kuluman oni cenderung cepat namun terasa hambar. Butuh beberapa lama sampai gw menikmati kulumannya. oni semakin mempercepat tempo kulumannya, memang terasa enak namun gw masih membayangkan kuluman devina yang bener-bener intim dan sangat pelan itu. Akhirnya gw sedikit mendorong kepala oni untuk melepaskan kulumannya. “aaah kenapaa?” oni seperti tidak terima keasyikannya dilepas, “gamau gw mulu yang kentang, gw mau buat lo kentang aja” gw mencari alasan. “aaah jangaaan” walau berkata jangan, namun oni meregangkan kakinya selebar mungkin di mobil yang kecil ini sambil posisi duduknya sedikit menurun. Tanpa basa basi tangan kanan gw menyusup ke balik celana oni, meraba lembut celana dalamnya. “udah basah aja?” goda gw, oni hanya membalas dengan senyuman nakal.
    Gw memasukan tangan gw lebih dalam, hingga menyentuh bibir vagina oni yang mulus tanpa bulu sama sekali. Gw langsung mencari klitorisnya. “sshhh aaahh” oni mendesah pelan. Jari telunjuk dan manis gw membuka bibir vagina oni sementara jari tengah gw bergoyang liar mencari klitoris sekaligus merangsang lubang vaginanya. Tak lama berselang, jari tengah gw mulai memainkan klitorisnya. “aaah aaah ahhh ahhhh” oni mendesah teratur (penjabaran apa ini mendesah teratur). Tangannnya meremas kedua dadanya sendiri. “aaahh turunaan lagi pool” oni seperti kurang puas hanya klitorisnya yang dimainkan. Jari tengah gw beranjak turun dari klitoris ke lobang vaginanya, sambil jari lain membelah bibir vaginanya agar terbuka. Perlahan jari tengah gw masuk ke dalam lobang vaginanya yag telah basah, mengocoknya dengan tempo makin cepat. “aaahhhhhhhhh” oni melenguh keras. Seperti kurang, jari telunjuk gw ikut masuk.sekarang vagina oni dikocok oleh dua jari. “haaaahhhh...haaaachhhh...aaachhh” oni melenguh, menggelinjang sambil semakin liar meremas dadanya sendiri.

    Jari manis gw seperti ingin diajak main, ikut untuk berusaha masuk lobang vaginanya. Permainan cepat beralih ke tempo lambat dengan hadirnya pemain baru. Agak sulit memasukan tiga jari ke vaginanya yang mungil. Perlahan akhirnya masuk, dan sudah sangat basah, gw kocok perlahan. Tangan oni melepas remasan ke dadanya sendiri dan mencengkram kuat tangan gw. “sshshh...jangaan...dilepaaas...” mata oni sudah sangat horny, napasnya sudah memburu sangat berat. Gw mengocoknya makin cepat, oni melenguh dan menggelinjang makin liar. “aaah mau titiit..mau titiitnya... masukiin poool” ya begitulah yang dikatakannya, oni meracau cukup kencang. Kedua tangannya menarik lengan gw seperti ingin berbisik sesuatu, “sshhhh..fuck....me...nooow!” matanya liar, menghunus tajam.

    “klek”, pintu bagasi tetiba dibuka. Gw langsung menarik tangan gw. oni langsung menengok ke belakang dengan tatapan tajam “sialaan!” ia bergumam. “lama banget kasirnya..” tanpa merasa apapun devina menaruh barang di bagasi sambil terus berceloteh. Sampai membuka pintu dan duduk di row tengah pun devina masih berceloteh. Gw dan oni ngeliatin terus dengan mata tajam. “...eh, kalian kenapa?” devina seperti sadar lagi diliatin. Gw menyalakan mobil sambil menjawab ah=gak ketus, “gapapa, lo bawel”. Dalam hati terus bergumam, “god! Kapan kekentangan ini berakhir”.

    Sepanjang perjalanan pulang, kami hanya mengobrol ngalor ngidul, hubungan kami makin dekat, namun tetap masing-masing mereka tidak mengetahui yang dilakukan oleh temannya. Gw sendiri agak bingung kenapa ini harus dirahasiakan, tapi gw ikuti aja pola permainan mereka. Baru jam 8 kammi sampai, rupanya Bali bisa macet juga, hahaha.

    Sampai kamar, gw langsung melempar diri ke kasur, devina merapikan belanjaannya, memilah punya dia dan oni, sementara oni sesaat sampai langsung ngedumel, “lapeeer”. oni memutuskan untuk membeli makanan di luar, “mau beli apa nii?” tanya devina, “BK, tadi pagi ga jadi kan, ngidam gue...” jawab oni, “gw nitip rokok dong”, gw menambahkan dan hanya dijawab dengan anggukan kepala sambil oni berjalan ke luar.

    “mandi aaah, gerah, lengket” devina beranjak mengambil handuk. Gw yang masih kentang ini langsung beranjak bangun mendengar kata-kata devina. Ya, devina menjemur handuknya di luar kamar, di teras. Ketika ia mengambil handuk, gw langsung memeluknya dari belakang. “pol, aapaan sih” devina seperti risih, namun tangannya tak berusaha melepaskan pelukan gw. Gw sapu rambutnya, kemudian berbisik lembut di telinga kanan devina “masih kentang sayaaang” sambil kemudian sedikit menjilatnya. “shhhh” devina bergidik. Gw membalikan tubuh devina, kemudian menciumnya, devina membalas ciuman gw. Lidah kami saling berkait. Jarak tubuh gw dan devina cukup jauh, jadi agak susah untuk ciuman berdiri. Gw kemudian menggendong devina, menyilangkan tangan gw di bokongnya, ia seperti paham langsung merangkul di leher dan kakinya mengunci di punggung. “yuk” bisik gw lagi pelan kemudian menciumnya dan berjalan menggendong devina ke dalam kamar. Gw kemudian duduk di bibir kasur sambil tetap menggendong devina. Posisi devina sekarang duduk di pangkuan gw dan kami saling berhadapan.

    “aku mau mandii...lengkeet” kata devina manja, “yaudah aku bantu telanjangin” jawab gw nakal. “aaah kamu mah” devina menjawab seperti tanpa negasi. Gw cium lagi bibirnya. Perlahan tapi pasti devina melumat bibir gw. Sambil tetap berciuman gw meremas bokong devina dan bergerak menghentak maju mundur. Posisi kami memungkinkan wapol.jr dan vagina devina saling bergesek di balik celana masing-masing. “mhhh..mhhh” devina mulai melenguh. Okeh ini posisi yang susah untuk ciuman, gw terlalu menengadah dan devina harus membungkuk.

    Gw melepaskan ciuman kami, tangan gw kemudian memegang ujung tanktopnya dan perlahan menariknya ke atas. devina membantu dengan mengangkat tangannya. Dan beberapa detik saja untuk membuka tanktop devina dan gw lempar sembarang. Kedua payudaranya menggelantung bebas. Ya devina memang tdak memakai bra seperti yang gw pinta. Dadanya besar menggelantung mancung dengan puting pink kecoklatan yang sudah menegang. Gw meremas kedua dadanya sambil menjilatinya. Gw jilati bergantian puting kiri dan kanannya sambil sedikit menggigit kecil. “aaahh...aaaahhh” devina melenguh semakin kuat. Tangannya kemudian merangkul kepala gw dan menenggelamkannya ke antara dadanya. Tangan gw beranjak merangkul devina, sambil gw jilat dada kirinya. Menjilati serta menghisap kuat putingnya yang sudah menegang.

    Beberapa menit berselang, gw posisikan tubuh devina tidur telentang. Kembali gw menjilati dadanya. Ukuran dada devina memang jauh lebih besar dari oni, lebih menggemaskan untuk diremas dan dijilati. Gw kemudian makin menurun ke perutnya, dan tangan gw mencoba membuka celana devina. Seperti membantu, devina mengangkat bokongnya untuk mempermudah celananya turun.gw lepas dan lempar sembarangan celananya, devina saat ini hanya tersisa mengenakan celana dalam berwarna biru navy yang sudah sangat basah. Gw menggoda devina dengan menekan-nekan bibir vaginanya dari luar celana dalam. “shh aahhh ahh...pol nakal aaah, jangan dari luar” devina seperti memberi kode untuk menelanjanginya, bokongnya terus diangkat. Akhirnya gw lucuti pakaian terakhir yang menempel di tubuh devina. Terpampanglah vagina berwarna pink merekah dengan rambut-rambut halus yang tidak tipis, namun juga tak lebat.

    Gw posisikan kaki devina mengangkang sejadinya, sambil gw tidur tengkurap dengan kepala tepat di atas vagina devina. Kemudian perlahan gw jilati bibir vaginanya. “aaaahhh...shhh...aaaaah” devina mulai melengking. Suara cempreng sange ini bener-bener bikin gw makin bergairah. Kedua tangan gw kemudian meremas kedua dada devina sambil mulut gw menjilati vagina devina. “aaahhhhh...aaaahhh” lenguhan devina kian lama kian kencang. Gw meremas dan mencubit dada devina sambil memilin putingnya. Beberapa kali badan devina membusur. “aaaahhhhh...mmppfff...enaaak...enaaaak...teruus” devina melenguh sejadinya sambil tngannya menjambak, dan menekan kepala gw ke vaginanya.

    Entah kenapa agak sulit untuk gw mencari klitoris devina, akhirnya gw lepaskan remasan dan jilatan gw, kemudian kedua tangan gw melebarkan bibir vagina devina. Bibir dalam berwarna pink segar merekah yang bersih dan sudah banjir itu terpampang tepat depan mata gw. Dengan begini, gw lebih bebas menjilati vagina devina tanpa harus bertengkar dengan bulu-bulu pubisnya. Dan gw juga bisa melihat klitoris devina, langsung gw jilati klitoris itu perlahan. devina mengambil bantal dan menutup wajahnya... “mmmhhhh...mmhhhh...mhhhh!” suara lenguhan itu akan terdengar sangat kencang jika tidak ditutupi bantal. Dari klitoris, gw beranjak sedikit turun ke lubang vaginanya, dan berusaha memasukan lidah gw ke dalam. “aaaahhh!teruuus!” lenguhan devina dari balik bantal terdengar makin kencang. Sesaat gw melepas jilatan gw dan melihat kedua tangan devina tengah meremas kedua dadanya sendiri.

    Gw kemudian memposisikan tangan kiri gw membelah bibir vaginanya, lidah gw menjilati klitorisnya, dan telunjuk kanan gw bermain di bibir lubang vaginanya. Sambil gw jilati makin cepat, gw berusaha memasukan jari gw ke lubang vaginanya. “aaaaaaahhhh!” devina melengking ketika jari gw perlahan masuk ke dalam lubang vaginanya. devina sesaat melepas bantalnya dan berusaha bangun, “aaahhh, aku masih virgin sayaaang” devina nampak khawatir di tengah libidonya. “ini ga ngerobek selaput kok, keep calm and stay moaning” jawab gw berusaha menenangkan. “bener?” devina masih nampak ragu. “take my word” jawab gw meyakinkan, dan ia kembali tidur dan menenggelamkan wajahnya di balik bantal.

    Permainan berlanjut, gw kembali menjilati klitoris devina dan telunjuk gw sudah masuk setengah di lubang vagina devina. Perlahan telunjuk gw bergerak keluar masuk. “aaahh...mfff...aahh...” devina melempar bantal yang menutup wajahnya, dan melenguh kencang sambil tangannya kembali menjambak gw.

    Berganti jari, gw keluarkan telunjuk dan berganti dengan jari tengah gw masuk perlahan. Posisi ini agak susah untuk sambil menjilat. Akhirnya gw lepaskan jilatan gw dan bergerak tidur menyamping bertopang sikut di samping devina. “pelanin suaranya sayang” bisik gw perlahan kemudian menciumnya untuk mencegahnya melenguh makin kencang. Kaki devina masih mengangkang sangat lebar, jari tengah gw masuk perlahan. Nafas devina sudah sangat memburu di balik ciuman kami. lidahnya menarik paksa lidah gw ke dalam mulutnya. Sementara jari tengah gw hampir mencapai semacam tulang lunak di dalam lubang vaginanya. Seluruh jari tengah gw sudah berada di dalam vagina devina, gw kemudian mengocok perlahan.

    devina seperti orang kerasukan. Napasnya berat, tubuhnya meregang, tangannya mencengkram kuat seprei, matanya terbelalak ke atas. “hhhhaaaaahh...hhaaaaahhh...”suara lengkingan itu berubah menjadi suara lenguhan berat. “sshh aaaaaaaaaaaaahhhh” sesaat kemudian tubuhhnya membusur dan bergetar, diiringi dengan semburan hangat membasahi jari tengah gw. devina mengalami orgasme pertamanya. Tubuhnya lemas, namun masih bergoyang perlahan mengikuti pola jari tengah gw yang mengocoknya maju mundur dan memutar. Tangan devina kemudian berusaha meremas wpol.jr dari luar celana, dan dengan segenap usaha devina menurunkan celana gw. Ia langsung mencengkram wapol.jr dan mengocoknya kencang.

    Gw menyetop permainan jari gw. Dan seperti paham, devina bangkit perlahan, gw memposisikan diri duduk bersandar di kepala kasur sambil menurunkan celana dan celana dalam gw. devina berbalik, berlutut dengan kepalanya menghadap wapol.jr. ia memperhatikan sejenak wapol.jr sambil mengocoknya perlahan. “kenapa diliatin sayaang?” tanya gw agak ragu. “gede ya” devina memuji wapol,jr. Gw mau nanya “lah bukannya udah sering liat kontol pas di klub?” tapi gaenak juga nanyanya, maka hanya gw jawab senyuman.

    Perlahan devina mengulum wapol.jr. ia tidak serta merta memasukan seluruh wapol.jr ke dalam mulutnya, namun memainkan kulup wapol.jr dulu. Hisapan yang kuat ini kembali gw rasakan. Sangaaaat perlahan devina mengulum wapol.jr, memberikan sensasi basah hangat dan hisapan yang kuat. Gw bisa melihat pipi devina sampai kempot karena kuatnya ia menghisap. Perlahan hingga setengah ia mengulum, kemudian mengeluarkan lagi. Beberapa kali hingga membuat gw melayang dan bahkan melennguh. devina kemudian menghirup napas panjang, dan perlahan mengulum kembali wapol.jr. terus menurun secara sangaaaaat perlahan, melewati setengah batang wapol.jr. gw merasakan kulup wapol jr. Menyentuh sesuatu, amandel?entahlah. akhirnya seluruh batang wapol.jr dihisap habis. devina mengulum seluruh batang wapol.jr beberapa detik, kemudian perlahan kembali melepaskannya. “phuaaah, bisa ternyata ampe ujung, panjang banget sih, aku kira ga muat” devina kembali memuji wapol.jr dengan liur yang berantakan di mulutnya.

    Setelah beberapa saat mengocok, devina kembali mengulum wapol.jr. gw merasakan hampir keluar setelah sekitar 10 menit dikulum. “shhh aaahh...sayang aku mau keluaar” dan devina tidak menjawab, malah ia mengulum makin kuat. Tangannya mengocok pangkal wapol.jr. tubuh gw membusur, dan *crooot croot croot* tiga semburan kencang bersarang langsung ke mulut devina. Ia melepas kulumannya. Tangannya menggenggam erat dan mengocok perlahan wapol.jr, rupanya karena akumulasi kentang tadi, masih tersisa beberapa peluru. Dan *crot crot* dua semburan yang cukup banyak terhempas ke wajah devina. Bukannya marah, devina malah tersenyum dengan wajah dan mulut belepotan sperma. Ternyata ia belum menelan seluruh sperma, sehingga terlihat cairan putih kental itu mengalir dari tepi bibirnya.

    “yaah, maaf sayang..mukamu jadi belepotan sperma”, gw agak merasa bersalah juga nyemprotin sperma ke wajah devina. Tapi ia malah kembali tersenyum, “gapapa kan mau mandi... enak juga ternyata kalo sadar” jawab devina. Kami kemudian duduk sambil merapikan diri. “lho? Pintu ga ditutup daritadi?” gw agak kaget ketika melihat pintu depan kamar kami terbuka lebar. devina juga agak kaget setengah panik, “jadi daritadi kita maen...pintu kebuka? Aku ngengkang nungging madep pintu?”. Gw Cuma bisa mengangguk getir. “yaaah...rejeki bener yang lewat, ah sialan” jawab devina seperti menekan paniknya sendiri. “kalo ada yang liat memek kamu mah pasti masuk minta gabung, menggoda banget ituuu...” jawab gw memecah ketegangan. “yee sembarangaan!” jawab devina bercanda sambil mengocok wapol jr. Yang sudah mulai menyusut.

    devina kemudian bangkit, mengambil handuk yang terhempas di lantai dan memungut pakaiannya yang bertebaran, kemudian beranjak ke kamar mandi. Sementara menunggu, gw merapikan celana dan merokok di teras depan. Tak lama, sepasang turis luar lewat menyapa gw. “hello” gw hanya membalas hal yang sama. “so, you’ve done finally?” tanya si pria sambil memeluk pasangannya. “hah?done?what?” gw agak kebingungan sambil lumayan keringet dingin, rupanya mereka liat gw dan devina tadi.
    “lucky or dandy, breakfuck with one girl and pussydinner with another” kata si pria lagi sambil sedikit tertawa. Waduh, ternyata ada yang liat...

     Part. V: international affairs

     Percakapan gw selanjutnya dengan duo bule ini mostly bahasa inggris, jadi gw translate aja ya ini kata-kata dua bule ini. “gw jarang nemu orang lokal yang berani buka-bukaan, atau kalian emang eksib?” tambah si pria.

    “enggak, Cuma terlalu horny aja ampe lupa tutup pintu” jawab gw sekenanya.

    “hahaha, gadis yang berani, coba kamu berani juga” jawab si pria sambil menengok setengah menantang si wanita.

    “oiya, pierre, ini teman gw, pho” si pria memperkenalkan diri dan “teman”nya.

    Si wanita menjulurkan tangannya sambil menyebut nama thailand yang gw ga tau apa. Terlalu aneh untuk diinget. dan entah kenapa orang thailand punya nama yang susah tapi dipanggil Cuma satu suku kata. “wapol” jawab gw menjabat tangan si wanita dan si pria.


    Okeh, Pierre ini, kelihatannya wajah eropa, kalo tulisannya bener itu, berarti dia orang perancis. Tinggi melebihi gw tapi agak kurus, dengan rambut kriting hampir sebahu berwarna coklat tua. Si wanita sendiri, muka Asia, gw agak bingung awalnya itu thailand, taiwan, atau vietnam. Tingginya mungkin se-devina, dengan perawakan Padat berisi, dan dadanya cukup besar (hanya sedikit lebih tebal dari oni). Rambut hitam kuncir kuda dengan sedikit ombre merah di ujungnya.


    Mereka bilang mereka ketemu di Turki, dan karena punya hobi sama akhirnya liburan berdua ke Indonesia. Pho berkuliah di turki sedangkan Pierre kerja di travel agent Perancis dan lagi mandu orang di turki. Ga lama berselang, oni datang. “Your other bitch”bisik pierre ke gw sambil sikunya sedikit menekan perut. Mereka berdua dengan pembawaan yang asik, dengan gampang nyatu dengan oni. Ga nyangka juga kami ngobrol ngalor ngidul cukup lama di depan kamar. Sekitar 15 menit berselang, devina keluar dari kamar sambil masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dan di sini gw tau kalo devina hampir gabisa bahasa inggris! Susssssaaaah bgt bahkan buat perkenalan. Pho yang emang bahasa inggrisnya logat banget mungkin mempersulit keadaan.


    Singkat kata singkat cerita, kami akhirnya main ke kamar Pierre dan pho yang berjarak 3 kamar dari kamar kami. melanjutkan ngobrol ngalor ngidul. Waktu menunjukan jam 10an, Pho tetiba mencetus ide untuk ke gogo bar di sepanjang legian, karena kebetulan stok bir di kamar mereka abis (kami menghabiskan 2 botol besar bir sambil ngobrol). Gw yang emang udah capek menolak, devina memaksa untuk ikut karena dia butuh translator, oni yang memang mulai dekat dengan Pho akhirnya memutuskan untuk ikut walau sebenernya dia agak malas, alasan lain mungkin untuk jagain devina yang bisa tetiba ditelanjangin bule lagi, atau bahkan oleh pierre. Setengah sebelas akhirnya mereka pergi ke gogo bar dengan pakaian seadanya. Oiya, devina saat itu memakai kaos crop putih tipis, bh berwarna hitam, dan hotpants. Di sini hanya devina yang sudah mandi (oke ini info ga penting).


    10 menit berselang gw mulai bosen, akhirnya memutuskan untuk mandi dan tidur, capek juga perang kentang sesiangan diakhiri dengan pertempuran dengan devina, walau wapol.jr masih penngen bersarang. Jam 11 an gw kelar mandi, merokok sebentar, mulai tambah bosan dan malah gabisa tidur. Akhirnya memutuskan untuk turun ke lobi, iseng aja mau ngobrol karena sepertinya lobi agak ramai.


    Di lobi, beberapa orang berlalu lalang, tapi mostly lokal. Ga nyampe 10 menit gw duduk di lobi, tetiba sepi, gda orang, sisa bli penjaga front desk. Akhirnya gw ngobrol dengan dia, asik juga ternyata diajak ngobrol. Ternyata hostel ini lebih sering dijadiin sarang bule karena akses yang gampang dan bli ini cukup aktif di tr*padvis0r. Lagi asik ngobrol tetiba seorang wanita masuk dengan jalan yang udah ga genah sambil meracau ga karuan (lebih ke tereak-tereak sih). “ah elah tau ga kuat mabok ya jangan mabok” celetuk bli.


    Kami inisiatif memapah wanita ini duduk di kursi lobi. Bli tetiba beranjak ke frontdesk dan ngambil sebuah kunci. “papah ke kamar aja mas, biasa ni orang mabok mulu”. Akhirnya kami berdua memapah wanita ini ke kamarnya yang berada di lantai tiga, susah juga. Oiya, wanita ini menggunakan minidress hitam dengan pola bunga warna merah. Rambut hitam panjang sepunggung, kulit sawo matang cenderung gelap, dan dari wajahnya tebakan gw sih antara india, pakistan, atau arab. Badannya lumayan bongsor, guede tinggi (perkiraan sekitar 165-170) dengan bokong dan dada yang luar biasa gede (tipikal badan arab).


    bli tetiba bilang “sanah sanah, mabok mulu ditinggal mulu” dari keterangan bli, gw tau dia aslinya berempat di kamar ini, dan Shannah (menurut data reservasi namanya ini), itu guampang bgt mabok dan sering dibully temen-temennya. “maboknya rusuh nih mas, biasanya kalo balik duluan ada temennya, sekarang sendirian malah, bingung saya” bli masih melanjutkan kedumelan. “taro kamar saya dulu aja gimana? Sambil nunggu temennya” kata gw memberi ide. Kasian juga gw sempet denger kalo bli ini kemaren bersihin pecahan botol dan korden di kamarnya banyak yang copot.


    “gapapa nih mas? Ngerepotin lho ini sanah” tanya bli sambil memapah shannah yang masih meracau. Gw hanya mengangguk sambil senyum dan keberatan memapah. Akhirnya jalur berubah, mengarah ke kamar gw. shannah yang mulai ga sadar direbahkan ke kasur yang ada di dekat jendela. Bli bilang dia mau nelpon temennya atau nyari, dan karena satu rules, ketika temennya datang dia harus nelpon gw dulu untuk ngasi tau kamar. Gw okein ajalah karena bingung.


    Bli keluar, pintu gw biarkan terbuka. Shannah bangun, dengan keadaan masih typsi dia meracau dalam bahasa yang gw gatau (entah india atau pakistan, atau arab). “speak english please, i know only english and indonesian” jawab gw ketus.

    (sebelumnya, perbincangan gw dan shannah make bahasa inggris, tp gw translate aja biar bacanya enak)


    “ngapain lo di kamar gw? keluar!” jawab shannah setengah teriak. “lho ini kamar gw” jawab gw sambil bakar rokok (lagi). Gw duduk di kasur sebelahnya. Shannah kemudian perlahan bangun, duduk di samping gw, nyenderin kepalanya ke bahu gw “jadi ngapain gw di kamar lo?” gw sebenernya agak males ngeladenin orang setengah mabok gini, berat pula. “tebaak” jawab gw sekenanya.


    “lo mau merkosa gw ya? Yaa? Ahahhaha” Shannah menjawab dengan nada mabok.

    “kalo gw mau merkosa, gw uda tutup pintunya, dan lo udah gw telanjangin” jawab gw cuek.

    Shannah bangkit, jalan sempoyongan ke arah pintu, dan menutup (lebih ke membanting) pintu.

    “so, pintu udah ketutup, lo mau merkosa gw?” tanya shannah lagi sambil perlahan jalan dan duduk di samping gw lagi.

    “ni orang nanya perkosa-perkosa sebenernya takut apa minta sih” pikir gw, tapi langsung buyar karena gw tau namanya mabok ya ga jelas.

    “jadi lo ga akan merkosa gw? bagus lah, jadi ngapain gw di kamar lo?” tanya shannah lagi

    Gw makin bingung jelasinnya gimana ini orang mabok. “ya lo nunggu temen lo di sini karena lo ga bawa kunci” jawab gw sekenanya.

    “temen gw? siapa?” daan shannah terus meracau yang gw makin ga ngerti. Yang gw tau, ini orang tetep bisa ngomong bahasa inggris lancar di tengah maboknya, kalo gw sih udah bingung,hahahaha.

    “anyway, mau minum lagi, minta minum” tambah shannah

    “air putih, mau?”

    “ga, pesen lagi, gw mau lagi”

    “ga ada, ini kamar gw, bukan bar, Cuma ada air putih”

    “ga mau, gw mau yang enak, yang nagih”

    “peju gw nih nagih” jawab gw setengah kesel sambil nyalain tv.

    Tetiba tangan shannah merambat ke paha gw, dan terus naik ke pangkal. Situasi awkward ini entah kenapa bikin wapol.jr enggan untuk berdiri.

    “gimana gw tau peju lo nagih? Bakal senagih pejunya (nyebut nama tapi gw lupa) ga?”

    “mana gw tau, coba aja sendiri” otak gw mulai berpikir jernih di tengah situasi aneh ini.

    Tetiba shannah menarik tangannya. “ga mau, emang gw pelacur!”

    “ya enggaklah, kalo pelacur dibayar, lo ga”


    Dan kami terus berdebat ampe gw males ngeladenin. Gw bangun, mau buka pintu lagi. Baru beberapa langkah, shannah ikut bangun, dan tumbang. Gw tangkep badannya dan berakhir dengan posisi meluk. Asli ni badan berrat banget. Dia mulai sadar dan mencoba berdiri. Mata shannah menatap lurus mata gw. “ini di mana? Kok ga seperti kamar gw” lagi! Shannah nanya ini lagi. “udah gw bilang lo itu lagi.....” dan shannah membungkam gw yang lagi ngomong dengan bibirnya. “diem, suara lo berisik, bikin pusing” jawab shannah kemudian sembari melepaskan kecupannya. Entah kenapa gw tetiba super nekat, tangan gw yang tadinya di bahu shannah, langsung gw lingkarkan ke punggungnya, gw tarik dan langsung mencium bibir shannah. aroma alkohol langsung menyeruak.

    Shannah langsung merangkul gw erat. Tangan kirinya melingkar di punggung gw, dan tangan kanannya memegang belakang kepala gw, menahan agar gw ga melepas ciumannya. Lidahnya langsung menari dalam mulut gw. “mmmhh mmmhh” suara-suara desahan napasnya mulai liar. Gw menurunkan tangan gw ke bokongnya, dan meremas kedua bokong shannah. “mmaaahhhh” sebentar shannah melepas ciumannya untuk melenguh dan langsung melumat kembali bibir gw. tangan gw kemudian turun ke pahanya, ya memang minidress shannah hanya sampai paha. Kemudian jemari gw menyelinap ke balik minidressnya dan menuju ke bokongnya.


    Ternyata shannah memakai g-string, sehingga jemari gw bebas meremas bokongnya yang ga ketutup apapun. Shannah perlahan bergerak, memposisikan kami tepat di bibir kasur. Kemudian ia melemparkan dirinya ke depan, mendorong gw jatoh langsung ke kasur. Sedikit gigi kami beradu ketika jatuh. Sekarang gw tidur telentang dan shannah berada di atas gw. bibir kami masih saling melumat. Bokongnya bergerak maju mundur seperti menggesek vaginanya yang tertutup gstring. Perlahan tangan shannah merambat turun, seperti ingin melepas celana gw, karena sulit sesaat ia melepaskan ciumannya. Namun tangan gw langsung menahan kepala shannah. Seperti paham, kami tetap saling melumat. Tangan gw perlahan turun, membuka celana gw sendiri. Karena celana dengan karet jadi mudah untuk diturunkan. Shannah mengangkat tubuhnya agar tak menghalangi gw menurukan celana. Dan *plop, wapol.jr langsung berdiri tegak setelah dilepaskan dari kandangnya.


    Shannah melepaskan ciuman kami. matanya menatap gw tajam dengan pandangan yang bener-bener sayu. Tangan kanannya menyingkap ke samping gstringnya, dan memposisikan vaginanya di atas wapol.jr. dan seketika ia seperti menjatuhkan pinggulnya. Sekejap wapol.jr masuk ke dalam vagina shannah yang sudah banjir. Tubuh shannah langsung bergoyang naik turun dengan cepat. Seperti membantu, gw juga menggoyangkan piggul gw naik turun berlawanan dengan shannah.


    Vaginanya memang tidak sesempit oni, namun sangat basah. Kami bergoyang begitu cepat dan kuat hingga menimbulkan bunyi keras di kasur. Badannya kini tegak, bertopang ke paha gw. kedua tangan gw meremas dadanya dari luar minidress. “aahhh...aaahhh... faster...fasteer” lenguhan shannah bener-bener kenceng. Tidak sampai 5 menit energi kami habis, goyangan shannah makin pelan. Shannah tumbang dan kembali menccium gw. gw rangkul punggunya, dan berguling sehingga skrg gw di atas. Gw cabut wapol.jr, dan menurunkan gstring hitam yang masih melilit di pinggang shannah. Terpampanglah vagina coklat dengan bulu yang cukup lebat. Dengan bibir vagina yang sedikit menganga dan cairan yang sudah membanjiri vaginanya. Shannah meregangkan kakinya, dan gw memposisikan wapol.jr, tepat di vagina shannah. Gw gesek-gesek sebentar wapol.jr di bibir vaginanya, ketika posisi gw rasa pas, langsung gw sodok wapol.jr masuk dengan sekuat tenaga. Bukan kesakitan, shannah justru melenguh sambil menggigit bibirnya “mmaaahhhhhh...mmhhh”. Gw pompa shannah dengan rpm tinggi. gw mengangkat perlahan minidress shannah, seperti paham shannah membantu gw melucuti minidressnya. Setelah melewati kepala, ia melempar minidress tersebut ke sembarang arah. Terpampanglah dua buah gunung yang luar biasa besar, mungkin bisa 38D atau lebih besar lagi. Shannah membuka kait bra-nya yang berada di sisi depan (gw baru tau ada bra yang kaitnya di depan). Dan dua gunung itupun tumpah ruah ke segala arah. Puting yang berwarna coklat tua sudah tegang.


    Kemudian kedua tangan gw meremas dada shannah. Ukuran telapak tangan gw bahkan ga bisa menutup seluruh dadanya. Gw benar-benar meremas dada shannah sekuat tenaga, “ahhhh...mmhhh...mpffff...”lenguhan shannah semakin menjadi-jadi. Badan gw mulai berkeringat, kami bersetubuh begitu liar kek binatang. Gw sendiri gabisa menahan lenguhan setiap wapol.jr menghentak hingga ujung dengan keras. “keluaaar...aaahhhhhh....” shannah melengking, badannya membusur, dan gw merasakan cairan hangat tetiba mengguyur wapol.jr, membuat semua menjadi semakin licin dan hangat. Gw bisa merasakan Vaginanya berdetak. Suasana liar ini membuat gw semakin horny. Goyangan gw semakin cepat. Gw kemudian menggigit puting Shannah. Tangan shannah merangkul gw dan mencakar punggung gw. “sshhh....aahhh... lagiii...” shannah seperti tak mengijinkan gw menghentikan permainan. Gw kemudian menggigit puting kanan shannah sembari tangan gw mencubit puting kiri shannah.


    4 menit berlalu. Entah kenapa gw ga kehabisan energi walau gw udah mulai keringetan. Gw justru terus mempercepat goyangan gw, juga shannah ikut bergoyang. “mau keluuaar” gw melenguh sedikit dan merasakan wapol.jr dikit lagi muntah. Ketika gw ingin mencabut wapol.jr, kaki shannah justru mengikat punggung gw. “di dalem... keluarin di dalem” pinta shannah dengan mata yang sayu dan suara yang mendesah. Shannah kembali membusung, “mau keluar jugaaa”. Ga lama gw meraskan kembali semburan hangat, dan membuat wapol bener-bener mencapai batasnya. Gw teken wapol.jr sedalam-dalamnya, kaki shannah juga seperti mendorong gw makin dalam. Dan croot croot crooot crooot.... 4 semburan tumpah ke dalam vagina shannah.


    Kami bertatapan, tubuh kami diam dan napas kami sudah ngosngosan kek abis lari 10km. Gw kembali melumat bibir shannah. Tangannya langsung melingkar di leher gw. kami terus berciuman dengan posisi wapol.jr masih di dalam vagina shannah. Shannah kembali bergoyang perlahan dan makin cepat. Seperti ga mau kehilagan momen, shannah langsung memutar tubuh kami, ia kembali berada di atas. Ia kembali bergoyang sejadinya.

    “stop stop, anu gw ngilu” pinta gw sambil berasa kalo wapol.jr mulai menyusut dan jadi terasa ngilu. Shannah berhenti, menaikan tubuhnya hingga wapol.jr akhirnya terlepas. Ia berjongkok di samping gw, vaginanya menganga dengan cairan kental putih meleleh keluar, sperma gw bercampur dengan cairan vaginanya kah? Yasudahlah.

    “mau lagi...mau lagi... kurang... gw mau lagi” Shannah masih berceloteh ga jelas sambil jemarinya menggesek-gesek vaginanya sendiri. “nanti, nunggu respawn, masih kecil anu gw” jawab gw sekenanya. Shannah seperti ga peduli, ia merebahkan kepalanya di paha gw, tangannya memegang (meremas lebih tepatnya) wapol.jr, mulai mengocok paksa. “ayo bangun ayo bangun”. Shannah memposisikan dirinya seperti posisi 69, kakinya berada di samping kepala gw. gw iseng memainkan vaginanya. “ahh yess” lenguh Shannah. ia kemudia menjilati kepala wapol.jr, ngilu banget sebenernya lagi susut dijilat begitu, tapi gw berusaha ga menolak dan berusaha fokus untuk wapol.jr kembali berdiri. Gw masukan jari tengah gw ke vaginanya, LONGGAR! Perlahan semakin cepat, Shannah yang melenguh terus menerus kemudian mengulum wapol.jr. karena ukurannya yang masih kecil, dengan mudah Shannah mencapai pangkal wapol.jr. bukan mengeluarkannya kembali, ia malah mengemut wapol.jr, menyedotnya seperti permen lolipop. Perasaan aneh, agak sakit kena giginya seperti digigit, tapi enak luarr biassa.


    Satu jari mungkin ga cukup, gw memasukan juga telunjuk gw ke dalam vagina Shannah, sementara jempol gw menekan klitorisnya. “mmhhh mmpppfff” Shannah melenguh dengan mulut penuh. Gw mempercepat kocokan gw di vaginanya, Shannah menggelinjang liar sambil terus melenguh. Tangan kiri gw yag ga ngapa-ngapain akhirnya iseng meremas dadanya. Agak susah sebenernya dengan posisi gini, akhirnya gw melepas permainan gw, memegang pahanya dan mengarahkan agar Shannah ada di atas gw. sekarang posisi kami 69, gw menjilati vaginanya yang menganga tepat di atas kepala gw, masih agak bau sperma sih tp yaudalah. Kedua tangan gw meremas dada Shannah seperti memerah susu sapi. Dadanya yang oversize itu bergelantung liar dan jadi sangat besar. Pelan gw memilin kedua putingnya, shannah melenguh kencang. Ia melepas kulumannya dan mengocok kencang wapol.jr yang masih tak berdaya, tubuhnya meregang seiring gw menjilati liar vaginanya dan berusaha memasukan lidah gw ke lubang vaginanya. Tangan kanan gw berhenti meremas dan memainkan lobang vagina Shannah, sementara lidah gw menjilati klitoris dan seluruh area vaginanya.

    Semenit berselang, tubuh Shannah bergidik, kemudian membusung. “ahhhhh comee...come..i cum!” teriak Shannah kemudian langsung mengulum seluruh wapol.jr. gw baru mengeluarkan jari gw dari dalam vaginanya dan cairan hangat menyembur dari vaginanya, MENYEMPROT muka gw. baru kali ini gw diludahin memek! Batin gw. cairan itu banyak dan menyemprot dari dalam. Gw langsung menjilati dan menyedot vaginanya, merasakan cairan hangat yang masih keluar dari vaginanya. “ayo berdiri!” keluh shannah sambil mengocok wapol.jr, ya setelah beberapa kali keluar hari ini, memang agak berat untuk wapol.jr melanjutkan ronde, atau paling ga, btuuh istirahat beberapa waktu.


    “tok tok” tetiba pintu gw yang ga dikunci, diketuk. Dari sela-sela paha Shannah gw lihat bli berdiri di ambang pintu. PANIK! Gw dititipin cewek malah dientot. Tapi dengan santai dan wajah datar bli berjalan masuk. “hah minta dientot lagi ya mas?” tanya bli santai. “eh..umm..iya bli” jawab gw sekenanya, takut kaget khawatir bercampur.


    Shannah tersadar ada orang lain yang masuk kamar, ia melepas kulumannya, dan langsung beranjak duduk di samping gw. “siapa lo?!” tanya Shannah agak galak sambil tangannya berusaha meraih seprei untuk menutup tubuhnya. “lo mau merkosa gw ya?!” tanya Shannah lagi. Pola pertanyaan yang sama. “enggak, lo udah telanjang juga ngapain diperkosa, gw dateng karena lo minta” jawab beli santai. Gw agak bingung di sini dan yang justru merasa paling malu karena wapol.jr yang masih tidur terpampang depan cowok. Gw bangkit dan menutup wapol.jr dengan tangan, entah kenapa gw males untuk bangun ngambil celanna. “lo mesen minuman kan? Yaudah gw bawain nih” jawab bli santai sambil mengangkat sebotol JW black. “iya? Gw mesen toh?” tanya Shannah sambil menyambar botol whiskey yang dibawa bli. Ia membuka dan langsung meneguknya seperti minum air putih. “pantes mabok banget ni cewek” pikir gw.


    Setelah beberapa tegukan, Shannah melihat ke arah gw, dan langsung melihat tajam wapol.jr. ia kemudian menyingkap tangan gw dan kembali mengocoknya. “belom bangun juga? Lama banget, ayo ngentot...ayo entot gw” pinta Shannah. “lo diem aja, punya kontol buat dientot ga?” kata Shannah kemudian dengan mata beler ke arah bli. “Ada, buka aja” jawab bli tenang. Shannah kemudian berbalik ke bli, ia duduk di bibir kasur sambil telaten membuka sabuk, kancing, dan resleting. Shannah menurunkan celana bli dan penis terpampang menjulang keluar. ia langsung mengulumnya.


    Gw masi terperangah, aneh pemandangan ini. “ahh ayoo entot gw” kata Shannah smabil melepaskan kulumannya. “ga di sini, ayo” jawab bli santai. “santai aja bli, kalo mau di sini, silahkan” tambah gw yang penasaran. “gapapa nih mas?” bli nanya meminta persetujuan. Gw hanya menjawab dengan anggukan. Bli kemudian memposisikan Shannah menungging di bibir kasur. Bli kemudian memegang penisnya, menggesek sebentar di bibir vagina Shannah, ia kemudian mencengkram bokong Shannah dan langsung menghentakkan penisnya masuk. “mmppffffhh”, mata Shannah tertutup, lidahnya seperti menikmati hidangan yang sangat lezat.


    Gw yang malah ga biasa ama keadaan ini ngerasa awkward. Akhirnya gw bangkit dan berjalan ke toilet. “sering bli?” tanya gw dari dalam toilet. “sy ngentotin dia apa dianya ngentot mas?” jawab bli di tengah permainannya. “yah dua duanya lah” jawab gw. gw bisa denger shannah melenguh kencang dan suara kasur yang mengerat akibat permainan mereka. “kalo dia mah tiap malem kali mas, kadang ama temennya, kadang 3some, kadang bawa orang masuk kamar, yah hobi kali mas ngentot” jawab beli dengan suara yang sedikit mendesah. “kalo bli sendiri, udah berapa kali ngentotin dia?” tanya gw lagi sambil kencing, agak nyeri euy. “beberapa kali lah mas, di office dua kali, sekali ama temen, diajak 3some di kamarnya sekali, ama ini..ahh” jawab bli sambil mendesah.


    “keluar di dalem?” tanya gw yang udah berpakaian lengkap dan keluar dari kamar mandi. Gw melihat skrg Shannah udah tidur telentang, kakinya ditaro di bahu bli. “selalu mas, kata temennya sih gapapa, dia selalu minum pil, tau dah nih kalo ampe hamil anaknya bakal kaya orang mana” jawab bli sambil bergoyang di bibir ranjang. “bli sy keluar dulu ya, pake aja kamarnya tp jangan kelamaan, takut cewek sy liat gaenak kan” gw pamit ama bli sambil make kaos kaki dan sepatu. “gapapaa ni mas? Yauda, abis satu ronde ini sy bawa dia ke kamar, kunci nanti di office aja ya mas?” jawab bli santai seperti ngobrol biasa, tangannya memeras kedua dada Shannah. “yaudah gampang lah,” jawab gw sekenanya. Kasur berbunyi makin kencang, Shannah melenguh makin lantang, bli mempercepat gerakan memompanya sementara gw berjalan keluar dari kamar.


    Lumayan lama gw jalan di sekitar legian sambil nelpon devina dan oni, ga ada yang ngangkat. Lumayan banyak juga kan gogo bar di sini. Akhirnya gw liat pho, duduk di salah satu bar dengan pole di tengahnya. Samar-samar gw liat juga Pierre lg ngobrol sambil ngerangkul oni. Ok i find them! Gw masuk dan langsung menyeruak di antara drunken oz yang lagi nari-nari aneh (i cant even say it dance actually). Sekilas gw kaya liat devina lg nari dikerumuni drunken oz (lagi). “kemana aja lo?” tanya pierre sambil masih tetap merangkul oni, sementara pho duduk di samping oni. “ketiduran di kamar, hehe” jawab gw sekenanya sambil duduk. Pierre langsung menawari gw bir yang (katanya) belom diminum. Pierre kemudian bangkit dan pergi entah kemana. “kami nunggu lo lho pol” kata Pho tetiba. Kemudian ya gw ngobrol sekenanya karena jujur dentumannya gede banget ampe suara susah didenger. Gw duduk bersandar, tangan gw merangkul bahu Pho, setelah beberapa tegukan bir, suasana mulai cair, candaan mulai hadir lagi. Pho perlahan menyandarkan kepalanya di bahu gw.


    “oke karena lo udah dateng, ayo pesta” tetiba Pierre datang, membawa satu pitcher minuman entah apa. ia kemudian duduk di samping oni. Kursi kami semacam setengah persegi, dengan posisi Pierre, oni, Pho, gw. gw dan pierre sendiri jadinya berhadapan. Ga lama kemudian waiter dateng, bawa satu pitcher lagi minuman yang berbeda. Setelah icip-icip kayaknya sih long island dan illusion. Pierre menuang salah satu pitcher ke dalam gelas gemuk (kayaknya bekas welcome drink or something), “lo pasti gabisa ngabisin ini sekali teguk”, tantang pierre ke oni. Gw jg nuang minuman yang satunya ke gelas gemuk yang masih kosong. “lo mau kalah ama lokal?” tantang gw ke Pho.”kenapa ga kalian yang minum duluan kalo berani?” tantang pho balik ke gw dan Pierre. “kami laki, gausah campuran, vodka segelas pun bisa sekali teguk, iya ga?” jawab Pierre sambil liat gw, gw membalas dengan anggukan. oni mengambil gelasnya, “gw bisa lebih cepet dari lo” tantang oni ke Pho. Seperti tertantang, Pho juga meraih gelasnya. “oke, 3 babak, siapa lebi cepet dapet minuman spesial dari gw” tantang Pierre. Hitungan ketiga mereka mulai menenggak minuman, oni lebih cepat menghabiskan.


    “lo curang, pasti karena minumannya lebih sedikit alkohol” tangkas Pho ga terima. Ronde dua minuman dituker, dan kali ini Pho lebih cepat. “wooo tiebreak” teriak Pierre. “bikin 5 ronde, dua berikutnya minuman yang sama gimana? Biar adil” tantang gw. dan mereka bertiga mengiyakan. Ronde ketiga dengan long island, kembali pho menang. Dan ronde keempat dengan illusion, minuman yang bikin mereka kalah di dua ronde pertama. Kali ini oni menang. “kan, bukan minuman, lo yang lambat” tangkas oni sambil berusaha menyombong. “tiebreak, lagi!” seru Pierre. Tetiba pelayan datang membawakan sebuah botol. “my prize has come!” teriak Pierre. “okeh, penentuan, siapapun yang menang, bawa pulang botol” tambah pierre sambil menuang minuman ke gelas. “Dry gin 45%, gila juga ni bule”, pikir gw. gw ama Pierre seperti uda satu pemikiran buat bikin ni dua cewek mabok.


    “katanya cowok bisa murni segelas langsung, buktiin” kata pho nantang. Pierre kemudian menyerahkan gelas yang udah dituang ke gw. kami mengangkat gelas tersebut dan cheers, lalu meminumnya. Pierre hanya mengisi seperempat gelas, tapi tanpa pemanasan tetep aja liquornya berassa banget. Kami menghabiskan minuman tersebut bersamaan. “ok giliran kalian” kata Pierre sambil menuang gin ke gelas. Kali ini Pierre menuang hingga nyaris penuh. “banyak banget, td kalian Cuma setengah” kritik oni. “lah td kami kan buktiin, gda prizenya, kalian lomba ada hadiahnya, ya beda” jawab gw sambil cengengesan. Aba-aba Pierre mereka langsung menenggak gin tersebut. Pho nyaris tersedak yang praktis membuatnya kalah. Di atas angin, ketika selesai oni langsung menaruh gelasnya terbalik bukti tidak ada minuman yang tersisa di gelas. “menaang!” teriak oni. “kek yang gw bilang, this bottle is yours” jawab Pierre sambil menyerahkan botol ke oni. Ketika oni ingin mengambil, Pierre menarik tangannya, “peluk dulu” canda Pierre. oni langsung memeluk pierre. Di tengah pelukannya, Pierre menengok ke gw, menyentuh bibirnya dengan jari, memberi kode minta izin mencium oni. Gw hanya mengangguk sambil mengambil pitcher. “selamat oni” kata pierre kemudian langsung mencium oni. Ga ada penolakan dari oni, yang kemudian mereka berciuman sambil tetap berpelukan. Sementara gw bengong liat mereka sambil menyeruput minuman. “kering banget, mulut gw kering, minta minumnyaa” kata pho tetiba menarik pitcher yang gw pegang. Pitchernya gagal ditarik dan malah gw taro ke meja. “kering? Sini gw basahin” jawab gw sambil tangan gw merangkul pinggang pho dan menariknya. Bibir kami bertautan. Pho langsung melumat bibir gw, lidahnya langsung menari liar di dalam mulut gw.


    Agak lama kami berciuman, gw mencuri pandang ke Pierre, yang ternyata oni udah duduk di pangkuan Pierre, saling berhadapan tapi kepalanya menengadah. Berarti mereka ga lagi ciuman. Hmm pierre lg maenin dada oni kayaknya. Ga mau kalah, gw melepas ciuman kami, mata pho udah sayu-sayu-sange. Gw langsung mengarahkan kepala ke lehernya, dan mulai menjilati dari telinga turun ke lehernya. Seperti membantu, Pho menarik rambutnya agar gw lebih gampang. Dengan tetiba tangan kiri gw langsung mencubit area puting Pho. Dapet serangan ga terduga, pho melenguh dan langsung memeluk gw erat. Pelukan ini mengunci tangan gw di dadanya, akhirnya gw remas-remas lah dada pho yang membuat dia menggelinjang dan melenguh tepat di kuping gw.


    “ayo pulang” seru Pierre tetiba dalam bahasa perancis. Ya beberapa kali Pierre ngomong make bahasa perancis ke gw biar gadis ini ga ngerti apa yang kami bicarakan. Ada untungnya juga abis SMA belajar perancis masih lanjut les les terus, wkwkwkwk. Gw hanya mengangguk tp tetep meremas dada Pho. Tangan gw kemudian bergerilya turun masuk ke dalam bajunya, bra pho ini bawahnya ga ada kawatnya, asik sih jadi gampang. Langsung tangan gw masuk ke balik branya dan memilin putingnya. Pho mendesah di kuping gw, ngebuat suasana makin hot. Sekilas gw liat bouncer udah mandang-mandang ke meja kami, agak gaenak jg jadinya, akhirnya gw menghentikan permainan. “kepala gw pusing, musiknya terlalu bising, ayo pulang” teriak Pierre mengajak cewek-cewek pulang. Gw bangkit nyari devina (hampir gw lupa kalo devina ikut juga). As expected, nyari devina itu gampang, gw cari kerumunan drunken oz dan menemukan devina dan seorang gadis lain, dikelilingi drunken oz.

    Seorang pria memeluknya dari belakang dengan posisi kedua tangannya ada di dada devina, sementara bokong devina bergoyang menggesek-gesek celana pria tersebut. Mata devina udah sayu, mungkin dicekoki minum terus ama drunken oz, karena beberapa orang di sana bawa pitcher dan botol bir. Agak kepikiran juga oni harus jagain orang yang gamau jaga badannya sendiri. Gw menyeruak masuk dan menarik devina. “my daarl... kenaliin temen aku” kata devina dengan nada yang uda ga jelas. Laki yang lagi meluk devina sempet marah, “this is my girl, stay away!” (ini gaenak kalo ditranslate ke indo). Laki itu sempet marah-marah karena sepertinya dia yang paling mabok. Tapi satu cewek lain di kerumunan itu langsung memeluk dan mencium untuk menenangkan, entah gw ga denger jelas mereka ngomong apa.


    Susah payah kami membopong cewek-cewek mabok yang jalan aja udah ga lurus. Dengan posisi Pho, pierre, devina, gw, oni. Gw dan pierre memapah devina yang maboknya paling parah. Sampe hostel gw liat bli yang tadi uda berdiri di balik meja depan. “udah bli?” tanya gw becanda. “udah mas, udah rapi, ini kunci kamarnya” kata bli senyum-senyum sambil ngasih kunci kamar gw. kami memapah devina untuk langsung tidur di kamar, devina masih berceloteh ga jelas sebenernya. oni juga malah tiduran di kasur satunya. Gw langsung membangunkan oni, “kata siapa selesai?hadiah lo ntar basi kalo didiemin” kata gw sambil menarik tangan oni agar bangun. Sempoyongan oni berjalan keluar, menuju kamar Pierre dan Pho.

    Part. VI: swing and (not) a miss

     Di kamar pierre, kami duduk melingkar di bawah. Kamar pierre hanya memiliki satu kasur double, jadi lumayan banyak space buat duduk, walau ada dua keril besar yang cukup ganggu. Kami ngobrol yang sebenernya ngalor ngidul ga jelas dan ga nyambung. 15 menit berselang, seperti kehabisan obrolan, atau ada rencana terselubung, Pierre kembali mengajak bermain. “jangan lomba minum lagi, sayang minumnyaa” celoteh oni. Pierre beranjak ngambil sesuatu, gw sendiri bangun buat numpang kencing. Di deket kamar mandi pierre tetiba bilang “let say,malam ini makin liar, gw bole ngentotin pacar lo?” gw agak bingung mau jawab apa sebenernya. “dia bukan pacar gw dibilang” jawab gw simpel. “oke oke, siapapun dia, bole gw ngentotin oni?” tanya pierre lagi. “can i fuck yours?” tanya gw balik. “oke aja kalo pho mau” jawab pierre simpel. “yaudah sama” gw jg mengiyakan.


    Kemudian pierre balik ke kerumunan, ngeluarin kartu, awalnya mau main poker, mungkin sok sokan strip poker atau apa, tapi di game pertama semua udah kacau, 2 orang cewek ini udh terlalu mabok buat bisa mikir main poker. Akhirnya Pierre ngasih ide buat mainan gampang tapi hukumannya susah. Posisi kami membentuk segiempat, Pierre dan pho berhadapan, di kiri pierre, gw dan oni berhadapan.


    “gw kocok kartunya, ambil satu ketutup, tebak ini kartu hitam atau merah, gimana?” ide Pierre simpel tapi efektif sih. Karena kemungkinan Cuma dua, akhirnya kita bikin tim, laki dan cewek. Entah ide darimana mereka setuju. Rulesnya yang pertama nyebut item atau merah, tim sisanya dapet pilihan lain, tim yang kalah one shot. Beberapa kali kami juga kalah dan minum. Makin lama suasana makin panas, dan malah kembung. “gimana kalo strip? kalah buka selembar pakaian kalian” ide Pierre tetiba, gw udah senyum-senyum aja ngebayangin. oni menolak, tapi dipanasi oleh pho, dan pierre, “baju kalian lebih banyak, nyawa gw Cuma tiga, kaos, celana, CD” timpal pierre. oni masih menolak. akhirnya oni setuju dengan setelah dipanas-panasi. “tapi yang kalah gaboleh buka sendiri, harus dibukain ama yang menang, ok?” tanya pierre sambil mengocok kartu. Kami bertiga saling berpandangan dan kemudian setuju aja.


    Pierre mengocok kemudian melempar satu kartu tertutup dan langsung berteriak “hitam”, dibuka ternyata merah. Giliran pertama kami langsung buka baju. Gw nyeletuk “sembarangan aja tereak”, pierre melirik ke gw, tersenyum dan jawab “kasi kesempatan sebelum mereka telanjang”. Gw udah mengendus kepicikan, dan gw hanya membalas senyum aja. Karena posisi kami, pho lebih gampang buka baju gw dan oni buka baju pierre. Giliran kedua, pierre masih berteriak kartu yang salah. Dan gw langsung tiduran. Pho merangkak hingga kepalanya berada di perut gw. tangannya menggerayangi, berusaha menbuka sabuk dan kancing celana gw dengan mata yang sayu-sayu-sange menatap gw. gw ga liat gimana pierre dan oni saat itu. ternyata strip game itu cepet ya, bentaran telanjang, ga seasik yang diliat di porn, hahaha.


    Pho merasa di atas angin, begitu pula oni yang uda ketawa-ketawa ngerasa menang. Gw dan Pierre Cuma make boxer sekarang. Pierre mengocok kartu lagi, berbeda dengan sebelumnya, pas ngambil, dia sengaja memiringkan kartu yang ngebuat gw sebentar liat kartu apa itu. “Merah!” teriak gw begitu pierre menaruh kartu di lantai. Pho cekikan, “kita masih lengkap mereka abis ini telanjang”. Ketika pierre mau membuka kartu, tangan oni menahan tangan Pierre, “kalo abis ini kalian kalah, mau ngapain lagi? Udah gda yang dibuka” tanya oni merasa sudah di puncak. Gw dan pierre berpandangan. “kalian bisa nantang kami, gimana?” tantang pierre balik yang diikuti oleh anggukan Pho dan oni.


    Kartu dibalik, merah! Pho dan oni agak kaget. Gw ama pierre langsung bergerak ke arah pho dan oni. Pho dengan pasrahnya mengangkat kedua tangannya.gw memegang kaos pho dan mulai menariknya ke atas, sengaja gw posisikan jempol gw menyentuh dada pho. “ssshhh, nakal” desah pho pelan. Kami kembali ke posisi masing-masing. oni nampak masih ga nyaman hanya mengenakan bra tanpa baju, sedang pho kek udah biasa, cuek aja. Kartu diambil tertutup. Pierre langsung teriak “hitam”, dan dibuka benar hitam. Ketika kami ingin membuka, oni nampak ga nyaman. Okeh pierre dan gw bertukar posisi. Gw membuka celana oni sedangkan pierre membuka celana pho. Perlahan gw lepas kancingnya dan gw turunkan resletingnya. Ketika menurunkan perlahan celan, gw colek vagina oni dari luar celana dalam. “sshh poool” oni mendesah, matanya nampak tajam marah tapi nagih. “udah basah nih?” celetuk gw. kelar membuka, gw lempar gitu aja celana oni. Dan gw liat Pho berdiri, menggunakan celana dalam biru muda yang benar-benar mini, bukan gstring tapi bagian sampingnya benar-benar tipis. Gw terbelalak ampe wapol.jr berontak dalem sempak.


    “curang, gantian gw yang ngocok”, kata oni. Gw ama pierre deg-degan juga nih, nyawa kami tinggal satu. “merah” kata gw pasrah. Suprisingly kami bener lagi! oni nampak pasrah. Kami posisikan oni dan pho berhadapan, sedang gw dan pierre di belakang berlutut, melepaskan kait bra mereka. Kali ini Pho yang nampak ga nyaman. Ia menyilangkan tangannya di dadanya ketika pierre berusaha menurunkan bra pho. Sementara gw masih menyaksikan adegan ini dan malah diem. “gimana aku bisa buka kalo ada tangan kamu di situ sweety?” bisik pierre pelan ke pho. “aku malu” jawba pho dengan wajah tertunduk. Pierra duduk dengan kaki menyilang mengapit pho. “liat aku” bisik pierre sambil tangannya menaikan dagu pho. Pierre langsung mencium pho. Tangannya menyilang di perut pho. Tangan pho mulai melemas dan turun memegang jemari pierre. Pierre langsung memegang jemari pho. Tali bra yang sudah menjuntai di depan makin menurun. Pho pasrah, pierre langsung menurunkan bra pho. Dan nampaklah dada pho membusung menantang dengan puting berwarna pink cerah, yah untuk orang seputih pho, putingnya wajar kalo pink. Pierre menggenggam tangan pho di perut, sehingga gw bisa bebas menikmati pemandangan dada pho.


    Sejenak fokus gw ilang, gw turunkan bra oni dan langsung duduk seperti pierre. Gw langsung menjilati leher oni. Ia mendesah pelan. Tangan gw langsung meremas kedua dada oni dan memilin putingnya. “aaahhhhhh” oni melenguh cukup kencang, diiringi dengan lenguhan pho yang tak kalah kencang. Tangan kanan gw beranjak turun, menyelinap ke balik cd oni. Vaginanya sudah sangat basah. Perlahan gw turunkan celananya, ga ada perlawanan. Kami sudah melupakan game tadi dan lebih fokus pada masing-masing pasangan. oni bahkan membantu menurunkan celananya. Jari gw bergoyang di bibir vagina oni. Dan perlahan jari tengah gw masuk ke lobang vaginanya. oni membusung, tangan kiri gw langsung menekan dan memutar kedua puting oni. “aaahhhhhhhhh” oni melenguh makin kencang. Makin cepat jari gw mengocok vagina oni.


    “fuck me..fuck me...” bisik oni lirih. “wapol.jr masih kering banget, sepongin dulu sayang” pinta gw. oni bangkit, ia langsung berbalik, mendorong gw agar tidur dan langsung menurunkan boxer gw. wapol.jr sudah berdiri tegak menanti babak ke sekian hari ini. oni yang mulanya berlutut langsung mengocok wapol.jr, lidahnya langsung menjilati kepala wapol.jr, ga lama berselang wapol.jr sudah masuk ke dalam mulut oni. oni mengulum dengan sekarang posisi menungging ke arah pho. Gw yakin vagina basah oni jd objek yang bagus buat Pierre. Kepala gw berusaha bangkit liat keadaan, gw liat pierre memeluk Pho di pangkuannya, pho sudah menghadap pierre. Dua celana bergeletakan di samping mereka. Jadi mereka udah telanjang juga. Mata pierre sedikit terbelalak melihat vagina oni yang terpampang jelas. Pierre melepaskan ciumannya, ia memposisikan tubuhnya sedekat mungkin dengan oni. Tangan kanannya bergerak menuju vagina oni. Satu momen oni seperti melonjak kaget sambil merapatkan kakinya, ingin melepaskan kulumannya, tapi tangan gw menahan kepala oni, tangan kiri gw langsung meremas dada oni, dan bokong gw bergerak memompa wapol.jr di dalam mulut oni. Dari gerakan lengannya, sepertinya pierre menggosok vagina oni perlahan dan makin cepat. “hhggghhhhh” oni membuat suara seperti orang kerasukan di tengah kulumannya. Gw liat oni kembali melebarkan kakinya dan tangan pierre masih di vagina oni.


    Pierre masih terus menjilati dada pho sambil tangannya memainkan vagina oni, sementara oni membuat suara yang makin liar, dan mempercepat gerakannya. Pierre berbisik sebentar pada Pho, dan kemudian pho bangkit. Pierre juga bangkit dan bergerak ke arah oni. Gw lihat penis pierre sdudah berdiri tegak. Agak jiper juga liatnya, panjang bener. Ga besar diameter, tapi panjang. Pierre memegang penisnya, menggesekannya di bibir vagina oni. “may i?” ijin pierre terlebih dahulu ke gw. gw hanya mengangguk. oni pun terlihat tdak melawan ketika pierre menggesek-gesekan penisnya di bibir vagina oni. Badan pierre sedikit condong, kemudian tangannya meremas kedua dada oni, kemudian bergerak pelan menuju bokong oni. Kedua tangannya membelah bokong oni agar lebih mudah. Sesaat kemudian badan oni terhentak,”hhhhaaaaaaaahhhh” oni melepaskan kulumannya, matanya memandang tajam ke atas dan nampak sudah sangat sange. Sesaat kemudian ia kembali memasukan wapol.jr ke dalam mulutnya. Pierre terlihat bergerak pelan. Butuh waktu untuk nyesuain pola gerakan.


    “mhhh...mhhh...mhhh” oni melenguh liar seperti orang kesurupan. Vaginanya dipenuhi oleh penis pierre, mulutnya dipenuhi oleh wapol.jr, dan kedua dadanya gw remas makin kencang. Mata gw melirik ke Pho yang ditinggal pierre. Ia masih duduk melihat kami bertiga 3some. Tangan kirinya mengocok vaginanya sendiri dan tangan kanannya memainkan dadanya. Vagina Pho ini bener-bener pink tanpa bulu sama sekali dan ada tattoo seperti kupu-kupu atau pita tepat di atas vaginanya. bener-bener menggoda. Gw melepaskan tangan gw dari dada oni, dan mengisyaratkan Pho datang ke gw. pho seperti paham dan langsung merangkak ke arah gw. langsung gw lingkarkan tangan kiri gw ke leher belakang pho, menariknya dan langsung melumat bibirnya. Untungnya pho ga terlalu tinggi. tangan gw beranjak dari leher, turun ke dadanya yang menggantung liar, meremas sebentar. Ciuman pho sudah sangat liar. Lidahnya liar berkeliaran di mulut gw. dari dada, tangan gw turun berusaha meraih vaginanya. langsung gw mainkan klitorisnya. “hhhuaaahhh” Pho melepaskan ciuman kami dan langsung melenguh. Gw kemudian memasukan jari gw ke lobang vaginanya dan langsung mengocoknya cepat. Pho melenguh cempreng diiringi lenguhan oni yang tersumpal wapol.jr.


    Tetiba pho beranjak, ia melangkahkan kakinya jadi duduk berlutut di atas gw, kemudian bergerak maju memposisikan bibir vaginanya berada di atas mulut gw. gw langsung menjilati vagina pho sambil tangan gw meremas kedua dadanya. Pho bergerak maju mundur, tubuhnya membusung, tangannya bertopang di pinggang gw, tepat di mengapit kepala oni yang masih asik mengulum penis gw. rasa yang luar biasa, penis gw dikulum liar, terasa hangat, dan mulut gw sibuk memainkan vagina pho yang sudah sangat becek, Asin asin asik. Ruangan ini berisik penuh lenguhan. Pierre melenguh, oni melenguh, pho melenguh paling kencang. Gw sendiri sedikit melenguh keenakan dengan permainan ini sambil lidah sibuuk menjilati lobang dan klitoris pho.


    5 menit berselang, “phuaaah...ahhh...ahhh” oni melepaskan kulumannya dan melenguh liar. Tangannya mengocok kencang wapol.jr. tangan gw kemudian mendorong pho mundur sambil berusaha bangkit. Pho seperti paham. Kakinya yang semula berlutut, kini melingkar ke punggung gw. gw duduk, memeluk pho sambil memposisikan wapol.jr di bibir vagina pho. Ga serta merta masukin. Gw buat wapol.jr seperti dijepit bibir vagina pho, seperti hotdog, dan bergoyang maju mundur perlahan. Gw memeluk pho erat, membuat kepala gw tepat berada di antara dadanya. Gw jilati kedua dadanya bergantian. Kemudian menggigit kecil putingnya. “aaahahhhhhhhhhh” pho menggelinjang. “stop torturing me” kata pho kemudian. “gw ga nyiksa lo kok” jawab gw santai sambil terus bergoyang. “yes you are, ahhh...ahhh... fuck...me... very...pleeaaseee...ahhh” pinta pho memelas dengan wajah yang sudah sangat horny.


    Gw turunkan pelukan gw dari punggungnya menuju bokongnya, angkat sedikit, dan bless, wapol.jr melesat ke dalam vagina pho. “aahhhhh yeeeessss.....” seperti orang kehausan yang diberi air, pho benar-benar menikmati ketika wapol.jr menghujam masuk vaginanya. ga nunggu lama pho langsung bergerak naik turun. “mmmm...mmmm” pho melenguh seperti orang yang keenakan menyantap makanan. Gw memendam kepala gw di tengah dada pho. Menjepit dadanya dengan kedua tangan gw. beberapa detik gw membayangkan gw lg ngentotin devina karena ukuran dada pho hampir sama dengan devina, dan lenguhan pho yang cempreng juga mirip suara cempreng devina.


    Puas memainkan kedua dada pho, gw melempar badan gw ke lantai, menikmati pho yang bergoyang liar di atas gw. dadanya melompat-lompat liar seiring dengan gerakannya, tatto kupu-kupu dengan pita di sisi kanan atas vagina pho bener-bener menarik perhatian gw, ujung pita yang menjuntai sangat dekat dengan bibir vagina pho.sambil terus bergerak, Pho meremas dadanya sendiri, gemes gw remes jg akhirnya kedua dadanya. Pho kini bergerak maju mundur. “aahhh ahhh ahhh” sambil terus melenguh pho meracau menggunakan bahasa yang gw ga tau, thai mungkin. 5 menit berselang, tubuh pho bergidik, ia mempercepat pola maju mundurnya, “ahhhh...coomeee” desah pho lirih, gw langsung menekan wapol.jr., bisa gw rasakan otot vagina pho berdenyut, dan semburan lava hangat menyeruak, membasahi wapol.jr. pho tumbang, gw langsung menangkap dan menciumnya. Sembari bokong pho perlahan bergoyang, ia berbisik “ke kasur yuk”.


    Gw kemudian berusaha bangkit, dan wapol.jr terpaksa keluar dari lembah nikmatnya. Pho nyaris tak mampu berdiri, ia begitu lunglai. Dengan sisa-sisa tenaga ia berjalan menuju kasur. Naik dari sisi samping kasur, dan menungging gitu aja. Gw pun bangkit, berjalan menuju kasur. Nampak cairan vagina pho masih meleleh keluar dari lobang vaginanya yang sedikit menganga. Wapol.jr yang sudah berdiri tegak, siap kembali bertempur. Gw pegang pangkal wapol.jr, mencoba menggesek-gesek di bibir vagina pho. “mmmhh..mhhh” pho sedikit melenguh menikmati bibir vaginanya dimainkan. Gw posisikan kepala wapol.jr ke lobang vaginanya, sedikit ditekan masuk. Beberapa cm kepala wapol.jr sudah masuk diiringi lenguhan pho. Memastikan posisi wapol.jr sudah tepat, gw mencengkram bokong pho, dan dengan sepenuh hati, *blesss* gw dorong masuk seluruh wapol.jr. “aaaaaahhhhhhhhh...sshhhhh” pho berteriak keenakan. Lanngsung gw pompa dengan kecepatan tinggi. posisi gw yang berdiri membuat gerakan gw lebih mudah.


    Tak lama berselang, di samping gw tetiba oni melempar dirinya tidur telentang. Dilanjutkan pierre datang. Kaki oni langsung terangkat ke atas, melingkar ke leher pierre. “lagi,...masukin lagi” pinta oni manja. Pierre tersenyum sambil jarinya menepuk-nepukkan penisnya di bibir vagina oni. Tak lama memainkan vagina oni, pierre kemudian mulai perlahan memendamkan penisnya ke vagina oni. “a.a.a.a.a.a.aaaahhh” oni melenguh terbata ketika perlahan penis pierre memasuki vaginanya. kami mempercepat goyangan kami, diiringi suara lenguhan pho dan oni. Di tengah permainan, oni nampak meremas-remas dadanya sendiri. Pho melihat hal tersebut, dan ia bergerak perlahan memposisikan tubuhnya mendekati oni. Kemudian ia bertopang dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya bergerak meremas dada oni. “aahhhhhh” mendapat rangsangan lebih, oni melenguh semakin kencang. Tak mau kalah, tangan oni yang kini bebas, meremas dada pho yang menggantung bergoyang liar. Mereka saling meremas dada menambah panas suasana kamar tersebut.


    Gw dan pierre yang sedang asik bergoyang pun sebenernya agak binngung dengan tingkah mereka. Namun kemudian pierre malah memperpanas suasana. “kiss her pho, kiss her” . bukan pho yang merespon, justru oni yang tetiba mendekati pho dan melumat bibirnya. Melihat hal ini gw jadi makin horny, gw percepat goyangan gw sambil meremas bokong pho.


    “mau keluar” lenguh pierre tak lama kemudian. Gw ga terlalu memperhatikan karena emang lagi asik dengan Pho. Sesaat kemudian gw liat oni melepas ciuman panas mereka dan langsung bangkit. Gw ga liat apa yang mereka lakukan, namun tetiba oni menatap gw dengan wajah berlumuran sperma. “hehe poool, belepotaan” kata oni sambil senyum-senyum mabok. Mulai lelah dengan gaya ini, gw cabuft penis gw dari lubang vagina pho, kemudian memposisikannya telentang. Kini posisi kami misionaris. Gw ga peduli apa yang dilakukan pierre dan oni di sebelah, udah terlalu fokus dengan pho. Kaki pho mengangkang sejadinya, membuat vaginanya yang pink merekah menganga lebar dengan tattoo menghiasi bagian atasnya. Begitu menggiurkan. Gw gesekan perlahan wapol.jr di bibir vaginanya, gw tatap tajam pho, wajahnya nampak sayu-sayu-sange. Satu tusukan kencang dan wapol.jr langsung melejit masuk diiringi lenguhan pho yang cukup kencang. Gw langsung bergoyang dengan rpm tinggi sambil melumat bibirnya.


    5 menit berlalu, gw merasakan wapol.jr sudah hampir mencapai batasnya. “mau keluaar, mau keluaaar” teriak pho di tengah lenguhannya. “gw juga” jawab gw sambil terus memompanya. Mendengar hal itu, kaki pho malah melingkar ke punggung gw, mengunci posisi kami. “shh...ahhh...keluar bareng, keluarin di dalem” pinta pho. Saat itu entah kenapa gw ga ada rasa takut kalo ni orang punya bayi gw, malah gw pompa makin cepat, pho pun bergoyang sambil melenguh makin kencang. Tak lama berselang tubuhnya bergidik, lalu membusung. “aaahhhhhhhhhh” dan gw rasakan wapol.jr seperti dihujani cairan hangat, membuat wapol.jr ga tahan lagi untuk nahan, gw pun membusung, “keluaaaar” *croot croot croot* dan wapol.jr membalas dengan 5 semburan bersarang langsung ke dalam vagina pho. Kami berpelukan. Gw kemudian mencium pho, melumat kembali bibirnya dengan posisi penis gw masih di dalam vagina pho yang masih berdenyut perlahan.


    “you’re great” puji pho dengan senyuman manis, selepas kami berciuman. Gw bangkit dan mencabut penis gw. lava putih meleleh keluar dari lobang vagina pho yang menganga seperti galian bekas tambang. Vaginanya terlihat masih terus berdenyut memuntahkan cairan vagina yang bercampur sperma. Gw lihat di sebelah pierre sedang menjilati dada oni sambil jemarinya memainkan vagina oni. oni sendiri tidur telentang tak berdaya, hanya lenguhan yang bisa gw denger jelas. Pierre tersadar bahwa gw dan pho telah selesai, ia pun menyudahi permainannya. 15 menit kami merapikan diri, tapi baik pierre maupun pho tak ada yang kembali berpakaian, entah apa maksudnya. Sedikit perbincangan sebelum akhirnya gw memapah oni yang berpakaian seadanya (tidak memakai bra dan CD) kembali ke kamar.


    Di kamar, devina masih tertidur pulas. Gw posisikan oni tidur di sebelah devina. Permainan berturut-turut ini membuat gw lelah luar biasa. Hanya hitungan menit semua tetiba gelap, dan gw tertidur (sangat) pulas.

     
      Posted on : Jul 22, 2024
     

     
    Add Comment




    Contact us - FAQ - ASACP - DMCA - Privacy Policy - Terms of Service - 2257



    Served by site-7dcbc9b7d8-pjmpm
    Generated 06:42:34